Skip navigation


Ide itu mahal. Ga percaya?. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang menyewa tenaga orang-orang muda yang energetik, kreatif dan penuh dengan sumber ide. Tidak tanggung-tanggung, mereka dibayar mahal. Apalagi jika bekerja dalam dunia advertising dan publikasi yang memang sarat dengan ide-ide segar. Bagaimana dengan anak-anak fakultas kedokteran kita ?

Dalam hasil pengamatan pribadi Saya, ternyata banyak teman-teman yang menghabiskan waktu luang dengan berbagai cara. Ada yang sibuk dengan kegiatan-kegiatan, ada yang sibuk dengan pacaran, ada yang sibuk dengan berkutat dirumah, ada yang sibuk belajar terus, ada yang sibuk dengan cek friendster alias browsing internet, ada yang sibuk bermain game football manager, ada yang nonton dvd, dan yang tidak kalah seru, nongkrong di warung kopi.

Yang namanya Kota Banda Aceh, itu penuh dengan warung mie, warung nasi goreng dan tentunya warung kopi. Ini fenomena menarik. Dalam studi Yakita dkk sehabis tsunami (UNICEF), beliau menyatakan bahwa banyak sekali anak muda yang menghabiskan waktunya dengan duduk diwarung kopi. Rata-rata mereka menghabiskan waktu satu hingga dua jam sambil merokok sekitar 1-2 bungkus. Hal ini pernah menjadi semacam ’dasar’ project bagi beberapa organisasi badan PBB tersebut karena menurut mereka pemuda adalah lahan yang potensial dalam merubah Banda Aceh yang telah porak-poranda.

Tapi, bukan ini yang dibahas. Melainkan fenomena warung kopi itu sendiri. Dulu, Saya sendiri menganggap nongkrong diwarung kopi adalah pekerjaan yang sangat sia-sia Saya sempat takjub ketika mendengar dari teman Saya bahwa ada orang yang menghabiskan waktunya berjam-jam diwarung kopi dengan hanya ditemani secangkir kopi dan berbungkus-bungkus rokok. Saat itu Saya hanya berkata ”hanya orang yang ga ada kerjaan yang menghabiskan waktunya untuk hal yang ga penting..”. Sampai Saya semester 4, Saya tidak pernah mau dengan yang namanya nongrong diwarung kopi.

Semua itu berubah ketika Saya merasakan nikmatnya duduk berjam-jam diwarung kopi. Hal ini terjadi tanpa sengaja karena kost-an Saya dekat dengan warung kopi. Hal ini juga diperparah dengan semua teman-teman Saya karena mereka suka sekali pergi kewarung kopi tesebut hingga tinggal Saya sendiri dirumah kost. Padahal, besoknya ada mid-test!!. Walhasil, daripada Saya bosan menunggu, tampaknya lebih baik Saya harus merelakan untuk meluangkan waktu sedikit dengan bersenang-senang menghibur diri dari stress. Tapi ternyata, ketika sampai diwarung kopi tersebut, teman-teman Saya sedang menghafal dan berdiskusi tentang mata kuliah untuk mid besok. Saya tdak pernah menyangka karena Saya justru mendapatkan hal yang lebih dengan duduk diwarung kopi. Banyak informasi baru yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya, justru menambah wawasan Saya. Bukan itu saja, perdebatan yang berlangsung juga tak kalah seru. Mulai dari dasar anatomi, histologi, biokimia, hingga fisiologi pun menjadi argumen demi memenangkan debat akan suatu kasus, dan otomatis, itu menambah wawasan bagi yang belum tahu seperti Saya.

Bukan hanya itu saja. Seringkali, rencana-rencana untuk melakukan suatu kegiatan atau yang biasa disebut project juga tercetus diwarung kopi. Mulai dari mau ikut lomba karya tulis, mengadakan kegiatan amal, sampai kepada melamar pekerjaan juga terjadi disitu. Menulis proposal, membuat resume kuliah, sampai sekedar merenung juga terjadi disitu. Yang lebih untung lagi apabila ada dokter muda ataupun senior yang sering duduk diwarung kopi (mungkin karena jenuh dengan aktivitas, mereka juga meluangkan waktunya untuk berehat sejenak dengan duduk diwarung kopi); tak jarang infomasi tentang hal-hal yang tidak kita mengerti dengan mudah didapatkan. Bahkan hingga kepada tipikal dosen, dan cara melakukan suatu tindakan kepada pasien dengan kasus-kasus tertentu juga dengan mudahnya Saya dapatkan di warung kopi!!.

Keberuntungan Saya pun juga terjadi di warung kopi. Saya juga baru tersadar, ternyata banyak juga dosen fakultas kedokteran yang juga menghabiskan waktunya diwarung kopi. Tak jarang, sebagai mahasiswa kita diajak berdiskusi dengan dosen tersebut. Mulai dari apa sebenarnya inti dari mata kuliah yang dia ajarkan, sampai kepada keinginan dosen untuk membantu mahasiswa tersebut dengan membuka program crash (terimakasih Dok!!, jasamu akan Saya ingat selalu). Bayangkan?!. Saya sendiri saja masih geleng-geleng kepala dengan nikmatnya duduk di Warung Kopi. Ternyata anggapan Saya salah selama ini tentang buruknya nongkrong diwarung kopi. Jangan salah, untuk tempat salat pun, warung kopi juga menyediakannya. Jadi, kita juga tidak perlu susah-susah untuk hanya sekedar mencari mushalla dan masjid terdekat karena diwarung kopi pun kita juga bisa salat berjamaah. Kalau sudah dekat dengan penjualnya, tak jarang kita bisa ’nunggak’ atau bon diwarung kopi itu. Ini semakin menambah rasa suka Saya terhadap warung kopi, apalagi jika akhir bulan datang menghampiri Saya.

Sehingga Saya bisa menyimpulkan bahwa Saya telah salah dengan menghakimi bahwa nongkong diwarung kopi adalah pekerjaan yang sia-sia, karena ternyata justru banyak manfaat yang saya dapatkan. Jelek atau buruknya sebenarnya ditentukan oleh diri sendiri dengan mempertanyakan kembali tujuan kewarung kopi. Kalau memang belum pernah mencoba, cobalah. Karena ada pepatah ”you will never know untill you try it”. Kalo menurut Kamu merupakan pekerjaan yang sia-sia, maka jangan Kamu lakukan lagi. Tapi, kalau itu justru ada hal yang berguna yang Kamu dapatkan, maka kamu bisa berpikir untuk pergi sekali lagi atau tidak sama sekali. Semuanya terserah pada Kamu. Pada dasarnya, ternyata menghakimi sesuatu lebih mudah, padahal kita belumlah mengetahui tentang sesuatu tersebut. Ini salah dan harus dipebaiki.

Tampaknya Saya harus memesan kopi lagi kali ini. Ya, Saya membuat artikel ini juga diwarung kopi dengan memperhatikan orang-orang disekeliling Saya. Ternyata, melihat keberagaman orang-orang dan memperhatikan ekspresi mereka saat meneguk kopi itu terasa amat sangat indah. Satu hal yang selalu Saya lupakan dimana Saya selalu belajar tentang inti dasar ilmu kedokteran yaitu dengan memperhatikan mereka yang nantinya akan menjadi pasien Saya kelak, dimana ”ethics, caring, and science…..” merupakan dasar bagi ilmu kedokteran mendatang.

-Satria Perwira-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: