Skip navigation


By Satria Perwira

Minggu, 05.00 WIB Menjelang Fajar

“ Kadang, aku berpikir negatif. Abang XXX deket aku karena aku ketua. Bukan karena dia menganggap aku adeknya. Sebab, dulu sebelum aku menjadi ketua, Abang XXX kemana-mana selalu ngajak aku. Dalam hal apapun, aku selalu dilibatkan. Dan sekarang, ketika Aku mau turun dan sudah ada pengganti aku yang baru, aku merasa ditinggalkan..”


Itu adalah sebuah perasaan yang dialami dengan salah satu adek gua. Adek yang baru gua angkat sebagai bagian dari hidup gua. Dan dengan cara apapun gua mesti mendukung dalam hal apapun, entah itu dalam pengembangan pengetahuan organisasi, baik juga dalam hal bidang pelajaran dan skill-skill lain yang diperlukan dalam perjalanan hidup dia kedepan.

Bukan, bukan itu yang gua mau bicarakan disini. Tetapi tentang ungkapan-ungkapan seperti :

“ Tuh, Adek ko …”, atau

“ Siapa dulu abangnya, didikan Satria sih..”, bisa juga

“ Emang kalau adek Satria ga ada yang pernah beres …”

Kenapa gua selalu dipermasalahkan dalam hal ini?. Kenapa adek-adek gua selalu saja ada orang yang mendekatinya untuk kemudian diceritakan kejelekan gua. Mempengaruhi adek gua bahwa gua dekat dengan adek gua karena ada maunya. Gua mengangkat adek karena biar bisa ada yang jemput gua. Gua mengangkat adek gua supaya ada tempat buat tidur siang?. Kenapa seperti itu?. Tapi, hal seperti ini tak akan pernah membuat gua surut untuk terus membantu mengembangkan potensi-potensi yang ada didalam diri seseorang.

Tahukah kenapa?. Pernahkah elu semua bertanya mengapa dan untuk apa gua mengangkat seorang adek?.

Pernah mendengar sebuah hadits :

“ Jika seorang muslim meninggal, hanya ada 3 amal pahala yang bisa terus mengalir kepadanya. Pertama adalah anak saleh yang selalu mendoakan orang tuanya. Kedua adalah ilmu yang bermanfaat. Dan ketiga adalah shadaqah jariyah.”?

atau mungkin :

“ sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang hidupnya berguna bagi oranglain”?.

Dan pasti sudah pernah dengar dengan yang ini :

“ Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok.”?

Sebuah pengalaman hidup mengajarkan kepada gua bahwa, nama sebuah Universitas Syiah Kuala; sebuah Universitas kebanggaan orang Aceh dengan semboyannya yang terkenal “Jantung Hati Rakyat Aceh”; tidaklah begitu dikenal di Indonesia. Hal in terbukti. Bahkan ada yang bertanya dan menyimpulkan, jauhan kota Medan dibandingkan dengan kota Banda Aceh!!. Bahwa, di sebuah kota yang bernama Banda Aceh, ada sebuah Universitas Syiah Kuala, dan didalamnya ada Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala sebagai favorit pilihan bagi mereka yang baru lulus SMA. Dan sayangnya, banyak dari mereka yang tidak mengetahuinya sama sekali.

Hal ini diperparah dengan bobroknya sistem mahasiswa di kampus kita. Bangga dengan angkatan. Bangga dengan diri sendiri dan kelompoknya. Bangga menganggap bahwa dirinyalah mahasiswa kedokteran yang paling pintar di Kampus itu. Tapi coba lihat dengan kenyataan, jika dihadapkan dengan Mahasiswa Kedokteran lain yang diluar Pulau Sumatera, mereka langsung terdiam tak berani untuk berbicara. Tak berkutik dengan kebanggaannya selama ini. Rasa cinta mereka terhadap almamaternya sendiri sangat jauh berkurang. Namun, mereka sampai sekrang jugatidak pernah mau mengakui hal itu.

Jika dihadapkan kepada sesama mereka sendiri, sentimen SARA masih juga terlihat. Tidak dipercaya?. OSPEK adalah salah satu kegiatan dimana anak-anak daerah sini terlihat lebih berkuasa. Kadang mereka tertawa melihat orang non-Aceh tidak mengerti bahasa asli sini. Kadangkala, mereka juga sering menjadi seorang ‘pesuruh’ selagi mereka belum mempunyai adek leting. Senioritas seringkali merajalela.

Tapi dilain itu semua, cobalah tengok mereka lebih dalam. Atau minimal, mereka kan mahasiswa kedokteran. Tanyakanlah mereka tentang apa yang mereka tahu tentang kedokteran. Seringkali mereka menjawab dengan tidak sangat memuaskan. Karena mereka sendiri tidak pernah serius dalam belajar. Atau, jikalau mereka serius dalam belajar, hal ini hanya berlaku pada segelintir orang saja. Yang lebih parah adalah, sekali seorang itu diangap bodoh, maka selamanya orang tersebut akan dianggapb bodoh. Walaupun dia memang lemah dalam pelajaran dan jago dalam bidang yang lain. Dan ini semuanyalah yang membuat gua gerah.

Ada orang pernah bilang, “ Untuk merubah sistem, hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Dan hal itu bisa dibilang sangatlah tidak mungkin untuk merubahnya jika sistem itu sudah berlaku bertahun-tahun lamanya.”

Pernah dengar kata-kata F.D Roosevelt ?. “ If I Have to Choose between Peace and Righteousness, Then I will Choose Righteousness”. Agama kita sendiri mengajarkan untuk berkatalah sebuah kebenaran, walau kebenaran itu pahit rasanya. Disini kita diajarkan juga tentang keberanian dalam melakukan sesuatu. Dan itu semua tidak ada diangkatan maupun diatas leting gua. Kalaupun ada, bisa dihitung dengan jari.

Maka, gua sendiri menganggap sebuah sistem ini tidak akan berubah. Bahwa Allah tidak akan pernah merubah suatu kaum, melainkan mereka sendiri lah yang merubahnya berlaku juga untuk semua hal. Gua harus merubah sistem ini. Dan gua mendapatkan cara bahwa untuk merubah suatu kaum, gua sendiri musti berubah. Gua sendiri musti pintar. Terutama pintar dalam pelajaran. Sebab, karena gua dianggap anak Jakarta, kerjanya hanya tau untuk nge-drugs. Bahwa gua juga pernah dilecehkan hanya gara-gara nilai histologi; sebuah pelajaran dikedokteran tentang sel manusia normal; dapet nilai D. Bahwa, gaya gua yang slenge-an semakin membuat gua lekat dengan image diatas tersebut.

Dengan niat yang tulus, gua mulai memberanikan diri untuk mengajar. Dimulai dengan asisten dosen untuk beberapa mata kuliah. Dan dalam hal mengajar ini, gua terinspirasi dengan kata-kata salah satu abang gua yang tercinta; “ngapain kita musti mengajari orang yang memang dasarnya sudah baik, bisa untuk diatur. Lebih baik kita mengajar dan mengajak orang-orang yang dianggap jahat agar mereka bisa lebih berharga dimata orang lain dikampus kita”. Yep, betul banget pendapat itu. Sampai sekarang, gua masih memakai pendapat itu untuk mengajar.

Dimulailah pencarian beberapa orang yang gua anggap kurang begitu bagus dimata masyarakat, tetapi punya potnsi didalam bidang yang lain. Seringkali gua mengajak orang-orang ini untuk mengobrol untuk kemudian tahu seberapa jauh pemikirannya. Seberapa jauh tingkat pemahaman akan sesuatu. Dan seberapa jauh dia mempunyai pemikiran dengan visi dan misi hidup yang jelas. Gua sendiri membuat sistem. Bahwa adek gua harus berjanji untuk 2 hal. Pertama adalah, tidak sombong. Dan yang kedua adalah, jangan pernah memberitahukan kepada orang lain bahwa gua yang mengajarinya.

Untuk mendapatkan informasi tentang adek gua yang baru ini, tak jarang gua harus sering bersama dengannya. Hal ini gua lakukan dengan jalan bareng, makan bareng, sampai tidur dirumah dia. Disinilah yang seringkali mereka salah tanggap. Terutama dengan orang-orang yang kurang begitu suka dengan gua. Di masa inilah yang paling sulit bagi gua. Karena, gua harus membiarkan mereka memilih. Untuk percaya dengan dirinya sendiri kalau gua tidaklah seperti yang orang lain ceritakan atau berbalik menjadi musuh gua 180 derajat karena mereka percaya dengan hasutan itu. Dan seringnya, banyak calon adek-adek gua yang gagal dalam hal ini. Jujur aja, itu membuat gua sedih sendiri. Kalau begini terus, bagaimana Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala bisa berubah?.

Setelah itu, gua akan memutuskan adek gua ini layak dalam bidang apa. Ada 2 bidang yang gua tetapkan untuk mengembangkan diri adek-adek gua. Yang pertama adalah, Ilmu Kedokteran. Dalam ilmu kedokteran ini, gua mengembangkan minimal adek-adek gua ini bisa menjadi orang yang tidak bego-bego amat. Sedangkan yang maksimal adalah, bagaimana caranya supaya dia bisa menjadi asisten disalah satu lab dengan memegang teguh prinsip bahwa apa yang dia pelajari, harus berguna bagi orang lain dengan cara mengamalkannya. Dan itu bisa membuat derajat dan martabat dimata teman-temannya naik beberapa tingkat. Yang kedua adalah, kepemimpinan. Jika adek gua ini mempunyai bakat kepemimpinan, gua akan menyodorkan dia dengan kasus-kasus yang seringkali dihadapi dalam sebuah organisasi. Gua juga akan mengajarkan dia tentang kebebasan berpendapat, mengajukan argumen yang radikal namun sesuai hingga kepada menerima argumen orang lain secara obektif jikalau argumen orang lain itu betul. Dia juga akan gua proyeksikan untuk menjadi salah satu leader dari organisasi yang pernah gua bangun.

Dan akhirnya, gua cuma bisa diam sekarang ini. Disaat orang lain menjelek2an gua….

2 Comments

  1. Dulu, aku pernah kul di psik02, jd I knew you ever since…well, emang lu orang-a slenge-an..hahaha…tapi, I still believe you’re not as what you’re showing…and thus, I second your defense…hehe…we human should not judge someone by the cover…agree with you…jadi, keep doing what you think is right… ^^

    • Ika,,,,‎​:D Ђƺђƺ😀 Ђƺђƺ.😀,,makasih banyak !uat support nya,,I really appreciate it a lot🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: