Skip navigation

Monthly Archives: Juli 2009

Perwira S*, Fazriany N*, Irfansyah*, Husna CA*, Milya V*, Andalas M** Department of obstetric and gynecology Faculty of medicine Syiah Kuala University/ General hospital Zainoel Abidin, Banda Aceh Abstract

A 35-years-old mugltiravida (G3P2Ab0) at 39 weeks of gestation with history of hypertension was admitted in Rumah Sakit umum Zainoel Abidin with eclampsia. Convulsions occurred in the whole body, and convulsions have occurred 3 times before. Length of a convulsion is approximately 3-4 minutes and patient came in apathetic condition. According to the patient’s family, the convulsions had never happened in pregnancies before. On this pregnancy, the patient had complained about feeling dizzy, sore shoulders and since yesterday her vision has blurred. According to family history, High blood pressure have been previously approved since the second pregnancy until now. On admission the blood pressure was 190/140 mmhg, dipstic urine revealed proteinuria (+2), edema anasarka, respiratory distress and deteriorating consciousness. The heart and lung sound were clear and there were no murmurs. On Obstetic examination revealed fetal with normal presentation, fundus uteri length 32 cm and fetal heart rate 185x/minute. The patient had adecuatly his, her cervix was 4 cm dilated and partially effaced on vaginal examination. The laboratory data were as follow Haemoglobin 12,8 gr/dl, haematocrite 43 %, leucocyt 17.800/uL and Trombocyt 150.000/uL. Patient was diagnosed as super imposed eclampsia with aterm gestation. The patient was thus given intravenous magnesium sulphate and perdipine as treatment of eclampsia. The patient then brought to the Intensive Care Unit. She went into spontaneous labour and had Normal vaginal delivery with oxytocin induction. Four hour after admitted she was delivered the baby. The birth weight of the child was 1900g, It was female and the 1 minute apgar score was 5. At this time she had vaginal bleeding of approximately 800 ml on 20 minutes. She had post partum haemorrghae primer e/c atonia uteri. She was administered oxytocin, methergin, misoprostol tab, cristaloid and coloid. Endotracheal intubation was performed but oxygen saturation rapidly fell despite giving 100% oxygen. Cardiopulmonary resuscitation was done but was unsuccessful. The patient died 7 hours after admitted with multi organ failure being the probable cause of death.

Keyword : eclampsia, epigastric pain, blur eye, multi organ failure

*Clinical Internship Students. Department of Obstetric and Gynecology General Hospital Zainal Abidin, Banda Aceh

**Chairman of Obstetric and Gynecology Department, General Hospital Zainal ABidin, Banda Aceh

Perwira S, Fazriany N, Irfansyah, Husna CA, Milya V
Department of obstetric and gynecology Faculty of medicine Syiah Kuala University/
General hospital Zainoel Abidin, Banda Aceh

Abstract
A 35-year-old mugltiravida (G3P2Ab0) at 39 weeks of gestation with history of hypertension was admitted in Rumah Sakit umum Zainoel Abidin with eclampsia. A few day before admitted she felt epigastric pain and blur eye. On admission the blood pressure was 190/140 mmhg, dipstic urine revealed proteinuria (+2), edema anasarka, respiratory distress and deteriorating consciousness. The heart and lung sound were clear and there were no murmurs. On Obstetic examination revealed fetal with normal presentation, fundus uteri length 32 cm and fetal heart rate 185x/minute. The patient had adecuatly his, her cervix was 4 cm dilated and partially effaced on vaginal examination. The laboratory data were as follow Haemoglobin 12,8 gr/dl, haematocrite 43 %, leucocyt 17.800/uL and Trombocyt 150.000/uL. Patient was diagnosed as super imposed eclampsia with aterm gestation. The patient was thus given intravenous magnesium sulphate and perdipine as treatment of eclampsia.
On the same day, she went into spontaneous labour and had Normal vaginal delivery with oxytocin induction. Four hour after admitted she was delivered the baby. The birth weight of the child was 1900g, it was female and the 1 minute apgar score was 5. At this time she had vaginal bleeding of approximately 800 ml on 20 minutes. She had post partum haemorrghae primer e/c atonia uteri. She was administered oxytocin, methergin, misoprostol tab, cristaloid and coloid. Endotracheal intubation was performed but oxygen saturation rapidly fell despite giving 100% oxygen. Cardiopulmonary resuscitation was done but was unsuccessful. The patient died 7 hours after admitted with multi organ failure being the probable cause of death.

Keyword : eclampsia, epigastric pain, blur eye, multi organ failure

Kejang hamil, deteksi awal dan kematian ibu (suatu studi kasus)

Kasus
Pasien wanita berusia 34 tahun dengan kehamilan ke tiga dan cukup bulan 39 minggu dikirim dari Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Zainal Abidin pukul 10.30 WIB tanggal 14 mei 2009 dengan keluhan kejang. Kejang terjadi pada seluruh tubuh dan kejang sudah terjadi sebelumnya sebanyak 3 kali. Lamanya kejang sekitar 3-4 menit yang kemudian pasien tidak sadarkan diri. Pasien sendiri saat datang dalam keadaan apatis. Menurut keluarga pasien, pada kehamilan sebelumnya tidak pernah terjadi kejang. Pada kehamilan ini, pasien pernah mengeluhkan rasa pusing, nyeri ulu hati, sakit pinggang, sejak kemarin penglihatan terasa kabur. Tekanan darah tinggi pernah ada sebelumnya diakui oleh keluarga sejak kehamilan kedua hingga sekarang. Penderita sering mengaku merasakan gerakan anaknya. Hari pertama haid terakhir tanggal 18 agustus 2008. Selama kehamilannya penderita memeriksa kehamilannya ke dokter spesialis secara teratur, terakhir sekitar 1 minggu SMRS. Pemeriksaan USG sudah pernah dilakukan. Selama pemeriksaan kehamilan dikatakan keadaan janinnya sehat dan tekanan darahnya diatas 140 sampai 150, setelah dirawat 6 jam di ruang Intensif care unit(ICU), bayi lahir normal dan ibu eninggal karena kegagalan multi organ.
Kata kunci : kejang hamil, kegagalan multi organ, pandangan kabur, nyeri ulu hati.
(Satria Perwira, Neta Fazriany, Irfansyah, Cut Asmaul Husna & Vira Milya)*
Pembimbing: dr.H.Mohd. Andalas, SpOG

* Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNSYIAH tugas profesi
** Menjalani KKS di bagian Obstetri/Ginekologi stase kamar bersalin RSUZA

I.PENDAHULUAN
Di dunia ini setiap menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dengan kehamilan dan persalinan. Dengan kata lain, 1.400 perempuan meninggal setiap hari atau lebih dari 500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan persalinan. Di Indonesia, 2 orang ibu meninggal setiap jam karena kehamilan, persalinan dan nifas (Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2002/2003). 1
Preeklampsia merupakan penyakit dalam kehamilan yang ditandai dengan gejala hipertensi, edema dan proteinuria. Eklampsia merupakan kegawat-daruratan obstetri yang morbiditas dan mortalitasnya tinggi bagi ibu dan bayinya. Insidens preeklampsia adalah 7-10 % dari kehamilan dan merupakan penyebab kematian ibu nomor dua di Indonesia. Preeklampsia juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan janin dan kematian janin dalam kandungan (Wignyosastro, 2001.)1,2
Sebagian besar kematian perempuan disebabkan komplikasi karena kehamilan dan persalinan, termasuk perdarahan, infeksi, aborsi tidak aman, tekanan darah tinggi dan persalinan lama. Kematian ibu berkisar antara 9.8% – 25.5% sedangkan kematian bayi lebih tinggi lagi yaitu 42.2%-48.9%. Tingginya angka kematian ini disebabkan karena kurang sempurnanya pengawasan ante natal, keterlambatan datang ke tempat rujukan serta terbatasnya fasilitas serta kemampuan perawatan intensif. Kematian ibu terjadi oleh karena perdarahan otak, gagal jantung, edema paru , gagal ginjal dan berbagai bentuk kegagalan multi organ.1,3,4

II. EKLAMPSIA

Eklampsia adalah pre-eklampsia yang disertai kejang dan atau koma. Kejang dapat terjadi dalam kehamilan, selama persalinan dan pada saat nifas. Kejang dapat terjadi lebih dari satu kali dan berlangsung 60-75 detik dan biasanya disusul dengan koma.. Terminasi kehamilan merupakan terapi pilihan tanpa memandang umur kehamilan. Semua sependapat bahwa tindakan terminasi sebaiknya dilakukan setelah keadaan ibu stabil,4,5,6.

Preeklampsia-eklampsia merupakan kesatuan penyakit yang masih merupakan penyebab utama kematian ibu dan penyebab kematian perinatal tertinggi di Indonesia. Wahdi, dkk (2000) mendapatkan angka kematian ibu akibat preeklampsia/ eklampsia di RSUP Dr. Kariadi Semarang selama tahun 1996-1998 sebanyak 10 kasus (48%). Data ini sebanding dengan dokumen WHO (18 September 1989) yang menyatakan bahwa penyebab langsung kematian terbanyak adalah preeklampsia/eklampsia, perdarahan, infeksi dan penyebab tak langsung adalah anemia, penyakit jantung. Sehingga diagnosis dini preeklampsia yang merupakan pendahuluan eklampsia serta penatalaksanaannya harus diperhatikan dengan seksama. Disamping itu, pemeriksaan antenatal yang teratur dan secara rutin untuk mencari tanda preeklampsia yaitu hipertensi dan proteinuria sangat penting dalam usaha pencegahan, disamping pengendalian faktor-faktor predisposisi lain1.
Frekuensi preeklampsia untuk tiap negara berbeda-beda karena banyak faktor yang mempengaruhinya; jumlah primigravida, keadaan sosial ekonomi, perbedaan kriteria dalam penentuan diagnosis dan lain-lain. Di Indonesia frekuensi kejadian preeklampsia sekitar 3-10% (Triatmojo, 2003), Sedangkan di Amerika Serikat dilaporkan bahwa kejadian preeklampsia sebanyak 5% dari semua kehamilan (23,6 kasus per 1.000 kelahiran).3,5
Di negara maju terdapat penurunan insiden eklampsia secara bermakna akan tetapi relatif konstan pada 15 – 30 tahun terakhir . Di Inggris terjadi penurunan dari 80/10.000 persalinan (1922) menjadi 4.9 /10.000 (1992) .Di Selandia Baru terdapat penurunan dari 32/10.000 persalinan (1928- 1933) menjadi 8/10.000 persalinan (1956-1958).Di Singapura dari 28.7/10.000, persalinan (1957) menjadi 14/10.000 persalinan (1968) dan bahkan menjadi 6.7/10.000 persalinan (1994-1999.5,13,14
Kematian bayi terjadi oleh karena hipoksia selama dalam rahim dan prematuritas. Data Denpasar menunjukkan 35.42% dari 48 kematian ibu (1996-2000) karena preeclampsia dan eklampsia Data eklampsia di Indonesia belum terekam baik dan laporan berbagai senter masih bervariasi . Data retrospektif eklampsia di Denpasar selama tiga tahun (1998-2000) adalah 62 kasus dari 14.887 persalinan ( 4.2/10.000).4,5,15,16
Pada primigravida frekuensi preeklampsia lebih tinggi bila dibandingkan dengan multigravida. Peningkatan kejadian preeklampsia pada usia > 35 tahun mungkin disebabkan karena adanya hipertensi kronik yang tidak terdiagnosa dengan superimposed pregnancy induced hypetension (PIH) (Deborah E Campbell, 2006). Di samping itu, preeklamsia juga dipengaruhi oleh paritas. Surjadi, dkk (1999) mendapatkan angka kejadian dari 30 sampel pasien preeklampsia di RSU Dr. Hasan Sadikin Bandung paling banyak terjadi pada ibu dengan paritas 1-3 yaitu sebanyak 19 kasus dan juga paling banyak terjadi pada usia kehamilan diatas 37 minggu yaitu sebanyak 18 kasus. Wanita dengan kehamilan kembar memperlihatkan insiden hipertensi gestasional yang secara bermakna lebih tinggi. Selain itu, wanita dengan kehamilan kembar memperlihatkan prognosis neonatus yang lebih buruk daripada wanita dengan kehamilan tunggal.2,3
Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa wanita dengan sosio ekonominya lebih maju jarang terkena preeklampsia. Faktor risiko lain yang menjadi predisposisi terjadinya preeklampsia meliputi hipertensi kronik, kelainan faktor pembekuan, diabetes, penyakit ginjal, penyakit autoimun seperti Lupus, usia ibu yang terlalu muda atau yang terlalu tua dan riwayat preeklampsia dalam keluarga (George, 2007). 4

III. PERSOALAN PENANGANAN EKLAMPSIA

Sampai saat ini dianut sikap bahwa setiap kehamilan di atas umur 20 minggu yang mengalami kejang diperlakukan sebagai eklampsia sampai terbukti lain. Dan bila diagnosis eklampsia sudah ditegakkan maka usaha selanjutnya adalah : 4,6,16
 Mengatasi dan mencegah kejang, menggunakan MgSO4 sesuai protocol tetap yang disepakati Perkumpulan Obstertri Ginekologi Indoneia (POGI).
 Melindungi pasien dari cedera akibat kejang termasuk melindungi lidah dari risiko tergigit.
 Menstabilkan hemodinamika. Defisiensi relatif cairan serta hemokonsentrasi diatasi dengan pemberian cairan secara hati hati, diuretika dihindari sedapat mungkin.
 Bila tekanan darah lebih dari 160/110 mm Hg atau MAP > 125 mm Hg, diberikan pula obat anti hipertensi dengan berbagai pilihan.
 Dengan pertimbangan tertentu maka terminasi kehamilan dapat dilakukan dengan induksi persalinan dengan oksitosin (tanpa atau dengan pematangan serviks memakai derivat prostaglandin) atau langsung seksio sesarea tergantung kondisinya.
 Mengatasi komplikasi yang terjadi.
 Melakukan pengawasan ketat pasca persalinan di ruang perawatan intensif

Sampai batas ini semua pihak setuju dan hasil yang didapatkan bervariasi tergantung pada faktor kondisi ibu saat kejang, umur kehamilan, ada tidaknya gangguan hemodinamika dan hemostasis , ada tidaknya gangguan fungsi multi organ. Hampir semua protocol tetap memilih MgSO4 untuk mengatasi kejang. Diazepam sudah ditinggalkan dan menjadi pilihan akhir bila tidak ada MgSO4. .Pemilihan obat anti hipertensi mulai dari : hydralazine, nifedipin, labetalol sampai lytic cocktail. Meskipun fasilitas perawatan berbeda beda akan tetapi semua sepakat tentang perlunya pengawasan intensif yang ketat. Dukungan peralatan serta kemampuan /pengalaman orang di belakang alat alat tersebut akan mempengaruhi keberhasilan menekan angka kematian ibu dan bayi di suatu senter pelayanan obstetri3,5.

IV. PILIHAN CARA TERMINASI KEHAMILAN

Melahirkan bayi adalah drug of choice untuk pengobatan eklampsia. Jika eklampsia terjadi dalam proses persalinan upaya melahirkan baru dikerjakan setelah fase akut dari eklampsia ditangani dengan baik. Pada saat kejang dan beberapa saat setelahnya ibu dan bayi dalam keadaan hipoksia dan asidotik dan tidak tahan terhadap stres anestesi dan pembedahan.4

Karenanya muncul istilah interval stabilisasi yang dulunya berlangsung antara 12 – 24 jam. Menunggu terlalu lama juga mengundang risiko sehingga akhirnya waktu 1 – 3 jam setelah kejang terakhir dianggap sebagai saat yang ideal . Cukup waktu untuk pemberian MgSO4 serta koreksi hipoksia dan asidotik ibu dan bayinya. Pada saat itulah terminasi dilakukan. Prioritas utama ialah menyelamatkan ibu; oleh karena itu pilihan pertama adalah melahirkan anak dengan trauma minimal secara persalinan lewat vaginal.4,8
Jika tidak ada kelainan letak atau gawat bayi maka induksi dengan oksitosin dapat dilakukan dalam kondisi sebagai berikut:
 Umur kehamilan 30 minggu atau lebih tanpa memandang penipisan dan pembukaan serviks.
 Umur kehamilan < 30 minggu dengan serviks matang. Pasien dengan serviks belum matang dan umur kehamilan 30 minggu atau kurang, dapat langsung menjalani seksio sesarea bila diduga ada komplikasi intrauterin berupa: pertumbuhan bayi terhambat (30%), gawat bayi (30%) dan solusio plasenta (23%). 4,7

Pasca kejang sering kali terdapat bradikardi bayi yang dapat berlangsung setiap saat sampai 5 menit pasca kejang. Bradikardi dapat mencapai 80 denyut/menit dan bertahan dari 30 detik sampai 10 menit. Tanda ini bukan indikasi untuk segera melakukan seksio sesarea karena akan membaik kembali setelah pemberian oksigen dan menyeimbangkan asam basa. Tersedianya fasilitas pengawasan ketat sangat menentukan pilihan cara terminasi kehamilan. 4,7
Kadang kala sindrom stress of the doctor yang bisa mempengaruhi pilihan. Ketakutan terlambat mengambil tindakan, fasilitas monitoring yang tak memadai, takut terjadi kejang kembali yang akan memperburuk keadaan, psikologi keluarga pasien yang sudah tegang menunggu; merupakan faktor lain yang ikut berperan dalam keberhasilan terapi.7

V. TINDAKAN LANGSUNG SEKSIO SESAREA

Tidak ada referensi yang menganjurkan langsung seksio sesarea untuk terminasi kehamilan pada eklampsia kecuali jika ada kontraindikasi persalinan vaginal. Kejang (eklampsia) bukan merupakan indikasi seksio sesarea. Seksio sesarea dilakukan berdasarkan indikasi obstetri atau jika ada hambatan atau kegagalan induksi persalinan. 9

Beberapa keuntungan jika seksio sesarea segera dilakukan : 9
 Terapi kausal adalah segera melahirkan bayi.
 Stres dokter segera berkurang dan pindah ke dokter Intensive Care Unit
 Bayi segera mendapatkan perawatan Neonatal Intensive Care Unit
 Stres ibu berkurang sehingga risiko kejang dapat diperkecil
 Risiko abruptio placenta dan apopleksia serebri dapat dikurangi
 Dalam anggapan awam, mengambil sikap segera berupa tindakan operatif mudah diterima dan masuk akal.

Sisi kerugiannya adalah :
 Melukai ibu dengan hasil keluaran bayi yang belum tentu baik
 Dalam keadaan hemodinamik dan hemostasis penderita yang belum baik maka anestesi dan tindakan bedah merupakan stres tambahan yang bisa memperburuk keadaan.
 Menimbulkan luka parut yang mempengaruhi kehamilan berikutnya.
 Biaya persalinan yang lebih besar.

VI. TINDAKAN INDUKSI PERSALINAN

Dengan orientasi menyelamatkan ibu maka induksi persalinan lebih dianjurkan dengan alasan 9:
 Trauma minimal pada ibu
 Cukup banyak yang bisa lahir pervaginam.
 Sering sudah ada penipisan dan pembukaan serviks .
 Sensitifitas dan ketegangan uterus meningkat sehingga sangat reaktif terhadap rangsangan oksitosin.
 Hasil keluaran bayi tidak berbeda.

Sisi buruknya adalah :
 Memerlukan observasi ketat yang masih menjadi persoalan di Indonesia
 Membutuhkan waktu lebih lama
 Bisa kejang kembali dan memperburuk keadaan
 Risiko abruptio placenta
 Stres dokter menjadi lebih lama. 9

Laporan Kasus

Seorang wanita berusia 35 tahun dengan multigravida (G3P2Ab0) hamil cukup bulan (39 minggu) datang ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum daerah Zainoel Abidin pada pukul 10.30 WIB dengan keluhan kejang. Kejang terjadi pada seluruh tubuh dan kejang sudah terjadi sebelumnya sebanyak 3 kali. Lama kejang sekitar 3-4 menit yang kemudian pasien tidak sadarkan diri. Pasien mengalami penurunanan kesadaran, pada saat datang pasien dalam keadaan apatis. Pasien tidak mempunyai riwayat kejang dan kejang belum pernah dialami pada kehamilan sebelumnya.
Selama kehamilan pasien rutin memeriksakan kehamilan ke dokter spesialis kandungan secara teratur, terakhir 1 minggu sebelum masuk Rumah Sakit. Selama pemeriksaan kehamilan dikatakan keadaan janinnya sehat dan tekanan darahnya 140/90. Tekanan darah tinggi pernah ada sebelumnya pada saat kehamilan kedua sampai sekarang. Beberapa hari sebelum kejang, pasien mengeluhkan pusing, nyeri ulu hati, dan sakit pinggang. Sejak 1 hari sebelum masuk Rumah Sakit penglihatan juga dirasakan kabur.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan bengkak diseluruh tubuh, kesadaran apatis, nadi 136x/menit, reguler,halus, pernapasan 36x/menit, dan tekanan darah 190/140 mmhg. Pada pemeriksaan status obstetri didapat janin tunggal dengan presentasi kepala, TFU 32 cm, taksiran berat janin 3.255 gram, his adekuat, denyut jantung janin 185x/menit. Pada pemeriksaan vagina di dapatkan edema vulva, pembukaan 4 cm, porsio lunak, ketuban (+), kepala Hodge I, tidak teraba bagian kecil/ tali pusat janin.
Pemeriksaan laboratorium menunjukkkan proteinuria (++), Hb 12,8 gr/dl dengan hematokrit 43 %, leukosit 17.800/uL, Trombosit 150.000/uL. Pemeriksaan biokimia darah dalam batas normal. Pasien ini didiagnosa sebagai super imposed eklampsia dengan hamil aterm. Untuk mengatasi kejang, maka diberikan MgSO4 sesuai protokol tetap yaitu MgSO4 40% 4g IV selama 10-15 menit dilanjutkan dengan MgSO4 40% 6 g drip dalam 500cc RL selama 6 jam. Pasien kemudian dirawat alih ke ruang Intensive care unit (ICU).
Sesampainya pasien di ICU pada pukul 13.30, Tekanan darah pasien 176/123 mmhg, kemudian pasien mendapat terapi Perdipine drip (anti hipertensi) dengan syringe pump untuk mengatasi hipertensinya. Saturasi oksigen 99% setelah diberikan oksigen dengan face mask sebanyak 5 L/menit. Urine output 50cc/jam. Pasien juga dipasang infus 2 jalur dan diberikan terapi tambahan berupa Tutofusin, Kalbamin, Ceftriaxon 2gr/24 jam, nexium 40 mg/24 jam, Vit.C 400mg/24 jam serta fluimucyl 3x600mg. EKG, Saturasi oksigen dan tekanan darah dipantau secara berkesinambungan.
Pada pukul 15.40 pasien mengeluarkan darah campur lendir dari jalan lahirnya, dilakukan drip syntosinon 5 IU. Pasien tidak dapat mengedan karena kesadarannya menurun, pasien dalam kesadaran stupor. Pukul 16.10 lahir bayi laki-laki, A/S 4/5.kemudian bayi dilakukan resusitasi dengan dipimpin dokter anastesi, setelah stabil, bayi diambil alih oleh perawat NICU. Tekanan darah pasien 135/90 mmhg, nadi 112 x/menit, saturasi 97%, urine output 40cc/jam.
Pasien kemudian disuntik syntosinon 10 IU IM, plasenta lahir lengkap, terjadi perdarahan masif dari jalan lahir ± 800 cc dalam 20 menit setelah bayi lahir, kontraksi uterus kurang, diberikan metergin 1 ampul IM, cytotec 3 tablet secara supposituria, drip syntosinon dalam RL kemudian dilakukan masase fundus tetapi perdarahan juga belum berhenti.

Kemudian bidan menghubungi dokter supervisor pengganti dan direncanakan untuk histerektomi.
Pasien dilakukan resusitasi cairan dengan cairan kristaloid dan koloid pada kedua jalur infusnya, perdarahan tidak berhenti, ronkhi terdengar di kedua lapangan bawah parunya. TD 85/60 mmhg, Nadi 122x/ menit. Pada pukul 18.00 keadaan umum buruk, kesadaran koma, tekanan darah menurun hingga tidak teraba, nadi lemah dan sulit diraba, pasien mengalami sulit bernapas, saturasi menurun hingga dibawah 70%. Dipasang ventilator, dilakukan resusitasi kardiopulmonal tetapi tidak berhasil. Pasien meninggal 7 jam setelah dirawat di RS karena kegagalan multi organ.

DISKUSI
Keputusan yang cepat dan tepat harus diambil saat menangani kegawatdaruratan eklampsi. Setelah kejang diatasi, tindakan terminasi kehamilan harus dilakukan berdasarkan pertimbangan umur kehamilan, maturitas bayi, skor pelvik, nilai sosial anak, derajat eklampsi, ada tidaknya gawat janin serta kemampuan tim perinatal di tempat itu.

Hasil keluaran bayi yang dilahirkan baik pervaginam atau dengan cara seksio sesarea bervariasi. Chen dkk (5) di Singapura menemukan 97.4% dari 38 kasus eklampsi ante partum menjalani seksio sesarea darurat dalam 24 jam pertama pasca kejang; didapatkan satu kematian ibu (1.6%), 6 kematian intra uterin dan tidak ada kematian neonatal. Di Hongkong dalam 11 tahun (1983-1993) ditemukan 12 kasus eklampsia (2/10.000 persalinan) dan seperlimanya menjalani seksio sesarea karena alas an obstetri yaitu gawat bayi dan disproporsi feto-pelvik. Tidak ada kematian maternal dan perinatal(9). Alexander dkk (10), dari 278 kasus eklampsia dengan berat badan bayi lahir antara 750 – 1500 gram , ditemukan kegagalan induksi persalinan 35% dengan keluaran bayi tidak berbeda.

Meskipun lebih banyak eklampsi yang lahir pervaginam (44 dari 63 kasus) akan tetapi Ahmad (8) di Rawalpindi dengan membandingkan waktu kembalinya kesadaran pasien, waktu kembalinya tekanan darah menjadi normotensi dan lamanya rawat inap, menyimpulkan bahwa seksio sesarea masih layak dipertimbangkan. Cara yang diambil sangat ditentukan oleh situasi saat kejadian dan fasilitas penunjang yang tersedia. Hampir semua protokol penanganan eklampsia menganjurkan kelahiran bayi pervaginam sebagai pilihan pertama kecuali mengalami kegagalan atau terdapat gawat bayi.(3,4,6,7,10).

KESIMPULAN
1. Eklampsia adalah kegawat-daruratan obstetri dengan morbiditas dan mortalitas tinggi untuk ibu dan bayinya.
2. Melahirkan bayi tanpa memandang umur kehamilan merupakan terapi pilihan setelah kejang dapat diatasi .
3. Satu sampai tiga jam dari kejang terakhir dianggap cukup untuk persiapan mengambil tindakan yang dipilih.
4. Kejang/eklampsia bukan indikasi seksio sesaria.
5. Induksi persalinan dengan turunan prostaglandin dan oksitosin tetap dianjurkan.
6. Konseling dengan keluarga pasien merupakan keharusan dalam menentukan pilihan cara persalinan
7. Fasilitas perawatan intensif mutlak diperlukan sebelum dan setelah persalinan baik untuk cara konservatif maupun tindakan operasi.

KEPUSTAKAAN

1. Make Every Mother and Child Count, Available from: http://www.pikas.bkkbn.go.id.
2. Karkata K, Mayura M. Kematian ibu bersalin di RSUP Sanglah Denpasar. Tinjauan selama tiga tahun (1993-1995). Maj. Kedokt. Udayana 1996 (Juli); 27(93): 180-5
3. Karkata K, Harsana. Kematian Perinatal di RSUP Denpasar (1990-1991). Maj. Kedokt. Udayana 1995 (Juli)26(89):147-151
4. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom KD. Hypertensive disorders in pregnancy. In: William’s Obstetrics.21st ed. New York; McGraw-Hill 2001 : 567-618.
5. Mattar F, Sibai BM. Eclampsia:VIII. Risk factors for maternal morbidity. Am J Obstet Gynecol 2000;182: 307
6. Chen CY, Kwek K, Tan KH, Yeo GSH. Our Experience with Eclampsia in Singapore. Singapore Med J 2003;44(2): 088-093.
7. Women’s and Children’s Hospital Adelaide. Perinatal Protocols and Guidelines for Management; 3rd ed. February 1996.
8. Schroeder BM. Practice Guidelines. ACOG Practice Bulletin on Diagnosing and Managing Preeclampsia and Eclampsia; American Family Physician,
9. Ahmad S. Caesarean section versus vaginal delivery in the management of eclampsia. http://www.kenes.com/controversies/cogi3/abstracts/75.doc
10. Chan YM, Ngai SW. Eclampsia an 11–year experience.HKMJ 1998 (June); 4 (2): 203-7.
11. Alexander JM, Bloom SL, McIntire DD, Leveno KJ. Severe preeclampsia and the very low-birth-weight infant : Is induction of labor harmful? Obstet Gynecol 1999; 93:485.
12. Nassar AH, Adra AM, Chaktoura N, Gomez Marin O, Beydoun S : Severe preeclampsia remote from term: Labor induction or elective cesarean delivery? Am J Obstet Gynecol 1998; 179 : 1210
13. Douglas KA, Redman CWG. Eclampsia in the United Kingdom. Br Med J 1994; 309:1395-9.
14. Corkhil TF. Experience of toxaemia control in Australia and New Zealand. Pathology and Microbiology 1961; 24: 428-34.
15. Mattar F, Sibai BM. Eclampsia:VIII.Risk factors for maternal morbidity. Am J Obstet Gynecol 2000; 182: 307
16. Sibai BM. Eclampsia.VI Maternal–perinatal outcome in 254 consecutive cases.AmJObstetGynecol.1990 ( Sep);163(3):1049-54: discussion 1054-5.
17. Duley L. Magnesium sulphate regimens for women with eclampsia: message : the Collaborative Eclampsia Trial .Br J Obstet Gynaecol 1996,103:103-5.
18. Many A, Kuperminc MJ, Pausner D, Lessing JB. Treatment of of severe pre-eclampsia remote from term : A clinical dilemma. Obstet Gynecol Surv 1999; 54: 723

Berbicara soal angkot,,,fufufu,,gw seneng banget,,soalnya, selama hampir seluruh hidup gw dihabiskan di sebuah mobil keren indonesia ini. namanya juga bervariasi,,bahasa idealnya sih angkutan umum, tapi ada juga uyang menyebutnya patas, metromini, mobil kompor (wkwkwkw,,smp banget!!), sampe labi-labi kayak di aceh ini. Bentuknya juga bervariasi,, ada yang petak abiz,,ada yang oval gag jelas, ada yang persegi panjang, ampe ada juga yang bak terbuka,,wkwkwkw.

angkot gw

angkot gw

banyak banget suka duka pake angkot. Nih ya,,kalo lo hidup dijakarta, dan misalnya lo masuk jam 7 an,,maka,,abis shalat subuh atau sekitar jam 5 an, lu udah kedepan nungguin angkot. Kenapa, karena macet sangat. Jadi,,lo bangun tidur itu sekitar jam setengah 5, mandi, makan, salat subuh langsung berangkat, Beghhhh,,,masih gelap banget itu jalanan,,,cuma ga usah khawatir,,pasti didepan jalan raya udah banyak juga yang nungguin. Hehehe,,,ini berlaku utuk jenis angkot apapun,,kalo yang ini sih gw lebih sering naek angkot model masuk samping :d,,,

metromini-03trus,,,kalo lo bangun kesiangan,,bisa dipastikan lo akan terlambat sampe tujuan,,beda 15 menit,,,beda jumlah mobil yang udah dinaekin..adalah suatu keberuntungan kalo misalkan elu dapet, hehehe,,kecuali hari minggu ya,,karena emang ga ada orang yang berangkat kerja ama sekolah.. Yang paling sadis kalo lu telat adalah dengan angkot model ini,,atau yang itu,,koantas bima 195,,,bener-bener gag ada lawan. Paling sadis sedunia, Terutama kalo pagi hari sama malam hari, Beughhh,,,lewat dah lu semua. Kalo siang,,,wadow,,,gw saranin jangan coba-coba buat masuk kesitu….bahaya….pertama nih ya,,copetnya sekelompok orang,,kedua,,dan yang paling sering,,,LO-JADI-KAYA-IKAN-SARDEN-GAG-JELAS-ABIZ,,,fufufufu,,,masih mending kalo pagi,,baunya mah wangi2,,apalagi kalo depan lo cewek sma,,lucu,,imut,,beugh,,,mau ngerem mendadak atau nge-gas mendadak juga gak papa,,tangan keatas buat pegangan masih bisa ditahan karena masih wangi. Tapi deh,,lo coba siang atau malam,,,BEUGH,,,UDAH-PANAS-GAG-JELAS-KERINGET-DIKETEK-NUMPUK-BAU-GAG-SEDAP-PUN-BERMUNCULAN!!,,,,hoaaaaammmm,,,,beruntunglah yang dapet duduk di korsi,,fufufu,,,Kalo pagi ga enaknya cuma itu,,secara pada maksa masuk,,jadinya kaya sarden deh, bahkan ampe ada loh yang nemplok dijendela,,maksa banget,,yang penting jangan ampe telat,,,Lah disini,,,santai amat yak!!,,,

Itu belum termasuk jarak elu yang emang dari terminal musti keterminal laennya,,,alias ampe abis ngikutin tuh angkot. Masih mending kalo lu dapet tempat duduk, nah ini,,,kalo lo berdiri dengan 2 jam dan sejuta orang disekeliling lu apa ga naek darah???,,,wkwkwkwk,,,belum lagi suara klakson yang ga berenti2,,,debu knalpot,,,kalo ujan halah,,,pokoknya parah abis dah,,,palagi kalo lu dermawan mau memberikan bangku elu buat ibu2 atau orang tua,,beugh,,,udah jarang dijaman informatika kayak gini,,bisa diitung ama jari itu mah,,hehehe

ngomongin angkot emang ga ada abisnya,,,cinta mati gua. ga ada matinya nih satu. beruntung banget gw bisa idup di jakarta dan indonesia,,,bisa naek angkot kapan aja gua suka,,,walopun kotor,dekil,kaya pepes, musti berantem dulu kalo naek,,,semuanya punya tujuan satu,,disiplin,,sesuatu yang mulai perlahan menghilang dari diri gw (fufufuf,,apaan segh,,tapi emang bener ,,),,,,pengen pulang kampung kalo kayak gini,,,(pas pulang, malah pengen balik ke aceh lagi secara bisa buat gila,,wkwkwkwk),,,ngangenin banget deh :D

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.