Skip navigation


“Kenapa cat kok ko mau ajarin orang-orang?”. Seorang temen bertanya sama gua.

“Ga ada. Suka aja. Gua suka saat liat orang yang gua ajarin itu ngerti dengan kasus apa yang dia temuin nantinya. Yang gua ajarin bukan penyakit. Gua lebih seneng ngajarin hal-hal dasar. Misalnya aja neurologi atau kardiologi.”

“Iya, tapi kenapa?. Pasti ko kan berbuat ada alasannya. Yang tadi bagi aku bukan sebuah alasan.”

“Ya itu tadi alasannya. Aku seneng aja. Lagian, ada yang bilang, semakin banyak kita memberi semakin banyak kita menerima.”

“Itu betul. Pasti ada alasan lain”

“Oke, kalau gua bilang dasar prinsip gua bahwa dengan mengamalkan ilmu yang bermanfaat, pahala gua kan ga putus-putus jadinya. Hehehe”

“Yang lain?”

“Pada dasarnya sih, gua geram. Gua geram saat mereka cuma bisa ngeraba tanpa bisa memegang. Gua geram saat mereka menjadi rendah diri karena saat ditanya mereka ga tahu apa-apa. Gua juga geram, saat mereka menjadi sok tau padahal apa yang mereka terangkan itu jauh dari dasarnya. Dan yang bikin gua lebih geram lagi, kebodohan itu tetap merajalela tanpa pernah berpikir untuk merubahnya.”

Ya. Gua geram dengan keadaan sekeliling gua. Gua pernah dijegkalin dengan orang-orang hanya karena gua memberikan jawaban yang salah. Gua juga pernah dituduh anak bodoh karena gua berasal dari jakarta. Gua juga pernah dianggep anak idiot karena perilaku gua yang dicerminkan dari penampilan gua. Terkadang gua juga geram dengan universitas-universitas lain yang menganggap dirinya lebih pintar dibandingkan dengan universitas tempat gua belajar. Padahal, buku yang digunakan pun sama. Dengan arus informasi yang begitu cepat, bukan tak mungkin seorang anak dari universitas daerah bisa menyamai kemampuannya dari universitas di kota besar. Ya kan?. Tap, yang seringnya terjadi, anak daerah tetap merasa rendah diri saat berhadapan dengan mereka yang berasal dari kota besar. Tapi, hal ini tidak berlaku untuk gua. Karena gua sendiri berasal dari kota besar. Gua dididik untuk tidak harus rendah diri sebelum ada bukti bahwa kemampuan gua kurang dibandingkan dengan orang lain. Thanks god, gua besar di jakarta. Dimana pengaruh persaingan begitu kental. Tipikal kehidupan di kota besar. Dididik untuk selalu tetap berjuang. Tanpa ada didikan dari keluarga, gua rasa gua juga tidak akan pernah menjadi seperti sekarang ini. Bersukur dengan apa yang telah gua punyai. Walaupun, kadang-kadang hal itu sering terlupakan oleh gua. Tapi, gua tetap berjuang. Berjuang untuk menjadi yang terbaik dengan cara yang jujur dan terbuka. Semoga saja akan tetap begitu. Amin.

Balik ke masalah mengajar. Dalam proses ini, tak jarang gua menemui hambatan. Biasanya berupa masalah pribadi yang dibawa menjadi masalah umum. Yang gua herannya, justru asalnya kebanyakan dari anak-anak sini sendiri. Contoh aja, ga bisa lagi belajar kalo duduk diwarung kopi. Dikarenakan belajar ada waktunya. Emang bener sih pendapat demikian. Tapi, saat kita bengong dan orang lain sibuk tertawa-tawa tanpa kita terlibat didalamnya, kan pastinya membuat kita menjadi suntuk dan bingung harus melakukan apa. Ga ada salah juga kan kalo kita berdiskusi diwarung kopi?. Lagian, warung kopi juga bukan punya emaknya dia. Tentunya dia ga punya hak ntuk ngelarang-larang dong. Hehehe

Yang bikin gua kembali bingung adalah saat gua mempertanyakan diri kenapa gua harus mengajar?. Ngapain gua cape-cape ngajarin orang yang belum tentu juga bisa menerima apa yang gua ajarin. Atau lebih parahnya lagi, emang lu siapa?. Belum tentu lu berguna bagi gua kalo gua ngajarin elu. Jadi dokter elu sendiri. Yang pinter juga elu sendiri kalo belajar. Kenapa gua memaksakan diri untuk mengajar?. Kenapa?. Karena ingin mencerdaskan kehidupan bangsa aceh?. Hahaha, naif sekali jawaban kaya gitu. Tapi apa boleh buat. Gua sendiri ga tau jawabannya. Yang gua lebih tau adalah imbasnya. Efeknya. Implikasinya. Makanya gua suka bingung saat gua ditanya ngapain cape-cape ngajarin orang?. Sok mulia banget gua hari kaya gini. Tapi, semua anggepan yang uncul dari gua maupun orang lain selalu gua tepiskan jauh-jauh. Walaupun gua ga tau, mungkin inilah jalan yang terbaik. Jalan yang gua yakini benar. Walaupun gua banyak menemui hambatan, tantangan dan rintangan, gua ga akan pernah berhenti untuk terus berkarya. Untuk terus menciptakan sesuatu. Walaupun sesuatu itu kecil dan gampang dilupakan oleh orang. Bukankah sesuatu yang besar itu berasal dari yang kecil?. Bukankah setiap perjaan yang jauhnya ratusan mil pada awalnya selalu dimulai dari langkah pertama?. Dan mungkin inilah langkah pertama gua menuju langkah-langkah selanjutnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: