Skip navigation


Kalo ditanya lebih enak mana stase koass, saat ada PPDS atau ga ada PPDS’a, gua akan menjawab “dua-duanya”. Soalnya, secara mereka adalah dokter yang bersekolah untuk menjadi dokter spesialis dan kita yang mahasiswa bersekolah yang akan menjadi dokter, tentu tingkatannya jauh lebih berbeda. Misalkan aja untuk kasus-kasus yang bersifat emergency, mereka seringkali tidak terkena serangan panik, sementara dokter mudanya sendiri, boro-boro tanganin, sebisa mungkin kabur walaupun pasien itu tanggung jawab dia karena dia yang tanganin dari hari pertama sampai hari terakhir.bete banget kan kalo ada temen jaga malem kaya gitu…

Nah, terkadang kita bisa menyerap ilmu klinis yang ga pernah kita tahu sebelumnya. Hal inilah yang membuat kita terkadang ga menjadi susah kalo kita disuruh periksa mulai dari periksa lab untuk darah rutin, urine rutin, kultur urine, feses rutin, LFT, dan lain-lain hingga ngantri bareng pasien, perawat dan dokter muda lain buat daftar foto radiologis. Tapi, kalo ada PPDS yang entah pelit ngajarin ilmunya atau dia ga punya standar kompetensi sama sekali, kita sering gondok juga kalo misalkan disuruh periksa dari ujung rambut ampe ujung kaki, mulai dari fungsi fisiologis a sampai z, buang-buang uang hanya untuk periksa lab dengan harga yang ga murah, tapi indikasinya sama sekali ga ada kenapa musti diperiksa. Itu bener-bener bikin makan hati bagi siapapun yang melakukannya. Apalagi jika kita HARUS mengkonsultasikan bentuk EKG yang NORMAL!!, yang ada malah kita dimarahin sama konsulennya karena ketahuan banget begonya. Ya iyalah, masa yang normal elu konsulkan??… Parah!!

Terkadang, PPDS pun juga sering ‘missed’ dalam mendiagnosa. Hal yang wajar karena mereka megang banyak banget pasiennya. Sebagai seorang dokter muda yang baik dan kurang menerima diagnosa yang diberikan, tentu kita bertanya mengapa didiagnosa demikian. Lain halnya, kalau dokter mudanya cari ‘save’ ga mau konsul sana-sini alias ga mau capek. Itu mah sambil visite sama PPDS sambil ngerumpi pun jadi. Bener-bener dunia yang aneh. Yang bikin senengnya kalo PPDS mengajukan pertanyaan kenapa kita mendiagnosa lain daripada dia dan dia memberikan argumen kenapa dia mendiagnosa pasien demikian. Nah, ini gua seneng banget. Tp, keadaan bisa juga menjadi sebaliknya. Kita bakalan dimaki abis-abisan dengan ego ‘power’ dia yang ga seberapa itu, kita disuruh belajar-belajar dan menyepelekan diagnosa kita padahal dia sendiri ga bisa menjelaskan kenapa diagnosa kita salah apalagi sampai tahu banget dengan topik yang sedang dibicarakan alias pemahaman suatu kasus yang kurang, PPDS tersebut akan senantiasa menyembunyikan dirinya bahwa dia sendiri sebenarnya juga ga tau tentang hal tersebut. Mungkin kalo misalkan dia minta kita untuk menjelaskan apa yang kita tahu dan menjadi masukan buat dia, it would be good. Tapi, ini malahan kita dihina dan dimaki karena kita telah berani mempertanyakan diagnosanya, mempertanyakan indikasi pemberian terapinya, bahkan mempertanyakan apa yang dia suruh buat kita. Padahal, menurut gua, dokter muda dengan dokter PPDS itu ga ada bedanya sama sekali. Mungkin sebagai pengecualian mereka adalah dokter. Dan sesuai sumpah hipocratez, bahwa seorang dokter wajib belajar speanjang jayat. So, dokter muda dan dokter PPDS juga masih dalam tahap pembelajaran juga. Alias terkadang mereka bisa missed dengan kurang tepatnya diagnosa..

Terkadang menjadi serba salah juga. Gua aja bingung sendiri dengan diri gua akhir-akhir ini. Emosi semakin ga stabil. Dicolek dikit aja udah ngamuk. Ya mau gimana lagi, hampir setiap hari gua selalu ribut dengan PPDS karena masalah pasien gua. Beradu argumen didepan pasien. Intinya, dia panas gua pun semakin panas. Temen-temen gua yang lain pun Cuma bisa geleng-geleng kepala karena takut ngeliat gua yang berani menentang PPDS. Gimana ga menentang kalo kejadian kaya yang seperti diatas. Kan gondok juga. Pokoknya, gua akan tetap struggling buat pasien dengan status ASKESKIN gua…kasian kan. Mereka selama ini terima aja kalo setiap hari tubuhnya dicolok-colok pake jarum trus darahnya diambil buat diperiksa yang harganya sangat mahal. Padahal, pasien nya orang kurang mampu, kan gila aja kalo bentar-bentar disuruh ini-itu….bener-bener musti ada indikasi kalo ada pemeriksaan penunjang!. Pemeriksaan penunjang itu MEMBANTU menegakkan diagnosa. Pemeriksaan penunjang BUKAN MENDIAGNOSA suatu penyakit !!!

3 Comments

  1. gw cuma bs bilang,,sabaaaaaar,,smua tu ada waktunya,,waktu apaan?? ya gw juga g tau maksud waktunya tu apa,,intinya klo dah ngerasa di-ga-enakin ma org lain,,don’t do the same thing to others,,oceh,,

  2. y,krn gw slm ini koas gak bareng ppds jd gak ngerasain gmn nya,tp selama gw jaga, pernah debat jg dgn dokter igd mengenai pasien dan mereka welcome kok sama pendapat gw walaupun pendapat kita beda.bsk nya gw diskusiin dgn dr ruangan.

  3. keknya gua tau ini tentang siapa…hehehe, keknya lu udah kena batunya ya..hahaha


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: