Skip navigation


Conflict part I

“Sat, ga boleh kaya gitu dengan anak BEM. Walaupun itu program ko, setidaknya ko harus menerima bahwa merekalah yang melaksanakan duluan.” Kata salah seorang almarhum sahabat gua.

“Siapa bilang gua ga nerima?. Gua terima kok. Ga masalah dengan program yang mereka comot dari ide kepala gua. Tapi, yang gua ga terima adalah, mereka memperlakukan kita seperti layaknya anak buah mereka. Coba lu pikir, masa kita disuruh buat kegiatan 1 kota Banda Aceh dengan dana hanya 200 ribu. Udah gitu sok pake memberitahukan gimana pencarian dana yang baik, sampe harus bekerjasama dengan siapa. Gua gondok. Itu semua udah ada didalam kepala gua. Gua bahkan tinggal jalan doang kalau ada restu angkatan!!.” Jawab gua dengan emosi yang meledak-ledak.

“Iya, boleh ko berargumen seperti itu. Tapi setidaknya, hormatilah dia. Dia senior kita juga”.

“Oke. Dia ,memang senior kita. Gua wajib menghormati dia. Dia pun juga gitu dunk. Mana ada rasa menghormati kalau tidak dari kedua belah pihak timbulnya. Yang kaya gini harus segera diselesaikan. Tirani seperti ini harus dibasmi dari sekarang. Sistem ini udah berjalan cukup lama. Gua udah gondok. Gua yang akan maju merubah sistem ini. Kalo lu ga mau bantu, gapapa. Gua juga ga butuh siapa-siapa buat rubah ini. Gua akan merubahnya. Lo liat nanti.”

“Keras kepala kali kalau dibilang. Terserah ko mau rubah atau ngga. Aku cuma ga suka sikap ko tadi.”

“Whatever. Terserah juga lo suka atau ga suka sama gua.”

Gua pun ngeloyor pergi ke musholla. Gua butuh sesuatu yang menenangkan pikiran. Hal ini dipicu gara-gara angkatan gua mau ngadain bakti sosial. Nah, karena yang namanya bakti sosial itu membutuhkan dana yang lebih, maka selalu akan ada yang namanya pencarian dana. Entah itu melalui kegiatan ataupun sekedar proposal.

Hingga disuatu hari, gua mendengar dari salah seorang sahabat gua diangkatan untuk memulai kembali Try Out atau Uji Coba UMPTN bagi anak-anak SMA se Banda Aceh yang pernah dicoba oleh angkatan abang-abang leting 99. Walhasil, jadilah itu menjadi sebuah pemikiran yang menarik didalam otak gua.

Tak dinyana, ternyata BEM juga mempunyai acara serupa. Jadi, anak-anak BEM di bidang pendidikan menawarkan bantuan berupa dana untuk baksos yang besarnya 200 rb rupiah untuk megadakan sebuah try out dengan skala banda aceh. Terang aja gua gondok. Dalam perhitungan matematis gua, angka segitu ga cukup. Mending gua keluarin uang gua untuk selanjutnya gua bikin sendiri.

“ Jadi gini, kita dari BEM bidang pendidikan ingin kalian untuk membuat Try Out UMPTn bagi anak-anak SMA se-Banda Aceh. Uang pendaftaran yang masuk, akan kalian gunakan sebagai uang kas kalian untuk dana bakti sosial angkatan kalian nanti. Kalian bisa bekerjasama dengan bimbingan belajar seperti bla..bla..bla…Kalian hanya cukup membawa nama Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala. Sebagai modal awal, BEM akan memberikan kalian dana 200 ribu. Ada pertanyaan?”

“ Ada”. Gua menjawab dengan antusias. Semua mata di angkatan memandang ke gua.

“ Gua udah ngerti maksud lo. Gua bahkan udah survey ke beberapa bimbingan belajar di Banda Aceh ini. Gua juga udah dapet sponsor yang bisa memback-up kegiatan angkatan gua ini. Pertanyaan gua adalah, kenapa elo selalu seperti ini?.”

“ Maksud adek?”.

“ Maksud gua adalah, kemana anak BEM saat angkatan gua jadi panitia peusijuek malam-malam angkat bangku dari aula ke halaman parkir depan?. Disaat angkatan gua udah punya skenario operasi yang tinggal dijalankan namun elo pertanyakan dan menunjukkan indikasi buat meggagalkan, atas dasar apa elo bilang ga bagus padahal terbukti itu merupakan acara terbesar yang pernah ada dikampus?. Kenapa elo selalu menghambat jalan angkatan gua buat berkembang?. Meminta kita untuk melakukan sebuah program dari elu sendiri. Kemudian kita semua kena maki dari kalian saat kita melakukan kesalahan, dan jikalau acara atau program yang dijalankan berhasil, nama BEM lah yang maju. Kenapa elu ga pernah bercermin sih?”

“ Inilah kita dari BEM mau bantu adek-adek, kita …….”. Belum selesai ngomong, gua langsung potong lagi dengan,

“ Yang kaya gini elu bilang bantu?. Ngundang anak SMA kelas 3 se Banda Aceh dengan uang 200 ribu elo bilang nebantu. Gini aja deh. BEM kan lembaga tertinggi kampus kita nih. Elo juga punya orang-orang yang capable banget di organisasi. Jadi, lu pake aja uang lo 200 ribu itu dan elo aja ndiri yang buat ga usah pake angkatan gua. Kebiasaan banget. Kalo lo jelek, ya elu ndiri. Kalo lo bagus ya buat lo juga. Angkatan gua mungkin akan cari dana dari tempat laen. Makasih buat bantuannya.”

“ Ya, tapi ini adalah …. bla ..bla..bla…”. Kata-kata dia pun udah gua ga perdulikan ;agi. Soalnya gua juga sibuk ketawa-ketiwi dengan temen-temen gua dibelakang. Intinya, gua menunjukkan ketidakrespekan gua sama dia. Ga lama kemudian, ketua baksos gua, mempending rapat selama 10 menit untuk shalat dzuhur. Gua pun dengan santainya ngloyor pergi. Nah, percakapan diatas itulah yang terjadi saat Komisariat Tinggi angkatan yang juga sahabat gua menghampiri gua untuk menunjukkan ketidaksukaan terhadap sikap gua barusan. Ya terang aja gua bete. Masa dia ngebelain anak BEM sih?. Udah buta kali dia. Huh, gua ga perduli dia mau dukung gua apa ngga.

Conflict Part II

Gua ga perduli. Mau didukung apa ngga gua juga ga ada urusan sama dia. Emang dia aja yang musti gua dukung keputusannya?. Sekali-sekali, boleh dong dia dukung keputusan gua. Gua udah cape berada dibawah bayang-bayang dia. Selalu dia yang bagus. Sedangkan gua yang jeleknya. Padahal, segala acara angkatan, gualah yang mengatur. Tapi entah kenapa gua ga pernah dianggap. Semua orang memandang lebih dibandingkan dengan gua. Secara ilmu gua juga ga kalah. Gua lebih pandai daripada dia dalam menjelaskan sesuatu, gua juga pernah kasih tahu dia ujian untuk semua nomor. So, tapi knapa selalu dia-dia aja yang ‘dianggap’ oleh angkatan. Memang, ketika kami berdua berbicara, semua orang diangkatan pasti mendengarkan. Tapi, auranya beda. Aura dia adalah aura kepemimpinan versi klasik dengan kewibawaan yang kuat. Sedangkan gua, adalah aura kepemimpinan yang menurut orang sangat manajerial, praktikal dan dari itu semua, revolusioner. Sehingga, banyak yang melihatnya sebagai suatu terobosan baru yang menarik, tetapi belumlah cukup untuk dipakai sebagai pedoman dalam sebuah kepemimpinan yang diperlukan. Tradisi dari orang-orang kebanyakan adalah kewibawaan yang selalu dipakai dimanapun dia berada. Sedangkan gua, kewibawaan hanya ditampakkan pada saat situasi tertentu. Bukan setiap saat. Itulah yang membedakan gua dengan dia. Dalam kenyataannya, gua mengakui dia adalah yang terbaik dari semua tipe pemimpn yang gua temui. Ramah & Kharismatik. Sampai sekarangpun, gua selalu terkenang akan dia tentang bagaimana dia bisa dipercaya oleh semua orang, bahwa dengan kepemimpinan dia pastilah berjalan aman-aman saja, tidak perduli apakah pada masa pimpinannya kelak akan membuat suatu terobosan baru atau tidak. Gua sangat salut.

Conflict Part III

“ ko kan ahli organisasi. Gimana pendapat ko?.” atau

“ jangan mau jadi adeknya satria, entar jadi tukang antar jemput.” atau

“ ko harus bantu aku, atas nama kawan dan profesional.”

Inilah yang sering gua temukan sama salah seorang sahabat gua yang lain. Setelah almarhum sahabat gua, praktis gua merasakehilangan. Begitu juga dengan teman-teman yang lain. Walaupun pada akhirnya gua yang terpilih untuk menggantikannya, rasa kepuasan itu tidaklah sempurna.

Dan inilah yang gua temukan pada Dia. Ingin menjadi seperti gua yang dulu. Kegondokan yang berlebihan yang baik langsung maupun tidak langsung ditunjukkan sama gua. Tapi, entah kenapa. Gua tidak pernah bisa marah terhadapnya. Yang ajaib, bahkan gua memuji dia dikala orang menyampaikan berita tidak sedap yang dia keluarkan buat gua. Walaupun dalam hati kesalnya bukan main, gua cuma bisa mengelus dada, dan saat memandang muka dia, perasaan itu berubah menjadi rasa sayang. Banyak hal yang membuat dia seperti ini. Sama seperti gua yang punya motif untuk menjadi seperti sekarang ini. Walaupun banyak kebijakan yang gua lakukan gara-gara dia, gua tetap tidak bisa marah sama dia. Karena cuma dia yang jagain gua waktu gua sakt. Yang anterin gua ke terminal saat gua mau pergi jauh. Yang jemput gua saat gua tiba disini. Intinya, dia mempunyai rasa kesetiakawanan yang begitu kuat walaupun dia membenci gua sekalipun. Dia juga seperti gua. Tidak mau kehilangan seorang sahabat, walaupun dia merasa sudah jauh ketinggalan. Tapi dia tetap terus mengejar. Lama-lama, gua yakin dia pasti bias mengejar gua. Akhirnya bias bareng lagi …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: