Skip navigation


Seorang Pasien laki-laki berusia 24 tahun datang ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (IGD-RSUZA) dengan keluhan utama sesak nafas dimalam hari disertai dengan batuk yang menurut pasien semakin memperberat sesak nafas yang dideritanya. Batuk tersebut berdahak dan berwarna kuning kental dengan jumlah yang cukup banyak. Sebelum merasakan sesak nafas, orang sakit mengeluh nyeri dada yang timbul di sekitar perut sebelah kanan. Nyeri tersebut dirasakan mendadak olehnya dan semakin lama semakin berat meskipun pasien telah mencoba beristirahat untuk mengurangi nyeri yang dirasakannya. Nyeri tersebut kemudian menjalar ke perut sebelah kanan dan dirasakan paling nyeri di perut tengah bagian atas pusar. Setelah itu, barulah pasien merasakan sesak nafas yang dirasakan paling berat pada malam hari dan berkurang di pagi harinya. I.PENDAHULUAN Bronkhiektasis adalah bentuk abnormal dan dilatasi permanen dari bronchus. Bronchiectasis dapat bersifat fokal, melibatkan suplai udara yang terbatas pada wilayah parenkim paru; atau difuse, melibatkan jalan nafas dengan distribusi yang tersebar. Meskipun definisi ini didasarkan dari perubahan patologis pada bronchus, diagnosis seringkali dilakukan dengan konsekuensi klinis dari infeksi recurrent atau kronik pada jalan nafas yang dilatasi dan dikaitkan dengan sekresi yang bergabung dalam jalan nafas ini. Bronkiektasis merupakan penyakit yang jarang ditemui yang sering menyebabkan kesakitan yang parah, termasuk infeksi pernapasan berulang yang memerlukan antibiotik, batuk produktif yang menganggu, sesak napas, dan hemoptisis. Hal yang menonjol dari sejarah bronkiektasis adalah gambaran hidup pasien yang tampak pada tulisan Rene Theophile Hyacinthe Laennec pada awal abad ke 19, penjelasan pada tahun 1922 oleh Jean Athanase Sicard dari bronkografi dengan kontras, yang memungkinkan pencitraan dari perubahan destruktif pada saluran napas, penelitian yang dilakukan oleh Lynne Reid pada tahun 1950an yang menghubungkan bronkografi dengan spesimen patologis, dan selanjutnya terjadi pengurangan prevalensi yang mungkin hadir dengan adanya terapi antituberkulosis dan imunisasi terhadap pertusis dan campak. Terima kasih untuk Reid atas usahanya, definisi penyakit ini masih tetap bertahan selama 50 tahun, yaitu bronkiektasis merupakan dilatasi permanen bronkus. Ia bisa dikategorikan berdasarkan gambaran patologis dan radiografik saluran napas. Bronkiektasis silindris atau tubuler ditandai oleh saluran napas yang berdilatasi dan kadang-kadang terlihat sebagai efek residual terhadap pneumonia. Bronkiektasis varikosa (yang juga disebut demikian karena gambarannya sama dengan vena varikosa) ditandai dengan daerah konstriksi fokal sepanjang saluran napas yang dilatasi yang disebabkan oleh defek pada dinding bronkus, dan bronkiektasis sakkuler atau kistik yang ditandai oleh dilatasi progresif saluran napas, yang berakhir pada kista yang besar, sakulus dan gerombolan yang mirip anggur (temuan ini selalu mengindikasikan bentuk bronkiektasis yang sangat berat). Bronchiectasis merupakan konsekuensi dari inflamasi dan rusaknya komponen structural dari dindiing bronchus. Infeksi merupakan penyebab biasa dari inflamasi; mikroorganisme seperti Pseudomonas aeruginosa dan Haemophilus influenzae menghasilkan pigmen, protease, dan toksin lain yang melukai epitel respiratory dan kerusakan clearance mukosilier. Inflamasi Host menginduksikan kerusakan epitel, besarnya sesuai dengan hasil mediator yang dilepaskan dari netrofil. Sebagai proteksi dalam melawan infeksi yang compromised, jalan nafas yang terdilatasi menjadi susceptible untuk berkoloni dan tumbuhnya bacteria. Maka, siklus dengan inflamasi timbul dan menghasilkan kerusakan nafas, kerusakan clearance mikroorganisme, dan infeksi lebih jauh, dimana kemudian menghasilkan inflamasi yang berlebihan. Adenovirus dan virus influenza merupakan virus utama yang dapat menyebabkan bronchiectasis dalam kaitannya dengan keterlibatan traktus respiratorius bagian bawah. Infeksi bacterial virulent, terutama dengan organism nekrotik potensial seperti Staphylococcus aureus, Klebsiella, dan anaerobic, tetap merupakan penyebab terpenting dari bronchiectasis ketika pengobatan antibiotic untuk pneumonia tidak diberikan atau secara signifikan terlambat. Bronchiectasis sendiri telah dilaporkan pada pasien dengan infeksi HIV, mungkin setidaknya sebgaian sesuai infeksi bacterial rekuren. Tuberculosis dapat menghasilkan bronchiectasis dengan efek nekrotik pada parenkim paru dan jalan nafas dan secara tidak langsung sebagai konsekuensi dari obstruksi jalan nafas dari bronchostenosis atau kompresi ekstrinsik oleh nodus limfe. Mikobakterial nontuberkulosis seringnya dikultur dari pasien dengan bronchiectasis, seringnya sebagai infeksi sekunder atau organism yang terkolonisasi. Bagaimanapun, sekarang ini telah dikenali bahwa organisme ini, terutama kompleks mikobakterium avium, dapat menjadi pathogen primer yang dikaitkan dengan perkembangan dan atau progresi bronchiectasis. Mikoplasma dan infeksi jamur nekrotik merupakan penyebab yang jarang dari bronchiectasis. Kerusakan mekanisme pertahanan inang sering dilibatkan pada predisposisi dari infeksi rekuren. Penyebab utama dari kerusakan yang terlokalisis dari pertahanan inang adalah obstruksi endobronchial. Bakteri dan sekresi tidak dapat dibersihkan secara adekuat dari jalan nafas yang sudah obstruksi, dimana akan menimbulkan infeksi rekurent atau infeksi kronik. Pertumbuhan lambat dari neoplasma endobronchial seperti tumor carcinoid dapat dikaitkan dengan bronchiectasis. Aspiras benda asing juga merupakan penyebab penting lain dari obstruksi endobronchial, terutama pada anak-anak. Obstruksi jalan nafas juga dapat dihasilkan dari bronchostenosis, dari sekresi impactes, atau dari penekanan ekstrinsik oleh nodus limfatikus yang membesar. Kerusakan utama dikaitkan dengan disfungsi siliar, yang dinamakan primary ciliary dyskinesia, bertanggung jawab untuk 5 hingga 10% kasus bronchiectasis. Beberapa defek dimasukkan kedalam kategori ini, termasuk abnormalitas struktur dari lengan dynein, radial spokes, dan microtubulus. Cilia menjadi dyskinetic; mereka berkordinasi, aksi propulsi is diminished, dan clearance bacterial menjadi rusak. Pasien biasanya dengan batuk yang rekurent dan persisten disertai dengan produksi sputum. Hemoptysis timbul pada 50-70% kasus dan hal ini terjadi sesuai perdarahan, jalan nafas mukosa yang terinflamasi. Lebih signifikan lagi, meskipun perdarahan massive seringkali merupakan konsekuensi perdarahan dari arteri bronchial yang hipertrofi. Ketika episode infeksi spesifik mengawali bronkhiektasis, pasien menjelaskan sesak nafas yang sangat berat diikuti dengan batuk kronis dan produksi sputum. Secara alternative, pasien tanpa gejala awal seringkali digambarkan dengan lamanya gejala. Pada beberapa kasus, pasien baik dengan tidak adanya gejala atau mempunyai batuk yang nonproduktif, seringkali dikaitkan dengan bronchiectasis kering pada lobus atas. Dyspneu atau wheezing secara umum merefleksikan baik bronchiectasis yang tersebar, maupun penyakit paru obstruksi kronis yang mendasarinya. Dengan eksaserbasi infeksi, jumlah sputum meningkat, dan menjadi lebih purulent serta seringkali berdarah, kemudian pasien menjadi demam. Episode seperti ini sesuai dengan eksaserbasi infeksi jalan nafas yang terkait infiltrat parenkim dan terkadang merefleksikan adjacent pneumonia. Pada pemeriksaan fisik dada dari area bronchiectasis seringkali bervariasi. Kombinasi dari crackles, rhonchi, dan wheezing dapat didengar, yang kesemuanya merefleksikan kerusakan jalan nafas dengan kandungan sekresi yang signifikan. Hampir seluruh pasien dengan bronkiektasis mengalami batuk dan produksi sputum kronik. Sputum berbeda-beda, ada yang mukoid, mukopurulen, kental, encer, atau banyak. Bercak darah di sputum atau hemoptisis mungkin juga disebabkan oleh kerusakan saluran napas yang erosif yang diakibatkan oleh infeksi akut. Dispneu dan wheezing terjadi pada 75 persen pasien. Nyeri dada pleuritik terjadi pada 50 persen pasien dan mencerminkan adanya distensi saluran napas perifer atau pneuminitis (alveolus terisi dengan zat kimia) distal di sekitar permukaan pleura viseral. Suara napas tambahan pada pemeriksaan fisik toraks, yang meliputi crackle (pada 70 persen pasien), wheezing (pada 34 persen pasien) dan rhonki (pada 44 persen pasien), merupakan kunci diagnosis. Meskipun radiograph dada amat penting dalam mengevaluasi dugaan bronchiectasis, penemuan seringkali tidak spesifik. Satu yang ekstrem, radiograph dapat saja normal dnegan penyakit yang ringan. Secara alternative, pasien dengan bronchiectasis saccular dapat mempunyai ruang cyst prominen, baik dengan atau tanpa kadar udara-air, berkaitan dengan jalan nafas yang berdilatasi. Hal ini mungkin sulit dibedakan dari pelebaran ruang udara karena emfisema bullosa atau dari wilayah honeycomb pada pasien dnegan penyakit paru interstisial. Penemuan lain sesuai dengan jalan nafas yang dilatasi dengan penipisan dinding, dimana dihasilkan dari inflamasi peribronchial. Karena aerasi menurun dan atelektasis terkait parenkim paru, jalan nafas dilatasi ini seringkali berkumpul secara paralel. Ketika dilihat secara longitudinal, jalan nafas timbul sebagai “tram tracks”; ketika dilihat dengan cross section, mereka menghasilkan bayangan cincin. Karena jalan nafas dilatasi dapat diisi dengan sekresi, lumen tampak dens dibandingkan dengan radioluscent, menghasilkan tubular opak atau cabang struktur tubular. PRESENTASI KASUS I. IDENTITAS PRIBADI Nama : Tn. A Jenis Kelamin : Laki – laki Umur : 24 tahun Alamat : Mata Ie, Banda Aceh Status : Belum Kawin Suku : Aceh Pekerjaan : – Agama : Islam Tanggal Masuk : 01 Mei 2008 Tanggal Pulang : 08 Mei 2008 II. ANAMNESA PENYAKIT A. Keluhan utama : Sesak Nafas B. Keluhan tambahan : Nyeri Dada & Batuk C. Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang dari Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (IGD-RSUZA); dikirim oleh dr. Luthfi Helmi, Sp P dengan keluhan utama sesak nafas dimalam hari disertai dengan batuk yang menurut pasien semakin memperberat sesak nafas yang dideritanya. Batuk tersebut berpustum dan berwarna kuning kental dengan jumlah yang cukup banyak. Sebelum merasakan sesak nafas, orang sakit mengeluh nyeri dada yang timbul di sekitar perut sebelah kanan. Nyeri tersebut dirasakan mendadak olehnya dan semakin lama semakin berat meskipun pasien telah mencoba beristirahat untuk mengurangi nyeri yang dirasakannya. Nyeri tersebut kemudian menjalar ke perut sebelah kanan dan dirasakan paling nyeri di perut tengah bagian atas pusar. Setelah itu, barulah pasien merasakan sesak nafas yang dirasakan paling berat pada malam hari dan berkurang di pagi harinya. Menurut Orang Sakit, sesak nafas sudah seringkali terjadi berulang kali sebelumnya. Seperti halnya 5 bulan yang lalu; pasien juga pernah dirawat di RSUZA dengan keluhan yang sama. Setelah keadaan berangsur membaik, Orang Sakit berobat jalan di Poli RSUZA. Orang Sakit juga meminum obat-obatan yang diberikan oleh Dokter secara teratur. Pasien sendiri menyangkal pernah merokok; baik dalam waktu yang singkat maupun lama. Begitu juga dengan penggunaan ganja sebagai bahan rokoknya. Didalam keluarganya berdasarkan keterangan yang didapat dari Ibu Orang Sakit, anggota keluarganya tidak pernah ada yang sakit dengan gejala yang sama dengan Orang Sakit saat ini. Riwayat asthma (-), Riwayat Merokok (-), Riwayat Penyakit Jantung (-), Riwayat Hipertensi (-) dan Riwayat DM (-) D. Riwayat Penyakit dahulu : Disangkal (Hepatitis, DHF, Malaria, Typhus, dll) E. Riwayat pemakaian obat : OAT, Antibiotik, dan Obat lain yang tidak diketahui namanya. F. Riwayat Penyakit Keluarga : Disangkal III PEMERIKSAAN FISIK A. Status Present • Keadaan umum : Sedang • Kesadaran : Compos Mentis • Vital sign : o Tek. Darah : 100/60 mmHg o Nadi : 140 x/menit o Respirasi : 32x / menit o Temperatur : 36,9 0 C – Tinggi badan : (tidak diukur) cm – Berat badan : (tidak dihitung) kg – Status gizi : kurang B. Status General Kulit Warna : coklat Turgor : Tidak Kembali Icterus : (-) Sianosis : (-) Udema : (-) Kepala Mata : Pupil isokor, refleks cahaya (+/+), Conjungtiva palpebra inferior pucat (-/-), sklera ikterik (-/-) Hidung : Sekret (-/-), NCH (-/-) Mulut : Lesi (-) Leher : peningkatan TVJ (-), pembesaran KGB (-) Thorax Thoraks Depan : Inspeksi Statis Dinamis  Simetris pada saat inspirasi maupun ekspirasi  retraksi (+)  Simetris pada saat inspirasi maupun ekspirasi  retraksi (+) Palpasi Stem Fremitus Paru kanan Paru Kiri Lap. paru atas Normal Normal Lap. paru tengah Normal Normal Lap. Paru bawah Normal Normal Perkusi Paru Kanan Paru Kiri Lap. Paru atas Sonor Sonor Lap. Paru Tengah Sonor Sonor Lap. Paru bawah Sonor Sonor Auskultasi Suara Pokok Paru kanan Paru kiri Lap. Paru atas Vesikuler menurun Vesikuler Menurun Lap. Paru Tengah Bronchial Bronchial Lap. Paru bawah Bronchial Bronchial Suara Tambahan Paru kanan Paru kiri Lap. Paru atas Rh(-),Wh(-) Rh(-),Wh(-) Lap. Paru Tengah Rh(+),Wh(+), Crackels (+) Rh(+),Wh(+), Crackles (+) Lap. Paru bawah Rh(+),Wh(+), Crackles (+) Rh(+),Wh(+), Crackles (+) Thoraks Belakang Inspeksi Statis Dinamis  Simetris (+) : Dinding thoraks belakang kanan sama dengan dinding thoraks belakang kiri pada saat inspirasi maupun ekspirasi  retraksi (+)  Simetris (+) : Dinding thoraks belakang kanan sama dengan dinding thoraks belakang kiri pada saat inspirasi maupun ekspirasi  retraksi (+) Palpasi Stem Fremitus Paru kanan Paru Kiri Lap.paru atas Normal Normal Lap.paru tengah Normal Normal Lap. Paru bawah Normal Normal Perkusi Paru Kanan Paru Kiri Lap. Paru atas Sonor Sonor Lap. Paru Tengah Sonor Sonor Lap. Paru bawah Sonor Sonor Auskultasi Suara Pokok Paru kanan Paru kiri Lap. Paru atas Vesikuler menurun Vesikuler menurun Lap. Paru Tengah Bronchial Bronchial Lap. Paru bawah Bronchial Bronchial Suara Tambahan Suara Tambahan Paru kanan Paru kiri Lap. Paru atas Rh(-),Wh(-) Rh(-),Wh(-) Lap. Paru Tengah Rh(+),Wh(+), Crackles (+) Rh(+),Wh(+), Crackles(+) Lap. Paru bawah Rh(+),Wh(+), Crackles (+) Rh(-),Wh(+), Crackles (+) Jantung Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat Palpasi : Ictus cordis teraba ICS VI, medial linea mid clavicula sinistra. Perkusi : Tidak Dilakukan Batas-batas jantung Atas : – Kiri : – Kanan : – Auskultasi : BJ I > BJ II, reguler, bising (-) Abdomen Inspeksi : Kesan simetris Palpasi : Distensi abdomen (+), Nyeri tekan (+), Hepatosplenomegali ( tidak dilakukan ) Perkusi : Tympani usus (+) Auskultasi : Peristaltik usus (+) Extremitas : Edema ( – / – ) Sianosis ( – / – ) IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG Hasil foto rontgen thorax (tanggal 15 April 2008) : Hasil laboratorium (tanggal 1 Mei 2008) : Hb : 16 gr/dl Leukosit : 21,6 x 103/mm3 Trombosit : 361 x 103/mm3 Hematokrit : 47 % Gula Darah Random : 62 mg/dl IV. RESUME Pasien datang dari Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (IGD-RSUZA); dikirim oleh dr. Luthfi Helmi, Sp P, FCCP dengan keluhan utama sesak nafas dimalam hari disertai dengan batuk yang menurut pasien semakin memperberat sesak nafas yang dideritanya. Batuk tersebut berpustum dan berwarna kuning kental dengan jumlah yang cukup banyak. Sebelum merasakan sesak nafas, orang sakit mengeluh sakit dada yang timbul di sekitar dada sebelah kanan bagian bawah. Nyeri tersebut dirasakan mendadak olehnya dan semakin lama semakin berat meskipun pasien telah mencoba beristirahat untuk mengurangi nyeri yang dirasakannya. Nyeri tersebut kemudian menjalar ke perut sebelah kanan dan dirasakan paling nyeri di perut tengah bagian atas pusar. Setelah itu, barulah pasien merasakan sesak nafas yang dirasakan paling berat pada malam hari dan berkurang di pagi harinya. Menurut Orang Sakit, sesak nafas sudah seringkali terjadi berulang kali sebelumnya. Seprti halnya 5 bulan yang lalu; pasien juga pernah dirawat di RSUZA dengan keluhan yang sama. Setelah keadaan berangsur membaik, Orang Sakit berobat jalan di Poli RSUZA. Orang Sakit juga meminum obat-obatan yang diberikan oleh Dokter secara teratur. Pada pemeriksaan fisik yang dilakukan, ditemukan keadaan umum yang lemah, kesadaran Compos Mentis , Tekanan Darah 110/60 mmHg, nadi 140 x/menit, frekuensi napas 32 x/menit, dengan suhu 36,90C. Perkiraan Berat badan 40 kg, tinggi badan 160 cm. Pada thorax ditemukan thorax simetris, dan retraksi (+) serta crackles (+). Stem fremitus di lapangan paru kiri sama dengan paru kanan. Perkusi sonor pada seluruh lapangan paru kanan dan lapangan paru kiri. Pada auskultasi didapatkan suara vesikular menurun pada lapangan paru kanan dan lapangan paru kiri. Ditemukan ronkhi pada lapangan paru kanan dan kiri pada 2/3 basal hemithoraks. Ditemukan adanya wheezing pada akhir respirasi dengan amplitude pendek, ronkhi pada saat inspirasi ditemukan dikedua hemithorax pada 2/3 basal paru, serta crackles baik pada saat inspirasi maupun ekspirasi di kedua hemithorax kanan dan kiri, juga pada 2/3 basal paru. Pemeriksaan TVJ (-). Pada pemeriksaan region abdomen didapatkan distensi abdomen, nyeri tekan di regio flank sinistra dan paling hebat di regio epigastrium. Suara timpani juga didapatkan serta adanya perilstatik usus pada pemeriksaan abdomen. Riwayat asthma (-), riwayat merokok (-), riwayat penyakit jantung (-), riwayat hipertensi (-), riwayat DM (-) VI. DIAGNOSA BANDING  Bronchiectasis  Pneumonia  Bronkhitis kronis VII DIAGNOSA SEMENTARA Bronchiectasis VIII PENATALAKSANAAN 1. Planning therapi  Bed rest  Oksigen 2-4 lt / Menit  IVFD Ringer Laktat 20 Gtt / Menit  Antasida 3 x 1  Klindamisin 3 x 500 mg/hr  Ofloksasin 2 x 200 mg/hr  Omeprazol 2 x 20 mg/hr 2. Planning diagnostik  Pemeriksaan Lab Darah Lengkap • Pemeriksaan sputum BTA • Pemeriksaan foto thoraks 3. Planning evaluasi – Foto thorax PA kontrol 4. Planing Edukasi  Menjelaskan tentang penyakit yang diderita pasien  Edukasi terhadap pasien tentang pentingnya makan dalam proses rawatan  Minum obat teratur sebagaimana instruksi dokter  Sebisa mungkin menjauhi irritant seperti asap ataupun debu  Mengarahkan pasien untuk meningkatkan personal hygiene  Mengurangi kebiasaan yang dapat menimbulkan sesak dan factor-faktor pencetus lainnya. IX. PROGNOSIS Dubia ad Bonam X . PEMBAHASAN KASUS Tidak khas, sulit untuk didiagnosa. Itulah kesan pertama yang timbul dari pasien Tn. A ini. Hal ini dikarenakan Tn. A mempunyai semua gejala masalah respirasi pada umumnya. Sehingga semakin mempersulit untuk menegakkan diagnosa. Hal ini belum lagi ditambah dengan foto dada yang bervariasi, tergantung berat ringannya kelainan serta letak kelainan tersebut. Hasil yang didapatkan dari laboratorium juga kurang bisa membantu dalam menegakkan diagnose karena juga tidak adanya karakteristik dari bronkiektasis itu sendiri, walaupun biasanya menunjukkan kista-kista kecil dengan fluid level yang mirip dengan gambaran sarang tawon (honey comb appearance) pada daerah yang terkena. Namun, dengan pemeriksaan fisik yang cermat disertai dengan anamnesa yang menyeluruh terhadap pasien, akan dapat mempermudah dalam menegakkan pasien bronkiektasis. Berdasarkan anamnesa, didapatkan pasien Tn. A dating dengan keadaan umum yang lemah. Hal ini dimungkinkan oleh kelelahan akibat sesak nafas dan diperberat dengan batuk itu sendiri. Yang perlu dicatat dari riwayat pasien adalah, nyeri dada yang mendahului sesak. Bukan sesak nafas disertai dengan nyeri dada. Pada pasien bronkhiektasis, nyeri dada pleuritik terjadi pada 50 persen pasien dan mencerminkan adanya distensi saluran napas perifer atau pneuminits distal di sekitar permukaan pleura viseral. Hal ini juga lah yang menyebabkan TB Paru, bronchitis kronik serta tumor paru tidak menjadi diagnose banding pada pasien Tn. A ini. 5 bulan yang lalu pasien juga masuk rumah sakit dengan keluhan yang sama, yaitu sesak nafas dan batuk. Sesak nafas kemungkinan disebabkan adanya hambatan aliran udara oleh karena penumpukkan secret yang didukung dengan hasil auskultasi dimana didapatkan ekspirasi yang memanjang. Hampir sebagian besar pasien bronkiektasis mengeluh sesak nafas yang hebat. Timbul dan beratnya sesak nafas tergantung kepada seberapa besar destruksi jaringan paru yang terjadi sebagai akibat infeksi berulang sehingga akhirnya menimbulkan sesak nafas. Dyspneu atau wheezing secara umum merefleksikan baik bronchiectasis yang tersebar, maupun penyakit paru obstruksi kronis yang mendasarinya. Dengan eksaserbasi infeksi, jumlah sputum meningkat, dan menjadi lebih purulent serta seringkali berdarah, kemudian pasien menjadi demam. Episode seperti ini sesuai dengan eksaserbasi infeksi jalan nafas, tapi terkait infiltrate parenkim kadang-kadang merefleksikan adjacent pneumonia. Pasien mengaku mengeluarkan dahak sedikit kental dan berwarna kuning, dengan demikian, secret yang purulen dan fetor ex ore menandakan telah terjadinya infeksi sekunder kuman anaerob. Namun, fetor ex ore pada pasien ini tidak ditemukan. Hampir seluruh pasien dengan bronkiektasis memiliki batuk dan produksi sputum kronik. Sputum berbeda-beda, ada yang mukoid, mukopurulen, kental, encer, atau banyak. Bercak darah di sputum atau hemoptisis mungkin juga disebabkan oleh kerusakan saluran napas yang erosif yang diakibatkan oleh infeksi akut. Pada pasien dnegan bronkiektasis, jika sputum ditampung dalam beberapa waktu yang lama, akan tampak terpisah menjadi 3 lapisan : a. Lapisan teratas agak keruh, terdiri atas mucus b. Lapisan tengah yang jernih, terdiri atas saliva (ludah) c. Lapisan terbawah yang keruh, terdiri atas nanah dan jaringan nekrosis dari bronchus yang rusak (debris selular) Pada pemeriksaan fisik dada dari area bronchiectasis seringkali bervariasi. Kombinasi dari crackles, rhonchi, dan wheezing dapat didengar, yang kesemuanya merefleksikan kerusakan jalan nafas dengan kandungan sekresi yang signifikan. Suara napas tambahan pada pemeriksaan fisik toraks, yang meliputi crackle (pada 70 persen pasien), wheezing (pada 34 persen pasien) dan rhonki (pada 44 persen pasien), merupakan kunci diagnosis. Ke 3 suara nafas tambahan inilah yang didapatkan pada pasien Tn. A. Sesudah seseorang menderita bronkiektasis, perjalanan klinis selanjutnya tergantung pada luasnya penyakit, efektivitas drainase sputum dan efektifitas pengobatan infeksi yang terjadi. Jika penyakitnya luas atau pengobatannya tidak memuaskan, dapat timbul beberapa komplikasi lanjut yang tidak menyenangkan. Apabila penyakit ini berlanjut terus-menerus, keadaan umum pasien menjadi sangat menurun. Sebagai akibat daya tahan tubuh yang menurun, dapat memudahkan terjadinya infeksi berulang, nafsu makan yang menurun dan dapat menimbulkan malnutrisi serta memperburuk keadaan. Untuk itu pada pasien Tn. A ini diberikan edukasi tentang sebisa mungkin untuk makan walaupun tidak selera untuk makan serta menjauhi factor-faktor resiko yang dapat memperberat keadaan umum nantinya. Komplikasi bronkhiektasis dapat berupa infeksi bronchial kronik, pneumonia rekurent, empyema, pneumothoraz dan abses paru. Sedangkan pengobatan bronkiektasis lebih ditujukan pada terapi keluhan yang dialami pasien seperti bronchodilator, dan pencegahan infeksi yang mungkin terjadi dengan memberikan antibiotic. Bronkhiektasis itu sendiri tidak dapat disembuhkan. Akan tetapi, dengan perawatan yang tepat, banyak pasien dapat menikmati kualitas hidup yang baik. Namun, hal ini juga sangat bergantung pada sebab, lokasi, luas lesi, derajat gangguan faal paru, serta penyulitnya. DAFTAR PUSTAKA  W. Finn, Patricia. Kim, Nick H. http://www.nejm.org. April 28, 2008 . Copyright © 2008 Massachusetts Medical Society  Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Balai Penerbit FKUI. Edisi ke IV. 2006  Kasper, Braunwald, Fauci. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 16th edition. 2003  Mulyana, Djoko. Efusi Pleura Parapneumonia. Cermin Dunia Kedokteran No.128. 2000

One Comment

  1. tulisannya tidak ada jeda, jadi membuat semakin berat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: