Skip navigation


“ Terima kasih kepada dokter muda X yang sudah memaparkan tinjauan kepustakaan serta presentasi kasus. Berikutnya adalah sesi Tanya jawab. Kepada dokter muda lain yang ingin bertanya, dipersilahkan untuk menjawabnya”. Kata sang moderator yang memandu presentasi kasus. Yup, untuk dinyatakan lulus dalam suatu bagian tertentu atau untuk bisa ikut ujian, elu harus presentasi kasus dulu dengan dokter pembimbing. Hal ini disebut ‘baca’. Nah, dalam presentasi itu bukan Cuma sang dokter pembimbing yang dating. Seringnya adalah, dokter muda lain ikut ambil bagian dalam presentasi ini. Selain untuk mengupdate ilmunya secara gratis, terkadang juga untuk mengetahui tipikal dosen saat ngebaca. Atau yang lebih parah, kalo konsulennya terkenal agak-agak killer , pengen ikut nyaksiin gimana dokter muda tersebut dibantai. Hehehe, cukup parah.

“ Baik. Saya ingin bertanya. Dikatakan didalam slide bahwa jika lini pertama untuk pengobatan malaria gagal, digunakanlah lini kedua. Nah, kapan pengobatan lini pertama menurut Anda ini gagal?”. Pertanyaan yang sangat cerdas menurut gua. Wah, bakalan seru nih diskusinya. Soalnya ini ga ada dalam scenario. Hehehe, bingung lagi ya scenario?. Nah, terkadang, untuk membuat kita terkesan gab ego-bego amat dan menguasai pasien, sama dokter muda yang buat presentasi di bikin pertanyaan sama dia dengan dia buat dikertas trus dibagiin sama dokter muda yang ikutan baca. Tentunya, dia juga udah mempersiapkan jawabannya. Dengan begitu, saat diajukan sesi tanya jawab, semua pertanyaan akan dijawab dengan lancer sama dokter muda yang presentasi. Gitu loh … Terkesan selfish banget memang. Tapi gap antes buat disalahkan. Karena memang ada argumennya sendiri. Gua sendir termasuk salah satu orang yang paling ga setuju untuk berbuat seperti itu. Tapi gua juga ga bisa menyalahkan orang lain yang berbuat seperti itu dkarenakan oleh berbagai factor. Bisa karena kasian karena dia cape buat nyiapin presentasi, cape jaga, dan cape karena berbagai hal. Kalo mau dibantah bisa juga sebenarnya. Seperti, itu kan memang tugas elu, Jadi ngapain juga elu selama ini?. Hehehe, masih bisa diperdebatkan. Dan biasanya panjang banget untuk hal-hal prinsipil seperti ini. Yang penting, gua ga seperti dia. Selalu itu aja yang menjadi patokan buat gua.

Kembali ke pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang audiens, si presenter menjawab dalam waktu yang cukup lama. Mungkin ada sekitar 5 menitan. Hingga terakhir, sang konsulen menegurnya.

“ Hayo, itu pertanyaan yang sangat bagus. Silahkan untuk dijawab. Kamu ga tau?. Bagaimana kamu bisa ga tahu?. Dalam presentasi, semuanya ini adalah punya kamu. Everything is yours. Kamu kalau bisa menguasai, kamu bilang apa saja orang ini pun ga akan tahu. Karena hanya kamu yang menguasai. Cuma ga boleh gitu juga, karena kamu menyesatkan orang lain. Haram hukumnya. Jadi gimana?”

Sang presenter pun hanya bisa terdiam…

“ Pertanyaan kamu itu cukup bagus. Dan kamu (presenter) seharusnya tahu kapan kamu gunakan lini kedua. Tentunya ada criteria kan untuk itu?. Ga mungkin dong kalau kamu suka-suka dalam menggunakan obat lini kedua tanpa ada sebabnya. Gimana?. Kamu harus menjawab. Salah sama saya ga kenapa-kenapa. Setidaknya, kamu mau untuk menjawab. Karena ini punya kamu. Kamu bisa bilang bahwa kamu meminta maaf bahwa kamu belum mengetahui, dan mengajukan ke audiens yang lain mungkin ada yang bisa membantu. Seperti itu. Bukan hanya dengan diam.” Sang konsulen pun tampaknya hari ini cukup baik sekali. Menurut gosip2 yang beredar, ujian dengan konsulen ini susahnya minta ampun. Seringnya banyak ga bisa jawab. Tapi entah kenapa, semua yang konsulen ini bilang atau terangkan, sedikitpun tidak ada kesalahan. Karena menurut gua, apapun yang konsulen ini bahas, selalu sesuai untuk dokter umum.

Jadi, sebenarnya menurut gua ada suatu criteria sendiri kapan dokter muda dikatakan lulus ujian atau tidak. Semuanya ada dasar penilaian. Dari semua pertanyaan, pertanyaan yang diajukan pun sebenarnya standar sekali. Memang cocok untuk dijadikan pertanyaan bagi dokter muda yang akan menjadi dokter umum. Namun, yang namanya ‘self defensing mechanism ego’ memang menjijikkan. Terkadang konsulen pun dijadikan bahan gunjingan. Bukannya gua membela konsulen atau menyerang dokter muda. Seringnya memang gitu kenyataannya. Banyak yang bilang dosen ini begini, atau begitu. Tapi, setelah gua ujian langsung sama dia, rupanya pertanyaan tersebut standar-standar saja. Konsulen pun memang meluluskan dokter mudanya jika memang patut untuk lulus. Begitu juga sebaliknya.

Dan memang benar, pertanyaan demi pertanyaan selanjutnya sang presenter memang tidak mampu untuk menjawabnya. Sia-sia gua dating untuk menyaksikan semuanya. Karena gua juga jadi kurang mendapatkan ilmu yang maksimal. Kalaupun ada, mungkin dari sedikit arahan konsulennya. Atau slide yang ditampilkan. Selebihnya nihil. Padahal, menurut gua adalah lebih baik dengan berdiskusi untuk mencapai apa yang namanya kebenaran. Bener kata temen gua yang ‘aneh’. Kebenaran itu mahal banget harganya. Mudah untuk dicari, tapi sulit untuk didapatkan.

4 Comments

  1. salam kenal

  2. y,srg bgt kejadian kaya gini gw alami wkt maju referat,yg pengin cari nilai lah,yg mo selamet lah dari pembantaian(istilah temen2 gw).y skrg balik sm diri kita msg2.

  3. gw sendiri aja ga mampu buat berkata apa-apa :d

  4. betul tu bg….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: