Skip navigation


“Cat, kapan masuk KKSnya?”. Tanya salah seorang temen gua.

“Ga tau. Gua denger-denger sih setelah selesai OSCE anak-anak PBL”. Jawab gua dengan singkat.

“Nanti kalian langsung masuk satu kelompok atau disisipin?”.

“ Yang gua denger sih disisipin sama kelompok laen. Ga jelas juga gua.”

“ Kalo misalkan disisipin ko masuk kelompok aku aja”. Tawar temen gua ini.

“ Emang lu dibagian apa?.”

“ Anak.”

“ Oh, boleh”. Dengan sejuta pikiran berkecamuk didalam kepala gua.

***

“ Cat, ko kapan masuk KKS nya?”. Tanya temen gua yang lain lagi.

“ Mungkin sama kaya kalian. Lu kan masuk gelombang 2 kan?”.

“ Iya, aku masuk 2 minggu lagi di kardio”.

“ Wah, keren tuh. Bakalan ketemu Professor Aceh. Penasaran gua dengan ilmunya. Denger-denger emang pinter ya dia?.”

“ Iya, pinter kali pun. Makanya, ko masuk kelompok aku aja.”

“ Wah, gua udah janji mau masuk bagian anak. Tapi, kardio lebih menantang tuh. Apalagi kalau disuruh kemping. Hehehe. Bolehlah, aku pikir-pikir dulu Lagian juga masih lama. Liat-liat nanti ajalah.”

***

“ Gondok kali aku. Masa aku masuk gelombang 2?!”.

“ Loh, bukannya elu masuk sama temen kelompok lu yang KKJ?”

“ Apa dia tuh, putar sana-putar sini. Terakhir ga bisa bantu aku juga.”

“ Lah, emang kenapa dengan masuk gelombang 2?”

“ Bukan gitu masalahnya. Kalo emang ga bisa bantu, ga usah kasih harapan dari awal. Itu yang bikin aku gondok. Masa si Ishak bisa satu gelombang besar sama dia, eh aku malahan masuk gelombang 2 walaupun dibagian yang sama.”

***

“ Bang, kalau dibagian PD bagusnya belajar apa?”

“ Ko belajar dari pemeriksaan fisik dulu lah. Itu kan standar kali.”

“ Emang yang biasa ditanya apa bang?”

“ Ya tentang pasien yang ko dapet lah.”

“ Siapa bang yang paling killer dibagian bang?”

“ Semua. Pasti semuanya killer lah kalo ko ga tau apa-apa. Apalagi kalo ko sama sekali ga tau tentang pasien ko. Ajablah!!”

“ Jadi, bagusnya aku ngapain bang?”

“ Ya belajarlah setan!!. Ko lama-lama makin aneh kuliat. Pergi sana belajar-belajar.”

***

Jo, rame dilingke. Si cacat ada?”. Sms dateng ke Hpnya si Jo.

“ Cat, tanya ko nih?”. Si Jo kasih tau ke gua.

“ Bilang apa dia?”

“ Tanya ko ada apa ngga.”

“ Ya udah,bilang aja ada. Aku ga ada pulsa.”

“ Cacat ada di lingke.” Si jojo bales sms

“ Aku boleh nginep di lingke malam ni?”. Balesan sms dateng.

“ Ya bolehlah”. Si jojo me-reply.

“ Kenapa dia bang?. Kok aneh gitu sms. Tumben dia tanya-tanya ada gua apa ngga. Biasanya ga pernah. Emang dia masuk bagian apa?.” Tanya gua sambil curiga ke abang-abang yang sedang maen gaplek.

“ Kardiologi”. Jawab abang gua singkat.

“ Oh…”. Pantesan aja.

***

Lama-lama gua jadi gondok dengan situasi seperti ini. Semuanya kok rada-rada panik karena besok adalah hari pertama KKS (Kepaniteraan Klinik Senior). Emang ada apa dulu?. Takut dimarahin karena ga bisa?. Atau biar keliatan diri kita pinter karena bisa sehingga besok-besok dosen ga mau tanya kita lagi?. Atau ketakutan dengan individu-individu yang sebelumnya ga pernah akrab dengan mereka?. Kenapa semuanya tiba-tiba menjadi sebuah ketakutan yang berlebihan?.

In my opinion, yang namanya Ko-ass emang udah jadi makanan sehari-hari kalo kena maki. Udah jadi hal yang wajar kalo kita memang ga tau apa-apa. Basically, yang namanya Ko-ass adalah sebuah konfigurasi dengan installasi yang mendidik kita agar kita bisa mendiagnosa pasien dengan tepat. Itu kan ?. Sebuah proses panjang yang intinya mendidik kita agar bisa praktek di lapangan begitu lulus nanti. Kalo orientasinya berubah karena hal-hal yang gua sebut diatas, gimana kedepannya?. Gua rasa susah tuh buat ilmu untuk kekal didalam otaknya.

Ini adalah salah satu kelemahan yang sering banget terjadi. Takut dimarahin dosen karena kebodohan diri sendiri. Menurut gua ini sih salah. Dengan metode pembelajaran mata kuliah yang tiap hari cuma berprinsip yang penting lewat mata kuliah, ilmu apa yang bisa kekal didalam otaknya?. Sebagai contoh nyata gini deh. Pasien datang dengan keluhan demam disertai mencret. Apa di agnosanya?. Ini sering banget jawabannya adalah ga tau. Mending ditanya gitu deh, diagnosanya apa. Apalagi kalau ditanya dengan apa DIAGNOSA BANDING kamu?. Sebiji diagnosa aja ga ada. Apalagi kalau ditanya tentang diagnosa banding?.

Halah-halah. Gua rasa sebenernya ini yang musti ditakutkan. Saat kepala lu ga bisa jawab salah satu penyakit sesuai dengan simptomnya. Itu yang musti dipelajarin. Kan tujuan lo ada disitu adalah gimana bisa mendiagnosa pasien dengan tepat. Emang sih simple, tapi pada prakteknya sangat sulit buat dilakuin. Itulah lo butuh 2,5 tahun buat belajar. So, above all, it’s all about process in ur life untuk mendapatkan konfigurasi dengan sistem installasi yang sempurna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: