Skip navigation


Di Amerika Serikat setiap tahun ditemukan 78.000 orang didiagnosis menderita kanker kepala dan leher, dan 17.500 diantaranya meninggal karena penyakit tersebut.1 Di Indonesia belum ada angka insiden, namun frekuensi tumor ganas yang dilaporkan oleh bagian patologi, Badan Registrasi Kanker Indonesia di bawah pengawasan Dirjen Kesehatan RI mendapatkan urutan ke empat dari sepuluh besar keganasan pada laki-laki dan perempuan serta urutan ke dua dari sepuluh keganasan pada laki-laki.3 Dengan pengenalan tumor secara dini, diagnosis dan pengobatan yang dilakukan akan memberi harapan terhadap peningkatan survival dan perbaikan fungsi, namun kenyataannya harapan hidup tidak meningkat dalam 30 tahun terakhir dimana 33% penderita mati karena kankernya. Hal ini banyak berhubungan dengan diagnosis yang terlambat dan penanganan awal yang tidak adekuat, dengan demikian penting sekali bagi ahli bedah kepala leher untuk mengenal proses penyakit ini lebih dini dan mempersiapkan rencana pengobatan yang baik. Perencanaan ini dimulai dari evaluasi awal dan berlanjut terus selama kehidupan penderita dan hal ini melibatkan pendekatan multidisiplin.2-5
Pendahuluan

Kanker kepala dan leher jarang ditemukan sebelum abad XVII diduga karena hanya sedikit manusia yang hidup melewati umur 50 tahun, dan penggunaan tembakau belum popular sampai kira-kira tahun 1.700 Masehi.1 Walaupun peringatan terhadap bahaya tembakau dan alkohol telah ditingkatkan, namun hal ini tetap menjadi kontributor utama terhadap insiden kanker kepala dan leher di Amerika Serikat.1,2

Keganasan pada kepala dan leher meliputi berbagai jenis neoplasma yang secara spesifik mengenai traktus aerodigestive; yang letaknya dari atas ke bawah mulai dari dasar tengkorak sampai ke bagian bawah laring; dan dari anterior-posterior mulai kavum nasi anterior dan bibir sampai ke posterior faring.
Sehingga keseluruhan meliputi kavum nasi, faring, laring dan kelenjar liur, kavum oris.2,3 Adanya kesamaan etiologi, cara penyebaran, metode pemeriksaan, pengobatan dan rehabilitasi maka tumor-tumor di kepala dan leher dikelompokan menjadi satu kategori.2-4

Pengenalan tumor secara dini, diagnosis dan pengobatan telah memberi harapan terhadap peningkatan survival dan perbaikan fungsi, namun kenyataannya harapan hidup tidak meningkat dalam 30 tahun terakhir di mana 33% penderita mati karena kankernya. Hal ini banyak berhubungan dengan diagnosis yang terlambat dan penanganan awal yang tidak adekuat, dengan demikian penting sekali bagi ahli bedah kepala leher untuk mengenal proses penyakit ini lebih dini dan mempersiapkan rencana pengobatan yang baik. Perencanaan ini dimulai dari evaluasi awal dan berlanjut terus selama kehidupan penderita dan hal ini melibatkan pendekatan multidisiplin.2-5
Epidemiologi

Di Amerika Serikat setiap tahun ditemukan 78.000 orang yang didiagnosis menderita penyakit kanker kepala dan leherdan 17.500 diantaranya meninggal karena penyakit tersebut. Karsinoma sel skuamos pada kepala dan leher menempati urutan ke 6 dari keganasan di seluruh dunia, dengan insiden 2 persen pada laki-laki dan 0,6 persen pada wanita, pada Negara berkembang penyakit ini lebih sering ditemukan dengan insiden setahun di seluruh dunia lebih dari 500.000 kasus dalam setahun.2,5

Di Indonesia belum ada angka insiden, namun frekuensi tumor ganas yang dilaporkan oleh bagian patologi Badan Registrasi Kanker Indonesia di bawah pengawasan Dirjen Kesehatan RI mendapatkan urutan ke empat dari sepuluh besar keganasan pada laki-laki dan perempuan serta urutan ke dua dari sepuluh keganasan pada laki-laki.3

Pada RSU Dadi dan RSU Dr Wahidin selama periode 10 tahun (1990-1999) ditemukan 570 kasus keganasan kepala dan leher yang terdiri dari Karsinoma nasofaring 274 kasus (47,98%), hidung dan sinus paranasalis 114 kasus (19,96%), tonsil 59 kasus (10,33%), laring 43 (7,72%) dan rongga mulut 40 kasus (7%) sedangkan tumor-tumor yang lain mempunyai frekuensi yang lebih jarang. Dari tahun ke tahun tampak ada peningkatan dari kasus-kasus kanker kepala dan leher.6

Insiden meningkat sesuai dengan umur, umumnya terjadi pada usia di atas 50 tahun, dengan ratio antara laki-laki dan perempuan 4-5:1. Namun dengan meningkatnya kebiasaan merokok pada wanita maka ratio ini menurun menjadi 3:1 sejak 5-10 tahun lalu. Selain itu alkohol juga mempunyai pengaruh yang sama dan berpotensi lebih cepat pada mereka yang merokok. Kebiasaan merokok dan minum alkohol ditemukan pada 80% penderita kanker kepala leher dan menempatkan mereka 15 kali lebih besar ke resiko kanker dibandingkan dengan mereka yang tidak merokok dan minum alkohol. Pemakaian smokeless tobacco sangat berhubungan dengan lesi premalignan pada kavum oris seperti hiperkeratosis, dysplasia epitel.2,4,5

Faktor diet tampaknya memegang peran penting terhadap risiko kanker oral dan faringeal. Sejumlah studi epidemiologi menunjukkan resiko yang meningkat pada mereka dengan diet nutrien yang tidak mencukupi seperti defisiensi vitamin B, riboflavin, vitamin C. Karsinogen berupa debu kayu, penyamakan kulit, nikel, radium, toratrasi dan gas mustard berperan pada kanker hidung dan sinus paranasalis.4,5
Biologi

Penyebab pasti terjadinya kanker belum diketahui, namun terjadinya kanker dipengaruhi oleh berbagai faktor sehingga disebut sebagai “multifaktorial karsinogenesis” yang proses terjadinya bertahap “multistep karsinogenesis”.2-4,7,8 Permukaan mukosa dari traktus respiratoris bagian atas, paru-paru dan esofagus dapat terpapar berulang-ulang dengan karsinogen yang sama misalnya tembakau dan alkohol.

Tumorigenesis atau karsinogenesis pada traktus aerodigestive dipercaya sebagai proses multistep dimulai oleh kerusakan genetik akibat pemaparan karsinogen yang kontinu. Perubahan genetik yang spesifik berupa aktivasi onkogen (misalnya Cyclin D1), inaktivasi atau mutasi dari tumor suppressor gen (misalnya p53) dan amplifikasi dari faktor pertumbuhan dan reseptornya. Perubahan-perubahan gen spesifik ini akan berakibat perubahan fenotipe dari diferensiasi atau proliferasi atau keduanya. Tumor suppresor gen p53 berlokasi pada kromosom 17 merupakan gen yang sangat lengkap diamati pada neoplasia kepala dan leher serta kanker lain.2,4,8

Mutasi dan over ekspresi dari p53 terjadi pada 40-60% penderita kanker dan berhubungan dengan prognosis yang jelek dimana penderita mengalami rekurensi yang lebih cepat. Di samping itu dengan melakukan pemeriksaan mutasi gen pada tumor margin penderita maka, dapat mengidentifikasi adanya rekurensi lokal tumor, sehingga pemberian ajuvan terapi bisa dilakukan. Telah diketahui pada 37% orang yang merokok mengalami mutasi dan bila disertai dengan alcohol meningkat menjadi 58%.2,4,8

Lesi neoplastik yang multipel dapat muncul dan menjadi progresif pada penderita yang sama secara simultan atau sekuensial dalam suatu proses yang disebut field cancerization. Metachronous second primary tumor berkembang pada 4-7% umumnya adalah skuamous sel dapat terjadi pada daerah yang terpapar karsinogen traktus aerodigestive..2-4,8
Evaluasi Penderita

Evaluasi penderita saat pertama berkunjung ke klinik atau rumah sakit merupakan hal yang sangat penting bukan hanya dalam memperoleh informasi yang relevan tetapi juga untuk membangun rasa kepercayaan penderita. Faktor kedua ini sering kurang diperhatikan di mana dokter dan penderita memulai hubungan seumur hidup dalam perjuangannya melawan penyakit.1

Pada saat penderita ditemukan, hal-hal yang penting untuk dievaluasi meliputi: riwayat penyakit yang lengkap, pemeriksaan fisik, diagnosis banding, dan penilaian terhadap temuan yang diperoleh.
Riwayat penyakit

Memperoleh informasi yang berhubungan dengan gejala dan tanda kanker kepala leher perlu dilakukan. Juga karakteristik dari proses penyakit apakah lamban atau agresif, letak maupun perluasan tumornya. Penderita ditanya mengenai faktor resiko potensial kanker kepala leher seperti merokok dan minum alkohol, di mana resikonya 15 kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak merokok dan tidak minum alkohol. Selain itu faktor risiko lain yang kurang diketahui seperti a) sinar ultra violet, radiasi ion terhadap kanker kulit; b) debu kayu, penyamakan kulit, pemurnian nikel, radium, torathrust dan gas mustad terhadap kanker hidung dan sinus paranasal; c) ikan asing, nitrosamin, Ebstein barr virus, defisiensi vitamin C terhadap kanker nasofaring; d) pinang, mengunyah tembakau, sifilis, defisiensi vitamin B dan riboflavin dan iritasi kronis terhadap kanker kavum oris; e) asbestos, coke oven, debu kayu, defisiensi riboflavin terhadap kanker laring.4

Setelah itu ditanyakan juga riwayat penyakit sebelumnya, operasi sebelumnya dan aktivitas penderita sehari-hari untuk mengetahui performance status. Tanda dan gejala yang menunjukkan kanker kepala dan leher: Odinofagi Obstruksi nasi Disfagi Blood stained rhinorhoe-Epistaksis Kehilangan berat badan Parestesi/nyeri fasial Gigi yang tanggal Defomitas wajah Foetor ex ore Neuropati cranial Trismus Suara serak Otalgia Stridor/sesak Tumor koli Sefalgia5

Pemeriksaan Fisik

Setelah riwayat penyakit yang lengkap diperoleh, tahap berikut adalah melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik yang adekuat pada kepala dan leher sering sulit dilakukan, karena traktus aerodigestif tidak dapat dilihat secara langsung. Ini membutuhkan ketrampilan tertentu dan dengan instrumen khusus.

Inspeksi pada seluruh permukaan mukosa kavum nasi, mulut, orofaring, nasofaring, hipofaring dan laring harus diperhatikan. Juga diamati kulit dan kulit kepala, keadaan nervi kranialis. Palpasi pada tumor untuk mengetahui letak, besar, konsistensi, fiksasi pada kulit dan jaringan sekitarnya.
Pemeriksaan Tambahan

Pemeriksaan fisik mempunyai keterbatasan, sehingga dibutuhkan tambahan pemeriksaan tertentu untuk evaluasi penderita dengan lebih akurat. Tempat utama yang cenderung misdiagnosis yaitu tulang, jaringan lunak dan pembuluh darah besar yang dapat diinvasi oleh tumor. Untuk itu dibutuhkan pemeriksaan radiografi dan FNA.2

Computed Tomography (CT) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) akan memberikan informasi mengenai ukuran dan perluasan penyakit yang tidak dideteksi pada evaluasi awal. CT lebih superior dibandingkan dengan MRI pada kavum oris dan hubungan antara tulang dan jaringan lunak. Sebaliknya MRI dengan kontras untuk tumor orofaring dan laring. Selain terhadap tumor primer pemeriksaan radiografi ini bermanfaat pada occult nodal metastases, dimana CT dengan kontras dapat mendeteksi metastase pada kebanyakan pengamatan. Namun dengan gabungan CT dan MRI dapat dideteksi metastase yang berukuran 6 mm dan perluasan ekstra kapsuler. Terhadap invasi pada pembuluh darah besar, MRI sangat akurat dalam menilai invasi pada arteri karotis.4

Pada saat ahli bedah kepala dan leher mendapatkan bahwa ada keganasan melalui riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik, maka pemeriksaan keadaan umum penderita harus dievaluasi sebelum pemeriksaan panendoskopi. Kebanyakan kasus kanker kepala dan leher berumur lanjut, perokok dan minum alkohol, menyebabkan mereka peka terhadap penyakit lain yang serius.5

Pemeriksaan fungsi paru, berupa cadangan paru dengan menggunakan spirometer, maupun analisa gas darah. Pemeriksaan status kardiovaskular harus diketahui dengan baik sebelum penderita menjalani suatu tindakan. Pemeriksaan foto toraks dapat mengetahui keadaan paru maupun metastase. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui fungsi hati, ginjal, Hb, hemostasis. Menentukan status performance Karnosky scale untuk mengetahui tingkat gangguan penyakit terhadap penderita.
Panendoskopi

Panendoskopi merupakan tindakan operatif endoskopi untuk memastikan diagnosa dan staging, dan mengetahui adanya synchronous primary tumor. Ini meliputi laringoskopi direkta, esofagoskopi dan trakeo-bronkoskopi. Endoskopi fleksibel dan biopsi kadang dapat dilakukan di poliklinik, tetapi tidak dapat mengganti endoskopi dan biopsi dengan anestesi umum. Biopsi yang adekuat harus dilakukan untuk memastikan diagnosis histopatologinya.4
Gambaran Klinik

Penderita pada stadium awal memperlihatkan gejala yang samar-samar dan minimal. Kebanyakan kasus datang dengan keadaan locally advanced yang gejalanya bervariasi tergantung dari letak tumor tersebut.2
Adenoid cystic carcinoma

Adenoid cystic cancer (AdCC) merupakan tipe tidak biasa dari kaker yang dapat timbul dibanyak tempat diseluruh tubuh. Hal ini sering terjadi di area kepala dan leher, terutama pada glandula saliva; tetapi juga telah dilaporkan pada payudara, glandula lacrimalis mata, paru, otak, kelenjar bartholini, trachea dan sinus paranasal. Hal ini terkadang dinamakan adenocyst, sylindroma, adenosystic, adenoidcysticm ACCm AdCC.
ADENOID CYSTIC carcinoma (ACC) merupakan tumor maligna yang jarang memperngaruhi glandula saliva mayor dan minor, kelenjar lacrimalis, kelenjar seruminois, dan pada beberapa hal kelenjar ekskretori dari traktus genital wanita. Adenois cyst carcinoma dikenal baik dengan masa klinis yang lama dan adanya tendensi untuk onset metastasis yang jauh. Kombinasi pembedahan dan terapi radiasi post OP dapat membuat kita untuk meningkatkan control locoregional dari penyakit ini. Tetapi masa klinis yang lama, terkadang berdekade, membuat sulit untuk memnedakan apakah pilihan terapi dapat mempengaruhi keselamatan.

Kemajuan kecil telah dibuat dalam penyebaran penyakit, paru-paru menjadi organ yang lebih sering terkena. Ketika metastasis timbul pada tulang, terutama tulang belakang, masa klinis penyakit biasanya fulminant. Ini sebuah gambaran retrospektif dari pengalaman institusi dengan ACC dimana pembedahan konsisten dan filosofi terapi radiasi diaplikasikan.

Hal ini merupakan tumor kelenjar saliva maligna yang paling sering dari keseluruhan (setelah carcinoma mucoepidermoid). Hal ini merepresentasikan 28% dari tumor kelenjar submandibula, membuatnya merupakan tumor kelenjar saliva maligna yang paling sering diwilayah ini. Pasien dapat bertahan untuk bertahun-tahun dengan metastasis dikarenakan tumor ini secara umum berdifferensiasi baik dan tumbuh lambat. Ada 70% kesempatan dari keselamatan dalam 5 tahun, dimana turun hingga 20 % dalam 20 tahun yang merefleksikan kematian dari timbulnya penyakit metastasis lambar.
Epidemiology
ACC secara relative lebih sering merupakan tumor leher dan kepala dan menyebabkan hampir2 hingga 4% dari tumor area kepala dan leher. Kisaran umur tidak biasanya lebar dan hal ini bisa timbul pada anak-anak. Hal ini paling sering terjadi pada usia 40-70 tahun. Dan lebih sering timbul pada wanita dalam rasio 3:2
Histopathology
Dia mempunyai penampakkan histopatologis yang berbeda. Ada 3 pola pertumbuhan utama pada histology :
• Cribiform
• Tubular
• Solid. Hal ini biasanya diikuti dengan onset yang lebih agresif.
Presentasi
Hal ini bergantung pada tempatnya, tetapi dapat menampilkan:
• Pertumbuhan lambat massa yang tidak sakit di sekitar wajah atau mulut. Pada satu studi menggunakan reseksi tumor di sinus paranasal dan tulang anterior ACC merepresentasikan 15% dari tumor yang ditemukan.3
• Tumor yang lebih tinggi dapat menginvasi saraf dengan menyebabkan paralisis dan nyeri. ACC merupakan perhatian dari bedah saraf dan neurologist dikarenakan akan tendensinya untuk menginfiltrasi struktur saraf dan menyebar secara perineural. Keterlibatan intracranial dapat timbul tetapi jarang. 4,5
• Tumor dari kelenjar lacrimalis dapat mempengaruhi penglihatan dan dapat juga menyebabkan proptosis. ACC merupakan neoplasma epitel maligna primer yang sering mempengaruhi kelenjar lacrimalis. 6
• Didalam Paru ACC dapat merepresentasikan dengan gejala respirasi. ACC merupakan tumor primer kedua yang sering dari trachea dan membawa prognosis yang buruk (38,5% 5 tahun keselamatan). Relatif terhadap karsinoma skuamosa hal ini telah ditemukan pada pasien yang lebih muda dan secara relative resisten terhadap terapi. 7
• Pada laring hal ini dapat menyebabkan perubahan suara dan menampakkan serak serta kesulitan untuk bernafas..8
Differential diagnosis
• Tumor Kelenjar Saliva
o Benign mixed salivary gland tumour
o Mucoepidermoid carcinoma
o Polymorphous low grade adenocarcinoma (PLGA) membagi penampakkan yang sama dengan ACC
• Squamous cell carcinoma.
Investigasi
• Tumour (baru atau sebelumnya) dapat diidentifikasi melalui CT Scan atau MRI
• Tidak ada marker serologis meskipun laporan terbaru dengan menggunakan CD43 (siaglycoprotein) dapat berguna sebagai tambahan untuk pemeriksaan histologist dalam membedakan ACC dari PLGA dan monomorphic adenoma.13
• Diagnosis adalah dengan biopsy atau reseksi diikuti dengan penilaian histologist. Investigasi dari imunoreaktivitas adalah untuk mengidentifikasi marker yang lebih jauh tidak dapat dibuktikan adalah sangat menolong.1,14
Staging
Staging untuk mrencanakan terapi dan menilai prognosis harus mengidentifikasi:
• Lokasi. Beberapa lokasi mempunyai prognosis yang buruk, seringkali merupakan hal yang sulit dari reseksi pembedahan sempurna.
• Pembersihan dari batas pembedahan
• Subtipe Histologis
• TNM staging
Staging pada karsinoma sangat sedikit mengalami perubahan dalam dekade terakhir. CT dan MRI secara umum telah diterima sebagai perangkat yang penting dalam penentuan clinical staging. Saat ini telah diperkenalkan pemeriksaan perubahan genetik pada pada sel di sekitar tepi tumor atau kelenjar yang memperlihatkan gambaran histopatologi normal. Analisis molekuler ini telah menunjukkan ramalan akan terjadinya rekurensi tumor, hal ini akan membantu klinisi dalam menentukan terapi.
Staging kanker kepala dan leher didasarkan pada TNM staging system, yang diklasifikasikan sesuai letak anatomi dan perluasan penyakit. T (tumor) staging bervariasi letak tumor itu pada regio tertentu kepala leher sedangkan klasifikasi untuk lymph-node (N) dan distant metastases (M) seragam untuk semua tempat.

Management
• Reseksi pembedahan merupakanterapi yang menjadi pilihan. Terapi terbaik adalah pembedahan yang agresif. 6
• Radiotherapy postoperative digunakan untuk mencoba dan mengurangi rekurensi 15 beberapa menimbang hal ini harus menjadi standar terapi untuk ACC untuk kepala dan.16 Ada juga saran dari satu studi bahwa adalah hal ini tidak diperlukan dimana batas pembedahan adalah negative17
• Chemotherapy belum menghasilkan hasil yang baik. Uji coba kombinasi kemoterapi berada dalam jalab untuk metastase dan secara local merupakan penyakit yang rekuren.19
Terapi primer untuk kanker ini, disamping bagian tubuh, pemindahan secara pembedahan dengan batas yang jelas. Pembedahan ini dapat memberikan tantangan diwilayah kepala dan leher akibat tendensi tumor yang dapat menyebar melalui traktus saraf. Tambahan atau terapi palliative radioterapi merupakan hal yang sering diberikan setelah pembedahan. Dibeberapa kasus pembedahan bukan merupakan pilihan yang rasional, bagaimanapn radiasi yang digunakan secara tunggal dapat memberikan terapi yang efektif. Terapi netron telah menunjukkan untuk menjadi superior untuk beberapa tipe dari karsinoma adenoid cystic carcinoma kepala dan leher. Kemoterapi yang digunakan untuk penyakit metastase. Kemoterapi dipertimbangkan dalam kasus demi kasus sebagai dasar, sebagaimana ada data yang terbatas dalam efek postif kemoterapi. Studi klinis bagaimanapun sedang berjalan.
Penanganan penderita kanker kepala dan leher membutuhkan kerjasama multidisiplin yang tergabung dalam suatu tim yang terdiri dari ahli bedah kepala leher, subspesialis lain seperti bedah saraf, bedah vaskuler, bedah plastik, anestesiologi; onkologi radiasi; onkologi medis; penyakit dalam; ners; rehabilitasi bicara dan menelan; audiologi; fisioterapi; psikiatri; bimbingan agama; nutrisi.

Tujuan pengobatan pada kanker kepala dan leher menyembuhkan penderita dengan mempertahankan fungsi orofaringeal dan restorasi kosmetik yang bisa diterima. Pembedahan dan radioterapi merupakan terapi standard pada kebanyakan kasus kanker kepala dan leher. Sedangkan kemoterapi digunakan hanya pada penderita yang rekuren atau mengalami metastasis. Akhir-akhir ini kemoterapi mempunyai peranan penting pada kebanyakan penderita dengan locally advanced karsinoma laring yang menghindari laringektomi total, dimana diberikan kemoterapi diikuti oleh radioterapi.

Pada penderita stadium awal I atau II, pembedahan atau radioterapi diberikan untuk tujuan kuratif, dimana lebih dari 80% penderita stadium I dan lebih dari 60% stadium II akan memperoleh kesembuhan. Pemilihan pengobatan tergantung dari lokasi tumor, pengalaman ahli bedah dan keinginan penderita. Pada stadium III dan kebanyakan stadium IV pembedahan diikuti oleh radioterapi dianggap sebagai terapi standard, kecuali penderita tidak dapat menjalani pembedahan atau lesinya unresectable. Pada kebanyakan kasus yang lanjut pengobatan kuratif ini, akan menimbulkan masalah-masalah kosmetik dan sosial serta hilangnya fungsi organ. Walaupun terapi lokal yang optimal, lebih dari 50% penderita stadium III dan IV akan mengalami rekurensi lokal dan regional dan hampir 30% mengalami metastase jauh.
Komplikasi
Komplikasi dengan kisaran yang lebar dapat timbul dari penyebaran lokalm metastase dan terapi. Hal ini dapat dibedakan dari tempat dan perluasan dari invasi local.
Prognosis
5 tahun angka keselamatan adalah 89% 10 tahun angka keselamatan adalah 65% 10 15 tahun angka keselamatan adalah hanya 40%, merefleksikan perkembangan yang lambat dari penyakit ini. Prognosis yang buruk meliputi penyebaran saraf dan batasan pembedahan yang jelas. 1 Staging klinis, lokasi primer, dan subtype histology juga dengan jelas dapat mempengaruhi prognosis. Sebagai contoh tumor kelenjar saliva yang secara umum mempunyai prognosis yang buruk dibandingkan dari ACC pada dada.
Angka rekurensi dipengaruhi oleh lokasi tumor primer. Rekurensi juga dipengaruhi oleh factor klinis (umur, jenis kelamin, lokasi dan staging), terapi post OP (radioterapi atau tidak) dan variable patologis (gtingkat, batas reseksi dan invasi perineural). Ada saran terbaru bahwa marker dan marker lain dapat berkorelasi dengan prognosis 2,15 Lebih banyak riset yang diperlukan untuk mengevaluasi terapi dan prognosis
Rehabilitasi Pasca Pengobatan

Penanganan penderita kanker kepala dan leher belum berakhir setelah berhasilnya pengangkatan tumor maupun radioterapi. Penderita mungkin mengalami gangguan pernapasan, bicara, mengunyah dan menelan, gerakan bahu, penciuman. Pada fase ini pengobatan bertujuan untuk memperbaiki bentuk dan fungsi, kalau mungkin ke keadaan sebelum sakit atau paling tidak pada tingkat yang bisa diterima dilingkungan sosial.
Follow-Up Jangka Panjang

Penderita harus dijadwalkan untuk memeriksakan diri secara teratur untuk menyingkirkan kemungkinan timbulnya rekurensi lokal regional, metastase jauh dan second primary tumor. Data akhir-akhir ini menunjukkan bahwa 85% rekurensi terjadi dalam 2 tahun pertama dan hanya kurang dari 5% terjadi setelah 3 tahun sesudah pengobatan pertama. Untuk itu follow-up dilakukan setiap 4-6 minggu dalam tahun pertama, 2 bulan pada tahun kedua, 3-4 bulan tahun ketiga dan setiap interval 6 bulan setelah 3 tahun.

DAFTAR PUSTAKA
1) Krause CJ. Presidential address, head and neck. In: Fee, Goepert, John, editors. American Society for Head and Neck Surgery; 1990.p.1-3
2) Rodriguez-Monge EJ, Shin DM, Lippman SM. A comprehensive review head and neck cancer. Medical Oncology 1997
3) Soegeng SM, Willy S, Dyah F. Aspek patologi tumor THT-Kepala. Perkembangan terkini diagnosis dan penatalaksanaan tumor ganas THT-KL. In: Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan. Surabaya: FK UNAIR; 2002.p.8-36
4) Forastiere A, Koch W, Trotti A, et al. Head and Neck Cancer. NEJM 2001; 345:1890-900
5) Teknos TN, Coniglio J, Nettervile J. Guideline to the patient management. In: Byron JB, editor. Head and Neck Surgery-Otolaryngology. 2nd ed; 1996.p.1401-11
6) Kuhuwael FG, Didit S. Aspek klinis karsinoma nasofaring di Rumah SakitUmum Dadi dan Rumah Sakit Umum Dr Wahidin tahun 1990-1999. Pertemuan Ilmiah Berkala XV. Fakultas Kedokteran UNHAS; 2001
7) Masrin M. Keganasan dibidang telinga hidung tenggorok. In: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung dan Tenggorok FKUI. 4th ed; 2000. p.135-41
8) Masrin M. Keganasan dibidang telinga hidung tenggorok. In: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung dan Tenggorok FKUI. 4th ed; 2000. p.135-41
9) Levine PA, Serdman D. Neoplasma of the oral cavity. In: Byron JB. Head and Neck Surgery-Otolaryngology. 2nd ed., 1996.p.1523-39

3 Comments

  1. brr..ngeri ah, yg jelas gw lg konsen sama “berhenti ngerokok”..hehehee..

    nice nice..

  2. Kenapa di Indonesia belum ada laporan tentang penderita Adenoid Cistyc Carcinoma? Suami saya didiagnose terkena kanker jenis ini sejak 2005, dihandle oleh dokter senior rscm. Tidak adakah update statistik penderita kanker?

    • mungkin ada ibu,,,tapi saya belum mendapatkannya khusus untuk adenoid cystic carcinoma ..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: