Skip navigation


Vaksin measles-mumps-rubella (MMR) yang mengandung strain virus mumps Urabe ditarik dari peredarannya di Inggris Raya (UK) pada tahun 1992 menyusul demonstrasi atas meningkatnya resiko meningitis aseptik dalam kurun waktu 15-35 hari setelah vaksinasi. Mengikuti perkenalan dengan suatu pengganti vaksin MMR (Priorix; GlaxoSmithKline, London, Inggris Raya) pada tahun 1998, surveillance (pengawasan) aktif dari penyakit meningitis aseptik dan konvulsi telah diselenggarakan guna mengevaluasi resiko yang berkaitan dengan vaksin baru tersebut. Tidak ada kasus meningitis mumps yang telah dikonfirmasikan oleh laboratorium yang dapat dideteksi di kalangan anak-anak berusia 12-23 bulan setelah pemberian 1,6 juta dosis Priorix (diatas 95% batas nilai confidence resiko: 1:437.000) di Inggris dan Wales. Batasan diatas 95% batas confidence tidak memasukkan resiko yang ditemukan untuk meningitis mumps yang disebabkan vaksin Urabe (1:143.000 dosis). Tidak ada kasus meningitis aseptic yang dideteksi pada anak-anak berumur 12-23 bulan, yang telah menerima 99.000 dosis Priorix (diatas 95% batas confidence resiko: 1:27.000), menurut suatu sumber data regional dari kasus-kasus pasien yang telah diadmisikan di rumah sakit. Hal ini dibandingkan dengan suatu resiko yang telah diamati sebesar 1:12.400 untuk vaksin Urabe. Suatu peningkatan insiden relative konvulsi telah ditemukan pada periode 6 sampai dengan 11 hari setelah pemberian Priorix (insiden relative = 6.26, 95% confidence interval: 3.85, 10.18) yang berarti konsisten dengan efek-efek yang telah diketahui tentang komponen measles dalam vaksin MMR tetapi tidak pada periode 15-35 hari (insiden relatif ¼ 1.48, 95% confidence interval: 0.88, 2.50) sebagaimana yang muncul pada vaksin yang mengandung Urabe. Studi ini mendemonstrasikan kekuatan dari postmarketing surveillance aktif untuk mengidentifikasi atau mengeliminasi kejadian-kejadian yang terlalu jarang untuk dapat dideteksi dalam percobaan-percobaan sebelum mendapat izin (prelicensure).

[Kata Kunci] sistem pelaporan reaksi efek samping obat; vaksin measles-mumps-rubella; meningitis, aseptik; kejang; vaksin-vaksin

Singkatan: CI, confidence interval; ICD, International Classification of Diseases (Klasifikasi Penyakit-penyakit Internasional [WHO]; MCC, meningococcal serogroup C conjugate [konjugat serogrup meningococcus]; MMR, measles-mumps-rubella; RI, relative insiden [insiden relatif].

Pada bulan Oktober 1998, Inggris Raya memperkenalkan penggunaan vaksin measles-mumps-rubella (MMR) untuk tujuan imunisasi rutin bagi anak-anak di tahun kedua dari kehidupan mereka. Pada saat vaksin ini diperkenalkan, para peneliti dari Kanada telah melaporkan bahwa vaksin yang mengandung strain virus mumps Urabe dalam dua atau tiga sediaan memiliki kaitan dengan meningitis aseptic yang ditimbulkannya pada sekurang-kurangnya 1 per 100.000 vaksin (1). Walaupun demikian, tidaklah begitu jelas pada saat itu apakah hubungan tersebut bersifat sebab-akibat, dan jikalau benar, apakah sebenarnya resiko yang melengkapinya itu dan apakah efek samping itu merupakan resiko ekslusif yang hanya berkaitan dengan vaksin yang mengandung strain Urabe. Pengawasan sebelum izin didapatkan yang telah disempunakan telah diselenggarakan di Inggris Raya mengunakan skema Unit British Paediatric Surveillance Unit, dimana setiap bulannya ahli pediatrik mengirimkan satu set kartu berisikan kondisi tertentu yang akan dilaporkan, untuk setiap meningoencephalitis yang terjadi setelah pemberian vaksinasi MMR (2). Pengawasan ini menemukan resiko 1 per 250.000, tetapi diantara laporan-laporan tersebut terdapat bagian yang menyatakan bahwa kasus-kasus berkaitan dengan Urabe yang berasal dari wilayah Nottingham memberikan suatu resiko substansial yang lebih besar (3). Studi-studi epidemiologik berurutan menggunakan kasus-kasus meningitis aseptik yang diidentifikasi di laboratorium dan rumah sakit yang berkaitan dengan laporan-laporan vaksinasi MMR menemukan bahwa resiko sebenarnya dari MMR yang berkaitan dengan meningitis aseptik secara substansial lebih besar dari nilai yang diperkirakan sebelumnya (~1 dalam 10.000-15.000 dosis) dan secara ekslusif berkaitan dengan strain virus Urabe yang terkandung didalam vaksin tersebut (4–6). Lebih lanjut, terdapat suatu peningkatan resiko bagi pasien untuk menjalani proses rawatan di rumah sakit akibat konvulsi febrile 15-35 hari setelah menerima vaksin MMR yang mengandung Urabe (suatu resiko pelengkap sekurang-kurangya 1 dalam 15.000 dosis), yang mengindikasikan resiko sebenarnya dari konsekuensi neurologik akut dari komponen mumps Urabe dalam MMR yang telah dikesampingkan ketika menggunakan metode-metode kasus yang tidak pasti yang hanya didasarkan pada investigasi laboratorium semata (5). Periode waktu dimana terdapat peningkatan resiko konvulsi dikaitkan dengan komponen mumps Urabe berkisar tidak kurang dari 6 sampai dengan 11 hari dimana dalam periode ini konvulsi febrile merupakan faktor pelengkap terhadap komponen measles (7).

Mengikuti penarikan vaksin yang mengandung mumps Urabe dari peredaran di Ingris Raya pada bulan September 1992, vaksin MMR yang hanya digunakan sampai bulan May 198 ialah MMRII, yang berasal dari Sanofi Pasteur (Lyon, Perancis). Vaksin ini mengandung komponen mumps Jeryl Lynn, yang tidak menunjukan bukti keterkaitan atau hubungan baik dengan meningitis aseptik maupun konvulsi febrile dalam 15-35 hari setelah periode vaksinasi (5, 6, 8). Laporan-laporan secara berurutan dari berbagai Negara menunjukkan bahwa meningitis aseptic berkaitan dengan semua jenis strain vaksin mumps kecuali strain Jeryl Lynn (9, 10). Yang menarik dari hal ini adalah, tidak seperti jenis strain vaksin virus mumps yang lainnya, strain vaksin Jeryl Lynn adalah suatu campuran dari dua hasil isolasi dengan heterologi pada gen protein hidrophobiknya (11).

Pada bulan May 1998, GlaxoSmithKline (London, Inggris Raya) mengembangkan suatu vaksin pengganti MMR, Priorix, yang dalam setiap komponen vaksin mumpsnya (RIT 4385) merupakan turunan salah satu dari dua hasil isolasi yang terkandung dalam vaksin Jeryl Lynn. Walaupun telah dipikirkan sebelumnya bahwa dasar dari strain mumps dalam Priorix membuatnya hampir tidak mungkin menyebabkan meningitis aseptik, sangatlah memungkinkan bahwa eksistensi yang ada dalam dua strain terpisah pada vaksin Jeryl Lynn dikarenakan kemampuannya yang sangat kurang dalam menimbulakan patogenitasnya (12). Ukuran terbatasa dari percobaan prelicensure dengan Priorix (~7.000 anak-anak) berarti bahwa resiko dari derajat atau kutub yang dilihat dengan srain Urabe tidak dapat disingkirkan. Kemudian, pengawasan postlicensure meningitis aseptik dan konvulsi yang telah dioptimalisasikan dalam periode 15-35 hari setelah vaksinasi dengan Priorix, menggunakan metode yang didasarkan pada rumah sakit dan laboratorium, telah diselenggarakan di Inggris Raya mengikuti peluncuran vaksin baru pada bulan May 1998.

MATERIAL DAN METODE

Meningitis Aseptik

Laporan-laporan rumah sakit yang telah dikomputerisasi untuk anak-anak berusia 12-23 bulan di daerah Utara dan Selatan Thames di Inggris (dikombinasikan dengan angka kelahiran tahunan Cohort sekurang-kurangnya 100.000) dengan Klasifikasi Penyakit-penyakit International (International Classification of Diseases), Edisi Revisi Ke-Sepuluh (ICD-10), diagnosis viral meningitis saat pulang (A87), mumps (B26), meningitis dalam infeksi lain yang diklasifikasikan di mana saja (G02), dan meningitis yang dikarenakan penyebab lain dan penyebab yang tidak spesifik (G03) yang diidentifikasi untuk periode 1 May 1998, sampai dengan 30 Juni 2001, dan catatan-catatan kasus ditinjau ulang oleh seorang dokter ahli (B. T.). Catatan kasus ditinjau ulang berdasarkan pada suatu jumlah besar kode-kode yang lebih dari sekedar aspek yang mengindikasikan meningitis aseptik, untuk memastikan bahwa segala kasus potensial vaksin yang berkaitan dengan meningitis aseptik telah diidentifikasi. Laporan-laporan kasus di rumah sakit yang telah dikomputerisasi mencatat segala proses admisi ke rumah sakit National Health Service di Inggris. Mereka mengeliminasi segala non admisi tidak melalui National Health Service, tetapi pelayanan akut pediatrik di segala sektor privat tetap tidak dapat ditolak. Riwayat vaksnasi MMR yang didapatkan secara independen melalui relasi dan hubungan yang terkomputerisasi dengan catatan-catatan imunisasi pada dua wilayah di Thames, menggunakan jumlah atau jenis kelamin data National Health Service, tanggal kelahiran, dan kodepos, suatu algotritma spesifik tingkat tinggi (13). Informasi pada nomor catatan khusus di saring untuk adanya kasus-kasus meningitis aseptik yang telah dikonfirmasi dengan onset 15–35 hari setelah vaksinasi MMR. Bentuk nomor catatan khusus yang berbeda-beda secara substansial diantara para produsen obat baik pada panjang maupun kode alphanumerik dan ketepatannya berarti adanya suatu pembedaan antara vaksin-vaksin yang diproduksi dari produsen obat yang berbeda beda.

Sebagai tambahan, laporan-laporan rumah sakit yang telah dikomputerisasi untuk anak-anak berusia 12-23 bulan dengan (ICD-9), diagnosis pulang meningitis yang dikategorikan mumps, aseptik, atau virus (072.1, 047, 321), telah diidentifikasi ntuk periode 1 January 1991 sampai dengan 30 September 1992, sesuai dengan penarikan vaksin MMR yang mengandung Urabe, dan dikaitkan dengan riwayat vaksinasi MMR sebagaimana halnya dalam suatu studi awal yang telah dilakukan oleh Farrington dan kawan-kawan (5). Catatan-catatan ini tidak dikaji ulang, sejak kasus-kasus dalam analisa ini mempunyai kode ICD-9 yang spesifik terhadap meningitis aseptik dan telah divalidasi dalam studi sebelumnya (5). Nomor label khusus tidak difilter lagi untuk kasus-kasus ini karena vaksin yang mengandung Urabe yang mengandung sekurang-kurangnya 90% vaksin MMR yang digunakan pada saat itu. Analisis ini digunakan untuk membandingkan resiko perkiraan admisi rumah sakit untuk meningitis aseptik mengikuti vaksin mumps Urabe dalam suatu studi wilayah dengan perhitungan yang dihasilkan cdari studi-studi yang telah dilaksanakan sebelumnya (4, 5).

Kasus-kasus mumps meningitis yang dikonfirmasikan oleh laboratorium juga tidak pasti berasal dari laporan-laporan yang dibuat kepada Centre for Infections dari laboratorium-laboratorium di Inggris dan Wales untuk periode October 1992 sampai dengan akhir Juni 2004.

Konvulsi

Anak-anak berusia 12-23 bulan dengan diagnosis pulang konvulsi febrile (ICD-10 kode R560 atau R568, konvulsi febrile atau fit, tanpa hal lain yang spesifik) yang diadmisikan antara tanggal 1 January 1998 sampai 30 Juni 2002, telah diidentifikasi dan dikaitkan dengan laporan-laporan imunisasi yang dikomputerisasi untuk mendapatkan tanggal-tanggal pemberian vaksinasi MMR. Dimana tersedia, informasi nomor label khusus digunakan untuk identifikasi apakah vaksin MMR adalah MMRII atau Priorix. Hanya anak-anak yang berkaitan dengan satu dosis MMR ketika berusia 12-23 bulan yang kembali dimasukkan ke dalam data untuk dianalisa; informasi pada vaksinasi konjugat meningococcal serogroup C (MCC) juga diekstraksi. Kasus yang tidak dikaji ulang tidak dimasukkan ke dalam data untuk anak-anak ini karena jumlah mereka yang besar dan karena studi sebelumnya yang menggunakan kode-kode ICD-9 yang telah memiliki indikasi spesifitas derajat tinggi (5).

Paparan Vaksin MMR oleh Produsen Obat

Jumlah dosis Priorix dan MMRII yang diberikan kepada anak-anak berusia 1-2 tahun di Inggris dan Wales dan pada dua wilayah selama keseluruhan periode studi (1998–2004) diperkirakan dari rataan dan proporsi cakupan wilayah vaksinasi MMR dari distribusi nasional total MMR dan pada dua wilayah berdasarkan produsen (Departemen Kesehatan Inggris Raya, data yang tidak dipublikasikan, 2006).

Metode Statistik

Untuk meningitis aseptic, resiko absolute pada 15–35 hari setelah vasinasi MMR selama periode May 1998 sampai dengan June 2001 telah diperkirakan, seiring dengan 95 % CI. Dengan menggunakan Test Eksakta Fischer, resiko ini dibandingkan dengan perkiraan tersebut untuk periode January 1991 sampai dengan akhir September 1992, ketika vaksin MMR yang mengandung Urabe diberikan secara dominan.

Untuk konvulsi, insiden relative diperkirakan dengan menggunakan metode self-controlled case-series (5) dan kasus-kasus yang diidentifikasi menggunakan ICD-10 kode R560 atau R568. Resiko periode yang diinvestigasi ialah 6 sampai dengan 11 hari setelah vaksinasi dan 15-35 hari setelah vaksinasi. Periode pra-vaksinasi selama 2 minggu telah dihilangkan dari resiko latar belakang dengan cara memperlaukannya sebagai suatu periode resiko terpisah untuk mengizinkan tertundanya vaksinasi dikarenakan konvulsi. Umur terkontrol yang dapat masuk ke analisis ialah menggunakan kelompok umur 12-23 bulan. Episode konvulsi ulang pada individu-individu telah dianggap sebagai episode baru bila muncul sekurang-kurangnya dalam 10 hari terpisah. Interval ini dipilih karena dasar dari celah distribusi yang terbentuk diantara tiap kelompok, yang menunjukkan penurunan yang tajam selama kurun waktu 5 hari pertama dan tetap terjaga dalam level konstan setelahnya. Dimana terdapat suatu peningkatan insiden relatif yang teridentifikasi, resiko pelengkap vaksin dihitung dari dasar latar belakang resiko konvulsi pada tahun kedua kehidupan dan fraksi vaksin pelengkapnya. Insiden relatif konvulsi diperkirakan secara garis besar sebagaimana halnya produsen dan ada atau tiadanya vaksin MCC yang diberkan secara berturut-turut. Insiden relatif juga diperkirakan dengan menggunakan definisi kasus yang lebih spesifik dari konvulsi febrile (ICD-10 kode R560) pada lapangan diagnostic pertama.

HASIL

Meningitis Aseptik

Catatan-catatan kasus yang tersedia untuk dikaji ulang untuk 41 dari 45 admisi rumah sakit yang terdapat selama periode May 1998 sampai dengan Juni 2001 dengan ICD-10; diagnose pulang meningitis virus, mumps, meningitis pada infeksi lainnya yang diklasifikasi di mana saja, dan meningitis yang disebabkan karena penyebab lainnya dan penyebab-penyebab lain yang tidak spesifik. Setelah tinjauan ulang, terdapat tujuh kasus yang telah dikonfirmasi sebagai meningitis aseptik, 22 sebagai kasus meningitis bakteri, satu sebagai kasus meningitis kimiawi, dan satu kasus sebagai meningitis yang tidak spesifik; sisa 10 pasien yang telah diadmisikan telah ditemukan tidak menderita meningitis. Dari 7 kasus anak-anak dengan meningitis aseptik, 4 orang ditemukan tidak menerima vaksin MMR apapun sebelum admisi dan 3 orangtelah diadmisikan dengan meningitis aseptic pada hari ke 47, 140, dan 153 setelah vaksinasi MMR.

Oleh karena itu, tidak ada kasus meningitis aseptic yang ditemukan sepanjang kurun waktu 15-35 hari setelah vaksinasi MMR selama studi berlangsung. Jumlah dosis vaksin MMR Priorix yang telah diberikan pada anak-anak berusia 12 -24 bulan pada wilayah studi selama periode ini diperkirakan 99.177 pada basis ukuran kelahiran Cohort, cakupan vaksin, dan persentase nasional dari distribusi dosis vaksin MMR yang mengandung strain (table 1).

Selama periode bulan January 1991 sampai dengan bulan September 1992, sesuai dengan penarikan vaksin MMR yang mengandung Urabe, enam kasus meningitis aseptic telah diidentifikasi dari catatan-catatan rumah sakit yang telah dikomputerisasi; 4 dari anak-anak ini telah menerima vaksinasi MMR dalam kurun waktu 15-35 hari sebelum onset. Insiden relative untuk periode resiko ini ialah sebesar 25.9 (95 % confidence interval (CI): 2.8, 233), dan resiko absolute untuk vaksin yang mengandung Urabe (berdasarkan sebagaimana sebelumnya, kelahiran menurut Cohort, cakupan wilayah vaksin, dan persentase dosis vaksin Urabe yang didistribusikan) diperkirakan sebesar 1 dalam 12.400 doses (table 1).

Enam kasus meningitis mumps yang dikonfirmasikan oleh laboratorium telah dilaporkan ke Centre for Infections dari laboratorium-laboratorium yang ada di Inggris dan Wales diantara bulan Oktober 1992 sampai dengan bulan Juni 2004 (range umur, 5–26 tahun). Pasienyang berusia 5 tahun (kasus satu-satunya dalam kelompok umur yang ditargetkan menjalani vaksinasi rutin MMR) tidak menerima vaksin MMR apapun karena orangtuanya menolak. Jumlah perkiraan dosis Priorix yang telah diberikan kepada anak-anak berusia given to children aged 12–23 bulan selama periode sebesar 1.612.360. Batas atas 95 % batasan confidence disekitar resiko yang diobservasi ialah sebesar 1 dalam 437.000 dosis.

Ketika resiko absolute post-MMR dari meningitis aseptic yang telah didiagnosa di rumah sakit dan mumps meningitis yang telah dikonfirmasikan oleh laboratorium dibandingkan diantara periode penggunaan Urabe dan Priorix, resiko yang lebih rendah secara signifikan ditemukan pada periode Priorix (table 2). Hasil ini mengikuti batas atas 95 % confidence interval untuk resiko pada periode Priorix dibawah nilai perkiraan yang didapatkan untuk periode Urabe. Kami menekankan disini bahwa meskipun terdapat dua periode waktu berbeda yang diperbandingkan, metode yang sama digunakan masing-masing pada setiap kasus kasus yang belum mendapat kepastian.

Konvulsi

Sejumlah total 894 orng anak-anak yang diadmisikan ke rumah sakit pada tahun kedua kehidupanmereka dengan konvulsi febrile, atau konvulsi yang tidak spesifik, diantara bulan January 198 sampai dengan bulan Juni 2002 dan memiliki kaitan dengan catatan vaksinasi MMR. Anak-anak mempunyai total episode konvulsi sebanyak 988 (819 hanya punya satu episode, 60 mempunyai dua episode, 12 mempunyai 3 episode, dua orang mempunyai 4 episode, dan satu orang mempunyai 5 episode); 178 dari 988 episode muncul pada anak-anak yang tercatat telah menerima vaksin Priorix, 478 muncul pada anak-anak yang tercatat telah menerima MMRII, dan 332 episode yang memiliki produsen yang tidak diketahui. Tujuh puluh tiga anak-anak ini telah menerima vaksin MCC bersamaan dengan pemberian MMR. Dengan mengunakan diagnosis pulang ICD-10 kode R560 atau R568 pada setiap lapangan diagnosis (tidak distratifikasikan berdasarkan produsen vaksinnya), terdapat insiden relative yang meningkat secara signifikan sebesar 4.09 pada kurun waktu 6 sampai 11 hari post-vaksinasi, dengan bukti insiden relatif pre-vaksinasi yang lebih rendah disebabkan karena vaksinasi yang tertunda (table 2). Tidak terdapat bukti peningkatan insiden relatif pada periode resiko 15-35 hari.

Dari 66 konvulsi yang muncul dalam periode 6 sampai 11 hari (table 2), jumlah pelengkap vaksinasi berdasarkan insiden relative diperkirakan sebesar 50 (66 x 3.09/4.09 = 50). Kemudian, fraksi pelengkap vaksinasi dari semua konvulsi yang muncul selama tahun kedua kehidupan ialah sebesar 5.1 % (50/988). Pada set data Hospital Episode Statistics National, 1.7 % anak-anak di Inggris memiliki admisi untuk konvulsi pada tahun kedua kehidupan mereka; kemudian, resiko pelengkap per dosisnya diperkirakan sebesar 0.00087 (0.017 x 0.051 = 0.00087) atau 1 dalam 1.150 dosis.

Insiden relative dalam 2 minggu periode pre-vaksinasi dibawah 1, sebagaimana diharapkan. Periode pre-vaksinasi 3 sampai 6 minggu juga diperiksa tetapi tidak menunjukkan suatu pengurangan angka insiden relative (RI) = 1.01), jadi periode ini dimasukkan ke dalam latar belakang.

Stratifikasi berdasarkan produsen diduga memiliki insiden relative yang tinggi pada periode 6 sampai dengan 11 hari bagi Priorix (RI = 6.26) dibandingkan untuk MMRII (RI = 3.64), walaupun perbedaan ini tidak signifikan (p = 0.11). Tidak terdapat perbedaan insiden relative diantara produsen pada periode 15-35 hari (table 2). Di kalangan anak-anak yang telah menerima MMC vaksin pada saat yang sama dengan vaksinasi MMR, insiden relatif memiliki admisi untuk konvulsi pada periode 6 sampai dengan 11 hari setelah vaksinasi bernilai tinggi (RI = 7.74, 95 % CI: 3.82, 15.71) dibandingkan anak-anak yang tidak menerima vaksin disaat yang sama (RI = 3.81, 95 % CI: 2.87, 5.05). Perbedaan ini tidak signifikan secara statistik (p = 0.08).

Analisis menggunakan definisi diagnosis yang lebih spesifik telah dibawa ke permukaan dengan menggunakan ICD-10 kode R560 (konvulsi febrile) hanya pada lapangan diagnosis pertama. Terdapat 52 kasus dalam periode 6 sampai dengan 11 hari, dengan peningkatan ringan pada insiden relative menjadi 4.27 (95 % CI: 3.17, 5.76). pada periode 15-35 hari, terdapat 57 kasus-kasus, dan peningkatan insiden relative menjadi 1.33 (95 % CI: 1.00, 1.77), suatu peningkatan insiden relatif borderline yang signifikan.

DISKUSI

Studi ini mengkonfirmasi bahwa resiko meningitis aseptik dengan vaksin Priorix, jika hal ini ada pada segala segi, secara signifikan lebih rendah dibandingkan vaksin mumps yang mengandung Urabe. Studi ini mengizinkan pengeluaran resiko-resiko jarang yang sebanding dengan 1 dalam 437.000 untuk meningitis mumps yang dikonfirmasi oleh laboratorium; dengan vaksin yang tidak mengandung Urabe. Hal ini mendemonstrasikan kekuatan metode postlicensure surveillance berdasarkan kasus kasus yang belum beroleh kepastian dari kasus-kasus yang dikatkan dengan catatan-catatan vaksinasi yang dikumpulkan secara independen. Postlicensure surveillance yang bersandar pada kasus-kasus yang dilaporkan secara pasif yang secara sementara dihubungkan dengan vaksinasi tidak perlu sangat komplit dan tidak cocok untuk analisis epidemiologik.

Perkiraan yang didapatkan dengan menggunakan metode keterkaitan catatan yang ada sangatlah rentan, sebagaimana ditunjukkan oleh kesamaan diantara perkiraan insiden relative untuk admisi meningitis aseptic 15-35 hari post-vaksinasi pada dua wilayah studi kami sesuai tanggal penarikan vaksin MMR yang mengandung Urabe (RI = 25.9, 95 % CI: 2.8, 233) dan perkiraan yang menggunakan kasus serupa yang belum pasti dan metode keterkaitan catatan pada lima distrik di Inggris (RI = 38.1, 95 % CI: 4.3, 336) pada studi sebelumnya (5).

Resiko pelengkap admisi rumah sakit untuk konvulsi mengikuti setiap pemberian segala jenis vaksin MMR diperkirakan sebesar 1 dalam 1.150 dosis untuk periode post-vaksinasi 6 sampai 11 hari, berdasarkan perkiraan insiden relative sebesar 4.09. Ekses resiko dari konvulsi pada periode ini bertindak sebagai pelengkap terhadap komponen vaksin MMR (7) dan serupa dengan apa yang dilaporkan dalam studi-studi vaksin MMR terkait lainnya di Inggris Raya (5) dan di Amerika Serikat (8) dan dalam suatu studi prospektif kohort skala besar di Inggris Raya (14). Resiko absolut terakhir diperkirakan mendekati nilai yang ditemukan untuk vaksin measles antigen-tunggal yang menggunakan metode follow-up pada anak-anak di Inggris Raya. (7).

Insiden relative konvulsi pada periode 6 sampai denan 11 hari lebih tinggi untuk Priorix dibandingkan untuk MMRII, walaupun perbedaan ini tidaklah signifikan. Lebih lanjut, kelompok atau grup “produsen yang tidak diketahui” yang mengandung campuran antara vaksin Priorix dan MMRII, mempuyai insiden relative yang serupa dengan yang dimiliki vaksin MMRII, sehingga membuat dugaan adanya perbedaan yang besar diantara produsen menjadi tidak favorit. Vaksin virus measles ialah strain Schwarz dalam Priorix dan strain Edmonston-Enders dalam MMRII, keduanya merupak turunan dari strain Edmonston, jadi perbedaan utama dalam hal patogenisitas menjadi tidek mungkin. Lebih lanjut, tidak terdapat perbedaan antara strain-strain ini yang ditemukan mempunyai kecendrungan untuk menyebabkan konvuli jika diberikan sebagai vaksin measles antigen-tunggal. (7).

Terdapat beberapa bukti bahwa anak-anak yang diberikan vaksin MCC bersamaan dengan waktu pemberian vaksin MMR dapat memiliki resiko konvulsi yang lebih tinggi pada periode 6 sampai dengan 11 hari post-vaksinasi (RI = 7.74, 95 % CI: 3.82, 15.71) dibandingkan anak-anak yang menerima MMR tetapi tidak menerima vaksin MCC pada saat yang sama (RI = 3.81, 95 % CI: 2.87, 5.05), walupun penemuan ini tidak signifikan statistik. Dengan memberikan waktu yang diharapkan bagi vaksin MCC untuk bereaksi (maksimal dalam kurun waktu 3 hari pertama) (15), segala penyebab yang berhubungan dengan ini kelihatannya juga tidak favorit. Walaupun demikian, studi-studi lebih lanjut tentang resiko konvulsi setelah pemberian vaksin MCC sedang dalam tahap penelitian mengunakan metode keterkaitan catatan atau laporan.

Analisis konvulsi dalam periode 15-35 hari berdasarkan anak-anak yang pulang dengan diagnose febrile atau konvulsi yang tidak spesifik pada segala jenis diagnosis lapangan menunjukkan tidak adanya bukti peningkatan resiko setelah menerima vaksin MMR non-Urabe. Perkiraan insiden relatif untuk periode ini dalam studi kami sebesar (RI = 1.13, 95 % CI: 0.87, 1.48) diperbandingkan terhadap data yang telah dilaporkan dalam studi-studi sebelumnya menggunakan definisi kasus yang serupa dan metode analitik pada anak-anak yang hanya bisa untuk menerima vaksin MMRII (RI = 1.08, 95 % CI: 0.85, 1.38) (16) dan studi Cohort sebelumnya pada anak-anak yang menerima vaksin MMRII ketika vaksin MMR yang mengandung Urabe juga tersedia (RI = 1.04, 95 % CI: 0.56, 1.93) (5). Lagi-lagi kesamaan nilai perkiraan dari insiden relatif dari ketiga studi-studi yang memberikan bukti rentannya metode keterkaitan laporan dan statistic yang kita anut.

Dalam kesimpulannya, studi pengawasan aktif kami menggunakan keterkaitan laporan dan metode analisis self-controlled case-series telah menunjukkan tidak adanya bukti yang menduga bahwa vaksin MMR yang digunakan di Inggris Raya sejak pertengahan tahun 1998 dan turunan dari vaksin MMR yang mengandung strain Jeryl Lynn menyebabkan atribut (pelengkap) meningitis aseptik terhadap komponen mumpsnya.

UCAPAN TERIMA KASIH

Para penulis berterima kasih kepada GlaxoSmithKline (London, Inggris Raya) untuk bantuan finansialnya dalam usaha mendapatkan atau memiliki data yang harus diunduh untuk kepentingan studi ini . Tidak ada “conflict of interest” dalam hal ini.

KEPUSTAKAAN

1. Furesz J, Contreras G. Vaccine-related mumps meningitis— Canada. Can Dis Wkly Rep 1990;16:253–4.

2. Maguire HC, Begg NT, Handford SG. Meningoencephalitis associated with MMR vaccine. CDR (Lond Engl Rev) 1991; 1:R60–1.

3. Colville A, Pugh S. Mumps meningitis and measles, mumps, and rubella vaccine. Lancet 1992;340:786.

4. Miller E, Goldacre M, Pugh S, et al. Risk of aseptic meningitis after measles, mumps and rubella vaccine in UK children. Lancet 1993;341:979–82.

5. Farrington P, Pugh S, Colville A, et al. A new method for active surveillance of adverse events from diphtheria/tetanus/pertussis and measles/mumps/rubella vaccines. Lancet 1995;345:567–9.

6. Balraj V, Miller E. Complications of mumps vaccines. Rev Med Virol 1995;5:219–27.

7. Miller CL. Surveillance after measles vaccination in children. Practitioner 1982;226:535–7.

8. Barlow WE, Davis RL, Glasser JW, et al. The risk of seizures after receipt of whole-cell pertussis or measles, mumps and rubella vaccine. N Engl J Med 2001;345:656–61.

9. Folb PI, Bernatowska E, Chen R, et al. A global perspective on vaccine safety and public health: the GlobalAdvisoryCommittee on Vaccine Safety. Am J Public Health 2004;94:1926–31.

10. Black S, Shinefield H, Ray P, et al. Risk of hospitalization because of aseptic meningitis after measles-mumps-rubella vaccination in one- to two-year-old children: an analysis of the Vaccine Safety Datalink (VSD) Project. Pediatr Infect Dis J 1997;16:500–3.

11. Afzal MA, Pickford AR, Forsey T, et al. The Jeryl Lynn vaccine strain of mumps virus is a mixture of two distinct isolates. J Gen Virol 1993;74:917–20.

12. Afzal MA, Pickford AR, Forsey T, et al. Heterogeneous mumps vaccine. Lancet 1992;340:980–1.

13. Nash JQ, Chandrakumar M, Farrington CP, et al. Feasibility study for routine surveillance by record linkage of adverse events attributable to vaccination. Epidemiol Infect 1995; 114:475–80.

14. Miller C, Miller E, Rowe K, et al. Surveillance of symptoms following MMR vaccine in children. Practitioner 1989;233: 69–73.

15. Miller E, Salisbury D, Ramsay M. Planning, registration, and implementation of an immunisation campaign against meningococcal serogroup C disease in the UK: a success story. Vaccine 2001;20(suppl 1):S58–67.

16. Andrews NJ. Statistical assessment of the association between vaccination and rare adverse events post-licensure. Vaccine 2001;20(suppl 1):S49–53.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: