Skip navigation


Ilustrasi Kasus

Pasien laki-laki usia 41 tahun datang ke Poliklinik Saraf pada hari Jum’at, 19 September 2008 dengan keluhan sudut mulutnya tertarik ke sebelah kiri, dan hal ini sangat jelas terlihat jika pasien tersenyum, tertawa, mengerutkan dahi ataupun menyeringai. Keluhan seperti ini dirasakan oleh pasien semenjak 2 hari sebelum pasien datang ke poli dikarenakan keluhannya. Keluhan ini terjadi secara tiba-tiba di siang hari disaat pasien sedang menguap. Pasien juga mengeluhkan mata sebelah kanan tidak dapat menutup rapat dan keluhan ini diikuti dengan muka sebelah kanan terasa kebas. Pasien juga mengeluhkan nyeri di belakang telinga kanan. Pasien mengaku tidak ada masalah dengan menelan (-), mengunyah (-), dan bicara agak pelo (+).

Pendahuluan

Bentuk yang paling sering dari paralisis wajah adalah Bell’s palsy. Insiden tahunan dari kerusakan idiopatik ini berkisar dari 11 hingga 40 per 100,000 setiap tahunnya, atau sekitar 1 dari 60 orang dalam penyakitnya.

Manifestasi Klinis

Onset dari Bell’s palsy secara wajar adalah kasar, kelemahan maksimal yang dicapai 48 jam sebagai aturan umum. Nyeri dibelakang telinga dapat mendahului paralisis dalam satu atau dua hari. Sensasi rasa dapat hilang secara unilateral dan hiperakusis dapat timbul. Pada beberapa kasus didapatkan limfositosis cairan cerebrospinal. Magnetic resonance imaging (MRI) may tampak pembengkakan dan peningkatan seragam dari ganglion genikulatum dan nervus fascialis, dan, pada beberapa kasus, ada jepitan dari nervus yang membengkak di tulang temporal. Sekitar 80% pasien dapat sembuh dalam beberapa minggu atau bulan. Electromyography dapat memberikan nilai prognostik; bukti denervasi setelah 10 hari mengindikasikan adanya degenerasi aksonal dan bahwa akan adanya keterlambatan yang panjang (3bulan, sebagai aturan) sebelum regenerasi timbul dan hal tersebut bisa saja tidak komplit. Kehadiran dari paralisis inkomplit di minggu pertama merupakan tanda prognostik yang paling banyak disetujui.

Pathophysiology

Bell’s palsyis dikaitkan dengan adanya herpes simplex virus type 1 DNA dicairan endoneurial dan otot auricular posterior, mendukung bahwa reaktivasi virus ini di ganglion genikulatum dapat bertanggung jawab. Bagaimanapun, peranan penyebab untuk herpes simpleks virus pada Bell’s palsy tidak terbukti.

Differential Diagnosis

Ada banyak penyebab lain yang dapat menyebabkan palsy wajah yang harus dipertimbangkan dalam diagnosis banding Bell’s palsy. Tumor yang menginvasi tulang temporal (badan karotis, cholesteatoma, dermoid) dapat mengahsilkan facial palsy, tetapi onset tersembunyi dan perjalanannya progressive. Ramsay Hunt syndrome, yang kiranya diakibatkan oleh herpes zoster dari ganglion genikulatum, terdiri dari facial palsy yang berat dikaitkan dengan erupsi vesikular di pharink, kanalis auditorius eksternal, dan bagian lain dari integumentum cranial; sering nervus cranialis kedelapan juga dipengaruhi. Acoustic neuromas seringkali terlibat dengan nervus fascialis dengan kompressi lokal.

Infarcts, lesi demielinasi dari multiple sklerosis, dan tumor merupakan bentuk lesi pontin yang sering mengganggu serat saraf nervus fascialis; tanda lain dari batang otak terlibat biasanya akan hadir. Paralisis fasial bilateral (facial diplegia) timbul pada Guillain-Barre´ syndrome dan juga pada sebuah bentuk sarcoidosis yang dikenal sebagai uveoparotid fever (Heerfordt syndrome). Penyakit Lyme merupakan penyebab sering yang menyebabkan palsy fascial di area endemik. Yang jarang Melkersson-Rosenthal syndrome terdiri dari trias paralisis fascialis rekurrent, recurrent-dan pada akhirnya menetap-fascial (terutama labial) edema, dan sedikit konstan, plika lidah; dengan penyebab yang tidak diketahuo. Leprosy seringkali juga melibatkan nervus fascialis, dan neuropati fascialis dapat timbul pada diabetes mellitus.

Semua bentuk dari nuklear ini atau palsy fasial perifer harus di bedakan dari tipe supranuklear. Kemudian, otot occuli orbicularis dan frontalis jarang terlibat di bandingkan dengan bagian bawah wajah, semenjak otot fasial atas di inervasi oleh jalur kortikobulbar dari kedua korteks motorik, dimana otot wajah bawah di inervasi oleh hanya hemisfer berlawanan. Pada lesi supranukleus mungkin ada disosiasi emosional dan pergerakan fasial volunter, dan sering adanya derajat paralisis di lengan dan tungkai atau afasia (lesi hemisper dominan) juga terlibat.

Evaluasi Laboratorium

Diagnosa dari Bell’s palsy dapat ditegakkan secara klinis pada pasien dengan (1) presentasi yang sering, (2) tidak ada faktor resiko atau gejala yang telah ada sebelumnya dari sebab lain paralisis fasial, (3) tidak adanya lesi cutaneus dari herpes zoster pada canal telinga luar, dan (4) pemeriksaan neurologis normal dengan pengecualian dari nervus fasial. Perhatian sebagian pada nervus cranial kedelapan, dimana perjalanannya dekat dengan nervus fasial pada sambungan pontomedularis dan pada tulang temporal, dan pada nervus cranial yang diperlukan. Pada kasus atipik atau yang tidak meyakinkan, ESR, uji coba pada diabetes mellitus, titer lyme, angiotensin converting enzym dan x-ray dada untuk kemungkinan sarcoidosis, atau scanning MRI dapat diindikasikan

Tata Laksana

Yang termasuk perawatan symptomatik (1) penggunaan tape kertas untuk menekan kelopak mata selama tidur dan mencegah pengeringan kornea, dan (2) Pemijatan dari otot-otot yang lemah. Pemberian glucocorticoid, diberikan seperti prednisone 60 samapi 80 mg rutin selama 5 hari pertama dan kemudian di turunkan selama 5 hari berikutnya, tampak memperpendek pada periode pemulihan dan secara jujur dapat meningkatkan hasil yang fungsional. Pada satu uji coba buta ganda, pasien yang diobati selama 3 hari dari onset dengan prednisone dan acyclovir sekaligus (400 mg 5 kali per hari selama 10 hari) memberikan hasil yang lebih baik dari pada pasien yang diobati dengan prednisone saja.

DAFTAR PUSTAKA

ü CARPENTER MB. Core Text ofNeuroanatomy , 2d ed. Baltimore, Williams & Wilkins, 1978

ü GROGAN PM, GRONSETH GS: Practice parameter: Steroids, acyclovir, and surgeryfor Bell’s palsy (an evidence-based review). Report of the Quality Standards Subcommittee of the American Academyof Neurology. Neurology56: 830, 2001

ü LOVE S, COAKHAM HB: Trigeminal neuralgia: Pathologyand pathogenesis. Brain 124:2347, 2002

ü PATEL A et al: Microvascular decompression in the management of glossopharyngeal neuralgia: Analysis of 217 cases. Neurosurgery 50:705, 2002

SWEENEY CJ, GILDEN DH: Ramsay Hunt syndrome. J Neurol Neurosurg Psychiatry71: 149, 2001

One Comment

  1. Baca lagi yaa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: