Skip navigation


Hipertensi merupakan masalah medis tersering ditemukan dalam kehamilan dan tetap merupakan penyebab penting maternal, dan fetus, mortalitas dan morbiditas. Hal ini berkomplikasi hingga 14% kehamilan dan menyebabkan sekitar seperempat dari semua antenatal yang membutuhkan perawatan di rumah sakit. Hipertensi pada kehamilan meliputi spektrum kondisi dimana pre-eclampsia merupakan resiko potensial dan tetap merupakan penyebab tersering akan kematian maternal di United Kingdom.

Perubahan Fisiologi Normal pada Tekanan Darah selama Kehamilan

 

Pada awal trimester pertama, ada penurunan tekanan darah dikarenakan vasodilatasi aktif, yang dicapai melalui aksi dari mediator lokal seperti prostacyclin dan nitric oxide. Penurunan tekanan darah ini secara primer mempengaruhi tekanan diastolik dan turun sebesar 10 mmHg adalah hal yang biasa pada gestasi usia 13-20 minggu. 1 Tekanan darah terus menurun hingga 22-24 minggu titik terendah dicapai. Setelah ini, adanya peningkatan bertahap pada tekanan darah hingga istilah ukuran pre-kehamilan dicapai. Secara cepat setelah tekanan darah biasanya turun, kemudian peningkatan selama lima hari pertama post natal. Meskipun wanita yang tekanan darahnya normal pada kehamilan dapat mengalami hipertensi sementara pada periode awal postpartum, kemungkinan merefleksikan derajat instabilitas vasomotor.

Definisi Hipertensi pada Kehamilan & Pengukuran Tekanan Darah

 

Hipertensi pada kehamilan didiagnosa baik dari peningkatan absolut tekanan darah atau dari peningkatan relatif diatas pengukuran yang didapat pada saat pembukuan. Konvensi untuk nilai absolut untuk sistolik adalah 140 mmHg atau diastolik 90 mmHg. Bagaimanapun, hal ini musti dikenali bahwa tekanan darah terkait dengan gestasi. Tekanan darah diastolik 90 mmHg adalah 3 standar deviasi diatas rata-rata untuk kehamilan pertengahan, 2SD pada 34 minggu, dan 1,5 SD pada kehaliran. Definisi untuk peningkatan relatif tekanan darah disertakan baik peningkatan tekanan sistolik 30 mmHg atau tekanan diastolik 15 mmhg diatas tekanan darah pada saat dibukukan. Tekanan darah harus meningkat sedikitnya pada 2 kesempatan dan pengkuran harus dibuat dengan wanita tersebut duduk dan menggunakan ukuran cuff yang sesuai. Pada trimester kedua dan trimester ketiga akhir, kembalinya vena dapat merusak uterus gravida, dan jika posisi supine, tekanan darah diambil sebaiknya dengan berbaring pada sisi tubuhnya.

 

Fase I korotkoff dan V (tidak tampak) sebaiknya digunakan, dibandingkan dengan fase IV (menutup), sejak hal ini lebih menghasilkan 2 dan menunjukkan korelasi yang lebih baik dengan tekanan darah diastolik dalam kehamilan. 3 Jika fase V tidak ada, fase IV sebaiknya direkam. Sistem otomatis untuk pengukuran tekanan darah menunjukkan untuk tidak dapat dipercaya pada pre eclampsia berat 3-4 dan menjadi rekaman dibawah nilai yang sebenarnya.

Klasifikasi Hipertendi pada Kehamilan

 

Ada 3 tipe dari kelainan hipertensi :

ü  Hipertensi kronis

ü  Hipertensi Gestasional

ü  Pre-eklampsia

Hipertensi Kronis

 

Hipertensi kronis mempunyai komplikasi 3-5% kehamilan 4 meskipun gambaran ini dapat meningkat, dengan kecenderungan bagi wanita untuk menunda kelahiran menjadi usia 30 dan 40 tahunan. Diagnosis dari hipertensi kronis didasari dari riwayat yang diketahui untuk hipertensi pre-kehamilan atau peningkatan tekanan darah >140/90 mmHg sebelum kehamilan 20 minggu. 5 Bagaimanapun, ada beberapa protest terhadap diagnosis ini. Wanita hipertensi tidak terdiagnosis dapat tampak normotensi pada awal kehamilan karena tekanan darah jatuh dengan normal, yang dimulai pada minggu pertama. Hal ini dapat menjadi topeng sebelum hipertensi timbul w5 w6 dan ketika hipertensi direkam kemudian dalam kehamilan dapat diinterpretasikan sebagai gestasional. Terkadang diagnosis ditegakkan dalam beberapa bulan post partum, ketika tekanan gagal untuk menjadi normal sebagaimana diperkirakan dengan hipertensi gestasional.  Lebih jauh, pre-eclampsia dapat secara jarang untuk timbul sebelum 20 minggu kehamilan dan dapat disalah interpretasikan sebagai hipertensi kronik w7

ADanya hipertensi ringan yang telah ada sebelumnya akan membuat resiko ganda akan pre-eclampsia tetapi juga meningkatkan abruptio plasenta dan pertumbuhan terbatas pada fetus. Secara umum, ketika tekanan darah dikontrol, wanita dalam kehamilan akan beraktivitas dengan baik dan mempunyai hasul yang tidak sama dengan wanita normal. Bagaimanapun, hipertensi kronik dapat berat (tekanan darah diastolik >110 mmHg sebelum 20 minggu kehamilan) resikod untuk pre-eclampsia 46% dengan peningkatan yang tetap pada resiko maternal dan fetal.

Hipertensi Gestasional

 

Hipertensi yang timbul pada setengah kedua kehamilam paa wanita dengan normotensi sebelumnya, tanpa adanya proteinuria yang signifikan atau penampakkan lain dari pre-eclampsia, dinamakan hipertensi kehamilan atau gestasional. Hal ini berkomplikasi 6-7 % dari kehamilan7 dan membaik setelah post partum. Resiko dari pre-eclampsia adalah 15-26%,8 tetapi resiko ini dipengaruhi oleh kehamilan dimana hipertensi timbul. Ketika hipertensi gestasional didiagnosa setelah 36 minggu kehamilan, resiko akan turun hingga 10%. 8 Dengan hipertensi gestasional, tekanan darah biasanya akan menjadi normal pada 6 minggu setelah post partum.

 

Pre-eclampsia dan Eclampsia

 

Pre-eclampsia biasanya timbul setelah 20 minggu kehamilan dan merupakan kerusakan dari multi sistem. Secara klasik didefinisikan sebagai trias hipertensi, edema, dan proteinuria, tetapi definisi yang lebih modern pre-eclampsia dikonsentrasikan pada peningkatan gestasional tekanan darah bersamaan dengan >0.3 g proteinuria per 24 jam. Edema tidak lagi dimasukkan dikarenakan spesifitas yang kurang. 5 Pre-eclampsia dapat juga bermanifestasi, dengan beberapa gejala dan tanda maternal, sebagai intrauterine growth restriction (IUGR) / pertumbuhan terbatas intra uterine terisolasi . Eclampsia digambarkan sebagai adanya kejang grand mal yang dikaitkan dengan pre-eclampsia, meskipun hal ini merupakan presentasi klinis pertama dari kondisi tersebut.

 

Insiden dari sangat banyak dipengaruhi oleh adanya hipertensi yang telah ada sebelumnya, meskipun faktor resiko telah dikenali (tabel 1).9 Secara keseluruhan pre-eclampsia berkomplikasi untuk 5-6% kehamilan, w9 tetapi gambaran ini meningkat hingga lebih dari 25% pada wanita dengan hipertensi yang telah ada sebelumnya. w6 w9

Eclampsia Berkomplikasi 1-2% kehamilan pre-eclamptik di UK. Sekitar 50000 wanita meninggal setiap tahunnya dari preeclampsia diseluruh dunia9 dan morbiditas termasuk abrupto plasenta, perdarahan intra abdominal, gagal jantung, dan gagal multi organ. Pada permintaan keterangan yang bersifat rahasia dilaporkan kematian dari eclampsia atau pre-eclapsia. Mayoritasnya merupakan perdarahan intraserebral. 10 Resiko terhadap fetus dari pre-eclampisa termasuk pertumbuhan terbatas akibat sekunder dari inufisiensi placenta, dan kelahiran prematur. Meskipun demikian, pre-eclapsia merupasakan penyebab yang paling sering dari prematuritas (dihitung dari 25% dari semua bayi baru lahir dengan berat lahir sangat rendah, 1500 gr).

Pathogenesis pre-eclampsia

 

Pathogenesis dan manifestasi pre-eclampsia dapat dipertimbangkan kedalam model dua tahap. Tingkat pertama melibatkan plasentasi abnormal. Pada trimester pertama, dalam kehamilan sehat, tropoblast menginvasi desidua uterus dan mencapai lapisan dalam miometrium. Migrasi ini merubah arteri otot spiral elastik kecil menjadi besar (diameter meningkat sebanyak 4kali lipatan) darah sinusoid yang dihasilkan dari tingginya kapasitas, supply darah dengan resistensi rendah ke ruang intervillous. Meskipun dimulai pada trimester pertama, perubahan ini menjadi lengkap pada trimester kedua ketika gelombang migrasi tropoblast lain merubah segmen miometrial di arteri. w10 Pada pre-eclampsia, perubahan vaskular ini tidak timbul atau terbatas pada darah didesidua. w11 w12 Sebagai tambahan terhadap gagalnya demuskularisasi, arteri menjaga respon terhadap pengaruh vasomotor w13 dan menjadi atheroslerosis yang terakselerasi, dimana perfusi lebih jauh yang tidak bagus di ruang intervillous.

 

Tahap kedua dari pre-eclampsia melibatkan perubahan dai maladaptasi uteroplacenta menjadi sindrom sistemik maternal, dimana mempunyai manifestasi protean (tabel 2). Gagalnya perubahan kardiovaskular normal dari kehamilan akan mengakibatkan hipertensi, pengurangan volume plasma, dan perfusi yang rusak secara virtual kesetiap oragn yang ada ditubuh. Adanya vasospasme dan aktivasi platelet dan sistem koagulasi, menghasilkan pembentukan mikrotrombus. Kaitan antara plasenta dan kerusakan sistemik akan melibatkan disfungsi endotel dan stress oksidative.w11–13 w14

 

Management pre-eclampsia diperlukan untuk memfokuskan pada pengenalam dari kondisi ini dan kelahiran dari plasenta, dimana dapat sembuh. Semenjak pre-eclampsia dapat meningkat dengan beberapa gejala, semua wanita diskreening selama kehamilan melalui pelayanan dan perawatan antenal. Wanita yag mempunyai peningkatan resiko mempunyai screening tambahan dan monitoring intensif dilakukan

Management Hipertensi pada Kehamilan

Konseling Pre-Kehamilan

 

Hingga lebih dari 50% kehamilan di UK tidak direncanai dan maka konseling pra-kehamilan tidak dilakukan. Pada wanita dengan hipertensi kronis, penilaian sebelum konsepsi dapat dikeluarkan dari penyebab sekunder hipertensi (sebagai contoh ginjal atau endokrin), evaluasi dari kontrol hipertensi adalah untuk menjamin bahwa hal tersebt optimal, diskusi dari peningkatan resiko pre-eclampsia, dan edukasi tentang perubahan obat lain dimana diperlukan untuk dilakukan dalam trimester pertama sebelum mereka hamil.

 

Mayoritas wanita dengan hipertensi kronik terkontrol akan, dengan supervisi yang ketat dan management yang sesuai, akan mempunyai hasil yang bagus. Hipertensi yang kurang terkontrol pada trimester pertama akan secara signifikan meningkatkan morbiditas dan mortalitas fetal dan maternal. Hal ini harus ditekankan bahwa banyak dari agen hipertensi tidak digunakan untuk praktek rutin menunjukkan teratogenik dan wanita dapat secara aman mengerti sementara menggunakan medikasi. Bagaimapun, angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitors dan angiotensin receptor blockers (ARBs) perlu untuk dinaik turunkan pada trimester pertama karena fettoksiknnya (lihat dibawah). Wanita yangt telah mengalami hasil obstetrik buruk pada kehamilan sebelumnya dikarenakan pre-eclapsia berat, atau pada mereka yang mempunyai resiko sebagian, diperlukan untuk dikonsulkan mengenai kondisinya dan ditawarkan terapi profilaksis dengan doses rendah aspirin. 14 Semenjak pre-eclampsia melibatkan disfungsi endotel dan stress oksidatif, adanaya ketertarikan untuk supplemen, dengan anti oksidan vitamin C dan E, pada trimester kedua. Uji coba awal dengan vitamin anti oksidan, pada wanita dengan resiko tinggi, telah dilaporkan mengalami peningkatan dalam penanda biokimia untuk aktivasi endotel bersamaan dengan pengurangan pre-eclampsia15 dan dalam skala besar, ditingkat negara, uji coba acak masih dalam pengembangan

 

Antenatal care

Maternal care

 

Penilaian tekanan dan darah dan mencari bentuk proteinurua merupakan batu pijakan dalam screening antenatal untuk semua wanita hamil dengan pre-eclampsia. Jika ‘‘selubung putih’’ hipertensi dicurigai, monitoring dapat berguna, sebagaimana pada populasi yang tidak hamil w15. Wanita yang telah berada dalam peningkatan resiko untuk pre-eclampsia dimonitor dengan ketat, seringkali di klinik obstetrik spesialis. Bagian dari penilaian resiko meliputi evaluasi ultrasound Doppler dari arteri uterina disekitar waktu scan anomaly fetus pada minggu 20-22 minggu (lihat dibawah) dan analisis darah (dinamakan “PET bloods”-tabel 3). Peningkatan tekanan darah, dengan hasil darah, dan atau perkembangan proteinuria signifikan membutuhkan peningkatan surveillance. Lebih besar dari +1 proteinuria oada dip sticks secara formal diquantifikasi dengan pengumpulan urine 24 jam atau protein : rasio creatinin. Onset dari proteinuria signifikan, dengan tidak adanya penyakit ginjal, merupakan indikator paling baik dari pre-eclempasia.

 

Tergantung dari keparahan gejala maternal dan penemuan klinis dan pada pola pertumbuhan fetus, eorang wanita dapat ditujukan untuk penilaian sehari di unit untuk revie pasien diluar rumah sakit secara reguler, atau dimasukkan kedalam rumah sakit. Banyak anita pada awalnya asimptomatik, atau ada tanda dengan tanda yang tidak spesifik dari malaise. Bagaimanapun, gangguan visual, atau nyeri abdominal merupakan tanda yang dikenali dengan baik dari pre-eclampsia yang berat. (tabel 2)

Doppler assessment of uterine arteries

 

Gelombang nadi dan pemeriksaan ultrasound Doppler aliran warna dapat didemonstrasikan peningkatan resistensi vaskular plasenta1 6 dimana dihasilkan dari gagalnya invasi tropoblast komplet atau sebagian dari arteri spiralis. Sebagai tambahan untuk mengukur indeks resistansi, kehadiran dari arteri uterine abnormal juga dapat dilihat (gambar 1). Arteri uterina ‘‘Dopplers’’ ditawarkan untuk wanita dengan resiko tinggi antara 20-24 minggu kehamilan dan mempunyai kekuatan prediksi yang kuat. Seorang wanita dengan penilaian Doppler uteri yang normal pada 20-24 minggu dapat dipertimbangkan dalam resiko rendah, dimana mereka dengan Doppler abnormal mempunyai sekitar 20% kesempatan dalam timbulnya pre-eclampsia dan membutuhkan peningkatan kewaspadaan. w17

Fetal surveillance

 

Wanita dengan hipertensi kronik dan preeclampsia merupakan resiko untuk IUGR. Wanita seperti itu sebaiknya ditawarkan scan ultra sound untuk menilai pertumbuhan fetal, volume cairan, dan aliran darah arteri umbilical. Ketika pre-eclampsia berat, dan adanya resikio yang signifikan unntuk kelahiran sebelum 34 minggu gestasi, steroid intra muscular (dexamethason atau betamethasone) diberikan untuk mengembangkan maturitas paru fetus dalam antisipasi dari kelahiran prematur.

Kapan Untuk  Menangani Hipertensi Selama Kehamilan

 

Hipertensi yang signifikan harus ditangani sebisa mungkin, dengan tanpa melihat dugaan patologis yang mendasarinya, secara besar untuk mencegah resiko perdarahan intracranial maternal. Kadar dimana terapi antihipertensive dilakukan masih tetap kontroversial tergantung dari apakah terapi difokuskan pada maternal atau keadaan fetus. 16 17 Kebanyakan klinisi memulai bpengobatan antihipertensi ketika tekanan darah sistolik > 140–170 mm Hg atau tekanan diastolik >90–110 mm Hg. Pengobatan wajib untuk hipertensi berat ketika tekanan darah > 170/110 mm Hg. Sekali pengobatan dimulai, tekanan darah yang ditargetkan juga masih kontroversial, tetapi banyak praktisi akan menangani untuk menjaga tekanan arterial rata-rata <125 mmHg- sebagai contoh tekanan darah 150/100 mmHg. a blood pressure 150/100 mm Hg. Kontrol tekanan darah yang berlebihan akan menyebabkan hipoperfusi placenta, dimana alira darah plasenta tidak bersifat otoregulasi, dan ini akan berefek pada fetus. Sayangnya tidak ada bukti bahwa pengobatan farmakologis hipertensi kronik atau hipertensi gestasional melindungi dalam melawan perkembangan pe-eclampsia. Perubahan pada diet atau bed rest tidak menunjukkan keuntungan maternal dan fetus. w18–20

Terapi Obat

 

Semua obat anti hipertensi baik telah ditunjukkan, atau diasumsikan menyilangi plasenta dan mencapai sirkulasi fetus. Bagaimanapun, sebagaimanay dinyatakan sebelumnya, tidak ada dari agent anti hipertensive dalam penggunaan rutin karena telah didokumentasikan untuk menjadi teratogen, meskipun ACE Inhibitor dan ARB bersifat fetotoksik. Objektif dari pengobatan hipertensi dalam kehamilan adalah untuk melindugi wanita dari bayahanya tekanan darah yang tinggi dan untuk mengijinkan melanjutkan kehamilan, pertumbuhan fetus dan maturasi.

Mild to moderate hypertension

 

Bukti dasar untuk pengobatan ringan hingga sedang hipertensi kronis pada kehamilan dalam keuntungan maternal dibandingkan dengan bukti yang jelas dari peningkatan hasil perinatal untuk bayi. 4 Beberapa wanita dengan hipertensi kronis dalam pengobatan mampu untuk memberhentikan medikasi nya pada setengah pertama kehamilan, karena fisiologis jatuhnya tekanan darah selama periode ini. Bagaimanapun, biasanya hal ini bersifat sementara, dan wanita diawasi dan diobati sebaik dan secepat mungkin.

 

Agen lini pertama

Methyldopa

Methyldopa adalah agen yang bekerja sentral dan tetap obat pilihan pertama untuk mengobati hipertensi dalam kehamilan. Obat ini merupakan obat yang seringkali dinilai dalam ujicoba acak antihipertensive dan mempunyai keamanan yang panjang. Penggunaan jangka lama tidak dikaitkan dengan masalah neonatal maupun fetus dan adanya data yang amat untuk anak yang terekspose in utero.18 Wanita sebaiknya diperingatkan dari aksi sedatifnya dan hal ini dapat membatasi titrasi. Hasil obat tersebut dapat menghasilkan peningkatan transaminase hati (pada lebih dari 5% wanita) atau tes Coomb’s yang positif (meskipun anemia hemolitik tidak sering). Metildopa harus dihindari pada wanita dengan riwayat depresi sebelumnya, karena akan meningkatkan resiko depressi post natal.

 

Agen lini kedua

Agen ini sebaiknya digunakan ketika monoterapi metildopa tidak cukup dan wanita tersebut tidak mampu mentoleransi metildopa.

 

Nifedipine

Nifedipine amat terkenal untuk pengoabatan hipertensi dalam kehamilan dan secara luas digunakan. Obat ini aman pada gestasi berapapun. 4 Penggunaan nifedipine sub lingual, bagaimanapun, harus dihindari untuk meminimalisisr resiko hipotensi maternal yang mendadak dan distress fetus, dikarenakan hipoperfusi plasenta. Hipotensi kasar dipotensiasi serentak dengan magnesium sulfat (digunakan sebagai pengobatan atau agen profilaksis dalam melawan kejang eclamptik dengan pre eclampsia berat). w21 w22 Amlodipine telah digunakan dalam kehamilan tetapi data keamanan masih kurang5

 

Hydralazine Oral

Hidralazin aman selama kehamilan, meskipun adanya sindrom seperti lupus neonatus dan maternal telah dilaporkan. 19 Hydralazine sering digunakan sebagai pengobatan infus untuk mengatasi hipertensi berat yang akut.

 

Agen lini kedua

α dan β Adrenergic blockers

 

Pada masa lalu, β adrenergic blockers telah digarisbawahi sebagai kelas antihipertensi yang dikaitkan dengan resiko tinggi IUGR. w23 Atenolol pada sebagian telah dikeluarkan. Bagaimanapun, pada data publikasi meta analisis baru-baru ini dari uii acak, adanya penampakkan IUGR tidak untuk dikaitkan terhadap penggunaan antihipertensi. 16 Meskipun demikian, β adrenergic blockers masih dihindari pada setengah kehamilan pertema dikarenakan perhatian akan pertumbuhan terhambat dan dilihat sebagai agen lini ketiga untuk pengobatan hipertensi dalam kehamilan. β Blockers amat dalam kehamilan dan ada pengalaman yang luas dengan oxprenolol dan labetalol. Keamanan dan efikasi prazosin dalam kehamilan telah dapat ditunjukkan. w24 Doxazosin tampak aman, meskipun data tersebut terbatas.

Thiazide diuretics

 

Thiazide diuretics digunakan jarang dalam kehamilan. Obat ini tidak tampak untuk menjadi teratogen 19 dan meskipun obat tersebut menyingkatkan ekspansi volume plasma dikaitkan dengan kehamilan normal, w25 hal ini tidak dapat dibuktikan untuk merusak pertumbuhan terbatas. w26 Komunitas obstetrik tetap enggan menggunakan agen antihipertensive ini karena perhatiannya terhadap potensiasi kontraksi volume plasma, dimana timbul dengan pre-eclampsia. Bagaimanapun, wanita dengan hipertensi kronis, sebelum konsepsi, merespon baik terhadap diuretik thiazid, dapat mengganti obat tersebut dalam kehamilan tetapi sebaiknya dinaik turunkan jika pre-eclampsia timbul w27

Pengobatan Hipertensi Berat

 

Mortalitas dan morbiditas wanita dengan hipertensi berat (>170/110 mmHg), biasanya sekunder terhadap pre-eclampsia beran, masih tetap dipertimbangkan. Karena kontraksi volume plasma yang bersirkulasi, wanita dapat menjadi sangat sensitif untuk dosis kecil relatif dari agent antihipertensi (dan diuretik), membuat resiko kasar dalam pengurangan tekanan darah. Kontrol yang baik hipertensi pada pre-eclampsia berat tidak berhenti dalam perkembangan penyakit, hanya kelahiran yang dapat melakukan ini, tetapi hal ini dapat mengurangi insiden komplikasi perdarahan serebral. Management dari hipertensi berat melibatkan kontrol tekanan darah yang adekuat, seringkali dengan menggunakan agen parenteral, dan managemen yang diharapkan mencoba untuk memperpanjang kehamilan tanpa adanya resiko terhadap ibu atau fetus. Pada beberapa kasus yang berat, hanya beberapa jam atau hari yang dapat diraih.

 

Unit yang berbeda mempunyai preferensi baik untuk hidralazine parenteral atau labetalol, dan beberapa menggunakan nifedipine oral. Hydralazine harus diberikan setelah perubahan koloid untuk mengurangi refleks takikardia, dan hipotensi yang kasar, dipresipitasi oleh vasodilatasi dari sirkulasi kontraksi volume. Wanita ini dalam resiko tinggi dan harus diawasi dalam unit dependensi yang tinggi. Mereka sangat sensitif untuk kelebihan fluid dan berada dalam resiko timbulnya edema pulmonal non cardiac melalui aliran kapiler. w28 Bentuk berat dari pre-eclampsia membutuhkan perawatan intensive care, seringkali gagal respiratory atau perkembangan SIRS berat (Severe Inflamatory Response Syndrome) w29 . Profilaksis kejang, dengan magnesium sulfat intravena dapat diperlukan dalam kasus ini.

Obat Anti Hipertensi yang Dihindari dalam Kehamilan

 

ACE inhibitors dan ARB bersifat fetotoxic tetapi tidak ada data untuk mendukung teratogenisitas. w30 w31 Wanita oleh karena itu dapat menerima sementara megambil agen seperti itu, terutama ACE inhibitors dimana data merupakan yang terkuat, tampak aman. Bagaimanapun, semua wanita mampu melahirkan sesuai umur diterapi dengan obat ini harus diinformasikan kebutuhan pemberhentian obat dalam trimester pertama sebelum hamil. Resiko terbesar fetus tampak untuk dikaitkan dengan paparan pada trimester ketiga, tetapi pemberhentian lebih awal membutukan edukasi pasien. Variasi dari malformasi dan efek samping telah dilaporkan untuk ACE inhibitors dan ARBs19 w32 w33 termasuk:

ü  Oligohydramnious

ü  IUGR

ü  Contractures Sendi

ü  pulmonary hypoplasia

ü  hypocalvaria (Osifikasi incomplete dari tulang fetus)

ü  fetal renal tubular dysplasia dan neonatal renal failure.

ANTIHYPERTENSIVE TREATMENT POST PARTUM AND DURING BREASTFEEDING

 

Hipertensi Post partum adalah sering. Tekanan darah secara tipikal meningkat setelah kehamialn lewat lima hari pertama. w1 Maka wanita yang telah mengalami hipertensi selama kehamilan dapat menjadi normotensive dengan cepat setelah kelahiran, tetapi kemudian menjadi hipertensi lagi dalam minggu pertama post natal. Kebutuhan untuk mendapatkan kontrol hipertensi dapat memperlambat pulangnya pasien.

 

Methyldopa harus dihindari post partum karena resiko dari depressi post natal. Agen lini pertama kami adalah atenolol, plus nifedipine atau ACE inhibitor jika agen lain dibutuhkan. Wanita dengan hipertensi gestasional, atau pre-eclampsia, biasanya mampu untuk berhenti dari semua anti hipertensive dalam 6 minggu postpartum. Mereka dengan hipertensi kronik dapat mempersingkat obat sebelum kehamilan. Diuretik, bagaimanapun, biasanya dihindari jika wanita berharap untuk menyusui karena peningkatan rasa haus. Proteinuria pada wanita pre-eclamptik biasanya akan didapat 3 bulan post partum, dalam ketiadaan abnormalitas ginjal yang mendasarinya. w34

 

Proteinuria persistent membutuhkan investasi ginjal lebih jauh. Estimasi akurat dari jalannya obat kedalam payudara susah untuk mengindivualisasi semenjak hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor seperi lemak solubilitas obat, ikatan protein, ionisasi, berat molekul, dan isi dari susu itu sendiri (lemak, protein melawan isi air). Bagaimanapun, kebanyakan agent antihipertensive digunakan dalam praktek rutin yang kompatible dengan menyusui. 19 20 tetapi data keamanan untuk doxazosin, amlodipine, dan ARBs masih kurang/

Resiko Rekurensi dari Kerusakan Hipertensi pada Kehamilan berikutnya

 

Wanita yang mengalami hipertensi pada kehamilan pertama pada pertama kehamilan dalam peningkatan resiko dalam kehamilan selanjutnya21 22 Beberapa faktor mempengaruhi resiko ini. Onset awal hipertensi pada kehamilan pertama, resiko terbesar dari rekurensi 22 w35 dan tipe dari kerusakan hipertensi dipengaruhi rekurensi. Satu studi dilaporkan dalam resiko rekurensi 19% untuk hipertensi gestasional 19%, 32% untuk pre-eclampsia, dan 46% untuk pre-eclampsia yang timbul sebelumnya dari hipertensi kronik yang telah ada sebelumnya. 22 Sebagai tambahan, IUGR berat terisolasi juga merupakan faktor resiko untuk menimbulkan hipertensi dalam kehamilan selanjutnya. 22 w36

Sequela Cardiovaskular Jangka Panjang dari Hipertensi Kehamilan

 

Women yang berkembang dalam hipertensi gestasional atau pre-eclampsia berada dalam peningkatan resiko hipertensi dan stroke di kehidupan dewasa nanti23 . Lebih jauh, ada bukti peningkatan penyakit jantung iskemik pada wanita yang telah megalami pre-eclampsia atau IUSG isolaso. 24 25 bersama dnegan angka kematian yang mneingkat dari penyakit jantung iskemik. 26 Pertama kali keterkaitan antara pre-eclampsia dan peningkatan resiko IHD di kehidupan dewasa dapat timbul dapat lemah. Bagaimanapun, kedua kondisi dikaitkan dengan dislipidemia, resistensi insulin, dan disfungsi endotel. w37–40 Hal yang menarik bahwa abnormalitas lemak dimana timbul dalam pre-eclampsia (peningkatan Low density lipoprotein (LDL), VLDL, asam lemak bebas, dan nilai triglyceride) dapat enunjukkan penamp-akan klinis dari kondisi dan disfungsi endotel berlanjut untuk menjadi kerusakan postpartum. 27

 

Meskipun ada perhatian metodologis dengan beberapa data area, hal ini timbul sequelae akhir yang dapat mempunyai implikasi penting yang memberikan fruekuensi relatif kehamilan hipertensi daqn dapat, dimasa depan, screening diktate untuk penyakit kardiovaskular pada wanita yang dipengaruhi sebelumnya. Saat terakhir, akan menjadi bijaksana untuk wanita tersebut untuk mempunyai pengukuran tekanan darah. Menariknya, wanita yang mengalami kehamilan tanpa perkembangan hipertensi mengurangi resiko menjadi hipertensi di kemudian hari, jika dibandingkan wanita nullipara25. Kehamilan dapat menawarkan jendela  terhadap kesehatan kardiovaskular dimasa depan, dimana tidak tersedia untuk pria. 28

 

Authors’ affiliations

. . . . . . . . . . . . . . . . . .

P R James, Department of Cardiology, Royal Sussex County Hospital, Brighton, West Sussex, UK

C Nelson-Piercy, Department of Obstetrics, Guys and St Thomas’ Hospitals, London, UK

 

 

 

REFERENCES

1)       Sibai BM. Treatment of hypertension in pregnancy. N Engl J Med 1996;335:257–65. c Excellent review article of the management of hypertension in pregnancy.

2)       Shennan A, Gupta M, Halligan A, et al. Lack of reproducibility in pregnancy of Korotkoff phase IV measured by mercury sphygmomanometry. Lancet 1996;347:139–42. c A well conducted trial evaluating the identification and reproducibility of Korotkoff sounds IV and V in pregnancy.

3)       Brown MA, Reiter L, Smith B, et al. Measuring blood pressure in pregnant women: a comparison of direct and indirect methods. Am J Obstet Gynecol 1994;171:661–7.

4)       Magee LA, Ornstein MP, von Dadelszen P. Management of hypertension in pregnancy. BMJ 1999;318:1332–6.

5)       Brown MA, Hague WM, Higgins J, et al. The detection, investigation and management of hypertension in pregnancy: full consensus statement. Aust N Z J Obstet Gynaecol 2000;40:139–55. c Good overview of pregnancy induced hypertension, including drug treatment.

6)       McCowan LME, Buist RG, North RA, et al. Perinatal morbidity in chronic hypertension. Br J Obstet Gynaecol 1996;103:123–9.

7)       Walker JJ. Pre-eclampsia. Lancet 2000;356:1260–5. c A broad overview of the epidemiology, pathophysiology, and management of pre-eclampsia.

8)       Saudan P, Brown MA, Buddle ML, et al. Does gestational hypertension become pre-eclampsia? Br J Obstet Gynaecol 1998;105:1177–84.

9)       Broughton Pipkin F. Risk factors for pre-eclampsia. N Engl J Med 2001;344:925–6. c An excellent editorial on the multiple risk factors for developing preeclampsia.

10)   Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. Confidential enquiry into maternal deaths in the United Kingdom. Why mothers die. London: Royal College of Obstetricians and Gynaecologists, 2001. c Death from cardiac disease is now the joint most common cause of maternal death in the UK. This latest report is highly informative.

11)   Roberts J. Endothelial dysfunction in preeclampsia. Semin Reprod Endocrinol 1998;16:5–15.

12)   Roberts JM, Hubel CA. Is oxidative stress the link in the two-stage model of pre-eclampsia? Lancet 1999;354:788–9.

13)   Dekker GA, Sibai BM. Etiology and pathogenesis of preeclampsia: current concepts. Am J Obstet Gynecol 1998;179:1359–75.

14)   Caritis S, Sibai BM, Hauth J, et al. Low-dose aspirin to prevent pre-eclampsia in women at risk. N Engl J Med 1998;338:701–5.

15)   Chappell LC, Seed PT, Briley AL, et al. Effects of antioxidants on the occurrence of pre-eclampsia in women at increased risk: a randomised trial. Lancet 1999;354:810–16.

16)   Von Dadelszen P, Ornstein MP, Bull SB, et al. Fall in mean arterial pressure and fetal growth restriction in pregnancy hypertension: a meta-analysis. Lancet 2000;355:87–92.

17)   Homuth V, Dechend R, Luft FC. When should pregnant women with an elevated blood pressure be treated? Nephrol Dial Transplant 2003;18:1456–7. c An up to date evaluation of the evidence for treatment of hypertension in pregnancy.

18)   Cockburn J, Moar VA, Ounsted M, et al. Final report of study on hypertension during pregnancy: the effects of specific treatment on the growth and development of the children. Lancet 1982;i:647–9.

19)   Briggs GG, Freeman RK, Yaffe SJ. In Mitchell CW, ed. Drugs in pregnancy and lactation: a reference guide to fetal and neonatal risk, 6th ed. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins, 2002. c A comprehensive, up to date text, solely on the safety of drugs in pregnancy and breastfeeding.

20)   Committee on Drugs, American Academy of Pediatrics. The transfer of drugs and other chemicals into human milk. Pediatrics 1994;93:137–50.

21)   Hargood JL, Brown MA. Pregnancy-induced hypertension; recurrence rate in second pregnancies. Med J Austral 1991;154:376–87.

22)   Zhang J, Troendle JF, Levine RJ. Risks of hypertensive disorders in the second pregnancy. Paediatr Perinat Epidemiol 2001;15:226–31.

23)   Wilson BJ, Watson MS, Prescott GJ, et al. Hypertensive diseases of pregnancy and risk of hypertension and stroke in later life: results from cohort study. BMJ 2003;326:845–9.

24)   Smith GCS, Pell JP, Walsh D. Pregnancy complications and maternal complications of ischaemic heart disease: a retrospective cohort study of 129 290 births. Lancet 2001;357:2002–6.

25)   Hannaford P, Ferry S, Hirsh S. Cardiovascular sequelae of toxaemia of pregnancy. Heart 1997;77:154–8.

26)   Jonsdottir LS, Arnsgrimsson R, Geirsson RT, et al. Death rates from ischemic heart disease in women with a history of hypertension in pregnancy. Acta Obstet Gynecol Scand 1995;74:772–6.

27)   Chambers JC, Fusi L, Malik IS, et al. Association of maternal endothelial dysfunction with preeclampsia. JAMA 2001;258:1607–12.

28)   Seely EW. Hypertension in pregnancy: a potential window into long-term cardiovascular risk in women. Clin Endo Metab 1999;84:1858–61. c An overview of possible mechanisms involved in the increased cardiovascular risk in women with a prior history of pregnancy induced hypertension.

7 Comments

  1. terjemahan nya bagus😀

  2. mudah di pahami tulisannya

  3. wonderful..thX

  4. tengkiyu terjemahannya..
    jd ada bahan buat bkn makalah :))


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: