Skip navigation


Dr. Farid Abdul Hadi

Konsultan Kesehatan United States Agency for International Development (USAID) Regional Asia

Dunia gempar dengan wabah Influenza A/H1N1 atau  kondang dengan istilah Flu Babi. Akhir April 2009 sekelompok warga di Amerika Serikat terserang flu secara mendadak dan berbarengan. Sampel pun diambil dan terungkap bahwa kasus tersebut merupakan Flu tipe A/H1N1 yang pernah menyebabkan wabah global (pandemi) dan menelan hampir 100 juta nyawa di Bumi. Dr. Margaret Chan, Sekretaris Jenderal World Health Organization (WHO) segera mengumumkan kewaspadaan global terhadap Flu A/H1N1. Dalam hitungan hari ratusan ribu kasus tersebar ke berbagai belahan dunia akibat hubungan internasional yang tak terelakkan; Meksiko, Kanada, UK, Skandinavia, hingga New Zealand. Tiga bulan kemudian, Juni 2009, WHO mendeklarasikan bahwa dunia sedang mengalami pandemi Influenza global, sebuah kejadian yang langka namun mematikan.

Masuk Angin

Sampai tulisan ini dibuat, total korban yang meninggal akibat H1N1 mencapai 2.837 jiwa, menurut WHO. Padahal Influenza merupakan salah satu penyakit yang paling sering menyerang manusia. Orang awam memasukkan jenis penyakit ini dalam klasifikasi “masuk angin”. Dari sekian banyak pengertian “masuk angin”, didapati benang merah bahwa yang dimaksud “masuk angin” meliputi gejala badan terasa demam, lemas, batuk, pilek, sakit kepala, kembung, mual, hingga muntah. Nama lain “masuk angin” ialah Selesma atau Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Penyebab “masuk angin” ini beraneka macam, namun sebagian besar adalah infeksi virus saluran pernapasan. Salah satu virus yang sering menyerang dan membuat penderitanya merasa sangat sakit ialah virus Influenza, namun tidak semua ‘masuk angin’ dapat dikategorikan Influenza.

Influenza atau Flu disebabkan oleh virus Influenza yang menyerang sistem pernapasan (hidung, tenggorok, paru-paru). Virus Influenza merupakan keluarga Orthomyxoviridae dengan tipe A, B, dan C. Virus ini pintar, karena sangat sering menyerang manusia, virus ini menjadi sangat sering berubah bentuk. Di dalamnya terdapat dua komponen utama yang mudah berubah; Hemaglutinin (biasa disingkat H) dan Neuraminidase (biasa disingkat N). Hemaglutinin berfungsi melekatkan virus ke sel yang dituju, sehingga menentukan kemampuan menyebarkan penyakit. Sedangkan Neuraminidase berfungsi mengembak-biakkan virus, sehingga menentukan tingkat keparahan penyakit.

H dan N ini di dunia ini terdapat banyak jenisnya, dikenal dengan istilah strain, namun yang paling utama berasal dari keluarga unggas (H1-15; N1-19). Di manusia terdapat H1N1, H2N2, H3N2, H5N1, H9N2, dan H7N7. Sisanya terdapat pada kucing, harimau, anjing laut, hewan ternak, kuda, cerpelai, paus, dan babi. Bayangkan berapa ribu kombinasi H dan N yang dapat tercipta, bahkan H1N1 tahun 1918 sangat jauh berbeda dari H1N1 tahun 2009. Padahal saat ini vaksin influenza yang tersedia hanya untuk H1N1, H3N1, dan Influenza B. Pertimbangan ini yang membuat vaksin perlu diperbaharui setiap musim dan hanya diberikan pada kalangan berisiko tinggi (High Risk) yang mudah sakit, seperti orang tua, penghuni panti jompo, ibu hamil, atau mereka yang daya tahan tubuhnya kurang akibat penyakit tertentu.

Flu Babi

Seperti disebut di atas, Influenza terdiri dari tipe A, B, dan C. Virus Influenza tipe A menyebabkan penyakit sedang hingga berat, menyerang segala usia, dapat menginfeksi manusia dan hewan, menyebabkan epidemik dan pandemik, serta dapat berubah menjadi subtipe dan strain yang baru.

Virus Influenza tipe B menyebabkan penyakit lebih ringan, menyerang anak kecil, dan hanya dapat menginfeksi manusia. Ia mampu berubah menjadi strain baru, menyebabkan wabah, namun tidak sampai pandemik. Sedangkan virus Influenza tipe C sangat jarang terjadi, baik pada manusia atau hewan serta tidak menimbulkan wabah.

Influenza yang kita kenal sehari-hari lazim disebut flu musiman (seasonal flu). Virus ini dapat ditemukan di belahan dunia manapun, di negara apapun. Di daerah yang memiliki empat musim di belahan bumi utara akan mengalami wabah flu pada bulan Oktober hingga April. Sedangkan daerah dengan empat musim di belahan bumi selatan akan mengalai wabah flu pada bulan Mei hingga September. Intinya, terjadi pada musim semi dan puncaknya di musim dingin. Di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia, Influenza mewabah dalam pola yang tidak teratur, bahkan hingga setahun penuh dapat dibilang ‘musim sakit’.

Disebut Flu Babi karena terdiri dari beberapa gen yang serupa ditemukan pada babi di Amerika Utara. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa virus ini sama sekali berbeda dengan virus yang biasa menular di antara babi-babi di Amerika Utara. Terdapat percampuran gen ‘quadruple reassortant’ dari dua gen virus Influenza yang umumnya tersebar pada babi-babi di Eropa dan Asia, gen burung (unggas),  dan gen manusia. H1N1 saat ini merupakan bentuk yang rumit percampuran beberapa gen dan sama sekali berbeda dengan gen Flu pada babi, sehingga penyebutan Flu Babi dinilai kurang tepat.

Gejala dan Penyebaran H1N1

Mudah untuk diingat, berbeda dengan Severe Acute Resporatory Syndrome (SARS) dan Flu Burung yang sempat marak, H1N1 bersifat sangat mudah menyebar (dalam hitungan hari) namun tidak terlalu mematikan, dibanding Flu Burung dan SARS yang sebaliknya; relatif lebih pelan menyebar namun semua berakibat fatal. Saat ini H1N1 yang terjadi relatif ringan namun perlu diingat, lagi-lagi virus Influenza ini sangat pintar sehingga dapat berubah seiring dengan meningkatnya penularan.

Tidak ada vaksin yang secara spesifik melindungi dari Influenza A/H1N1, namun sejak terjadinya wabah Badan Pengawas Obat dan Makanan USA (FDA) telah melakukan uji coba vaksin baru yang sebenarnya siap dipasarkan tengah tahun 2009 ini. Seiring dengan vaksin, obat-obat antivirus yang ada pun sebenarnya masih belum 100% efektif. Regimen yang tersedia ialah Oseltamivir (merek: Tamiflu) dan Zanamivir (merek: Relenza), obat antivirus lain belum terbukti dapat membunuh virus Influenza H1N1. Namun dibanding tidak ada obat sama sekali, Oseltamivir dan Zanamivir dinilai masih manjur.

H1N1 memberi gejala yang disebut Influenza-Like Illness, berupa demam, hidung berair, batuk-batuk, sakit kepala berat, yang sering disertai gejala tambahan berupa rasa lemah, nyeri tenggorok, nyeri dada hingga sesak napas, diare dan muntah. Perbedaan dengan flu musiman ialah adanya riwayat kontak atau bepergian ke daerah dengan manusia atau hewan yang terjangkit H1N1.

Virus Influenza ini merupakan makhluk setengah hidup yang menyebar melalui bersin, batuk, bercakap-cakap, kontak langsung dengan kulit, atau kontak tidak langsung dengan benda-benda yang terkontaminasi. Ketika kita berbicara atau bersin akan terdorong sebagian ludah dalam bentuk yang sangat kecil (droplet) yang akan jatuh ke tanah pada jarak 1 meter dari mulut. Selain itu bisa juga disebarkan melalui partikel virus di udara (aerosol) hingga jarak 2 meter dari mulut. Karena tergantung pada udara, aerosol hanya menyebar pada ruangan lembab berukuran sekitar 2 x 2 m‑2. Alasan inilah yang penting mewajibkan orang sakit Flu diberikan masker penutup droplet dan aerosol  agar tidak menular ke orang lain.

Orang yang terinfeksi A/H1N1 dapat menularkan penyakit sejak beberapa hari (1-3 hari) sebelum terdapat gejala hingga 7 hari setelah sakit, bahkan dapat lebih lama pada anak-anak. Sedangkan SARS dan Flu Burung mulai menular hanya saat pasien terdapat tanda dan gejala. Itu tandanya jika seseorang positif H1N1 harus terus dikarantina minimal seminggu. Virus Influenza juga dapat bertahan di lingkungan luar dan dapat menginfeksi manusia sampai 2-8 jam setelah terekspos pada permukaan.

Dengan cara tersebut bisa dipastikan betapa mudahnya virus menyebar. Namun virus Influenza dapat dibunuh dengan panas (75-1000C) dan cairan antiseptik berupa klorin (biasa pada Bayclin), H2O2, iodofor (antiseptik berbasis iodin, mis. Betadine, Chlorhexidine), dan alkohol jika digunakan dalam konsentrasi dan waktu tertentu. Misalnya, berupa tisu basah atau gel yang mengandung alkohol dapat digunakan dengan menggosok tangan berupa gerakan mencuci tangan sampai rasa basah pada tisu atau gel itu mengering di permukaan kulit.

Proses Terjadinya Penyakit

Droplet yang masuk akan melewati jaringan basah berlendir (mukosa) saluran pernapasan dari mulai rongga mulut, tenggorok, hingga paru-paru. Terjadilah peradangan setempat di saluran napas atas dan saluran napas bawah. Meski terserangnya hanya di mukosa, namun tubuh akan berespon dalam bentuk lokal dan sistemik (menyeluruh), sehingga menyebabkan demam, sakit kepala, nyeri otot, dsb.

Semua kasus H1N1 yang mematikan merupakan akibat terjadinya komplikasi yang sering terjadi pada golongan berisiko tinggi, misalnya orang tua lebih dari 65 tahun, anak-anak kurang dari 2 tahun, pasien dengan penyakit kronik atau daya tahan tubuh berkurang (mis. Penyakit jantung, penyakit ginjal, penyakit liver, kanker dengan kemoterapi, diabetes, dll.), orang-orang yang sedang hamil, serta penghuni panti jompo.

Laporan menunjukkan bahwa H1N1 lebih sering menimbulkan komplikasi pada anak-anak serta tidak parah pada orang-orang tua, meski di Singapura banyak ditemukan orang tua yang meninggal karena H1N1. Komplikasi orang tua biasanya terjadi pada orang-orang yang memang sebelumnya sudah punya penyakit lain, diperparah dengan adanya H1N1.

Komplikasi saluran napas dapat berupa sinusitis dan otitis media (infeksi telinga tengah), biasanya pada anak kecil. Sedangkan komplikasi saluran napas bawah paling sering berupa bronkhitis (radang pipa napas), pneumonia (infeksi paru) yang dapat menyebabkan kematian, kambuhnya asma, kambuhnya Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), bronkhiolitis pada anak, pneumonia bakteri sekunder (5-10% pneumonia merupakan komplikasi dari influenza), dan pneumonia viral primer (fulminan) meski jarang.

Komplikasi lain di luar saluran napas berupa nyeri-nyeri otot (myositis) akibat peradangan pada otot, penyakit jantung akibat peradangan pada selaput dinding jantung (perikarditis) atau peradangan pada otot jantung (myokarditis), serta gagal jantung. Pengaruh ke susunan saraf pusat dilaporkan berupa peradangan jaringan otak (ensefalitis), sindrom syok toksik, dan sindrom Reye (akibat penggunaan aspirin pada anak). Terdapat hubungan antara anak dari ibu yang influenza waktu hamil dengan terjadinya skizofrenia (gila) anak waktu dewasa –meski jarang-. H1N1 juga membuat kondisi penyakit lain yang sudah ada jadi makin buruk. Komplikasi inilah yang sering membuat penderitanya meninggal.

Bagaimana Mencegah H1N1

Kotak di bawah (Baca: Tips Mencegah Terjadinya H1N1) telah merangkum langkah pencegahan H1N1 dengan mudah. Namun cara yang terbaik sebenarnya dengan mengenali sebaik mungkin tanda-tanda penyakit flu yang ‘lain dari biasanya’. Pada orang dewasa dapat berupa kesulitan bernapas, sakit atau rasa tertekan di dada atau perut, sakit kepala hebat tiba-tiba, kebingungan, muntah hebat, gejala flu membaik, namun berlanjut demam dan batuk yang memburuk. Pada anak-anak berupa napas cepat atau bermasalah ketika bernapas, warna kulit membiru atau abu-abu, tidak mau minum, muntah hebat, tidak bangun atau tidak berinteraksi, sangat rewel hingga tidak mau dipegang, gejala flu membaik namun demam dan batuk memburuk. Jika ditemukan gejala seperti ini, segera konsultasi ke dokter yang kompeten untuk penanganan lebih lanjut.

Berikut beberapa tips ringan namun bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari; anak-anak yang sakit batuk pilek sebaiknya digendong menghadap ke belakang hingga wajahnya berada di atas pundak membelakangi penggendong agar tidak menularkan penyakit ketika batuk atau bersin. Selalu gunakan handuk masing-masing karena Influenza A/H1N1 dapat menyebar melalui tinja yang kadang-kadang tertempel di handuk. Cuci tangan yang baik secara menyeluruh selama 10-15 detik (waktu ini setara dengan menyanyi Happy Birthday To You), kemudian keringkan dengan handuk atau tisu handuk, atau pengering tangan. Jika tidak tersedia air, gunakan tisu basah atau gel beralkohol dan jangan lupa, terus gosok tangan hingga gel atau tisu mengering.

Buang tisu langsung ke tempat sampah dan sebaiknya cuci tangan setelah menggunakan tisu tersebut. Jaga permukaan (di kasur, kamar mandi, dan mainan anak) agar selalu bersih menggunakan tisu basah sesuai instruksi pembuat produk. Sprei dan peralatan makan yang telah digunakan orang sakit tidak perlu dicuci terpisah, namun jangan digunakan bersama dengan yang sehat. Cucilah sprei dan handuk bekas orang yang sakit dan hindari ‘memeluk’ cucian ketika mengangkat sebelum dicuci. Selalu bersihkan tangan Anda dengan sabun dan air atau alkohol setelah memegang cucian yang kotor. Dengan pola hidup yang bersih dan sehat, insya Allah kita bisa terhindar dari Influenza A/H1N1.

Tips Mencegah Terjadinya Influenza H1N1

  1. 1. Cuci tangan sesering mungkin menggunakan air dan sabun. Jika tidak tersedia, dapat digunakan gel atau tisu basah yang mengandung alkohol.
  2. 2. Hindari menyentuh mata, hidung, atau mulut. Virus influenza sering menyebar ketika seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi dengan kuman kemudian menyentuh mukosa (jaringan lunak dan basah) di mata, hidung, atau mulut.
  3. 3. Hindari kontak langsung dengan orang-orang sakit. Jika terjadi pandemi, hindari berjabat tangan atau mencium orang lain.
  4. 4. Budayakan kebiasaan hidup sehat. Hindari merokok, tidur yang cukup, berolah raga/kegiatan fisik secara teratur, atur stres, minum yang banyak, serta makan makanan bergizi.
  5. 5. Jaga jarak jika Anda sakit, agar tidak menyebar ke orang lain.
  6. 6. Tinggal di rumah jika sakit, 7 hari sejak gejala pertama atau 24 jam setelah gejala menghilang, pilih yang lebih lama. Tinggal di rumah berarti hanya keluar untuk berobat, tidak kepentingan lain, dan menjauhi tempat keramaian.
  7. 7. Lindungi mulut dan hidung dengan tisu ketika batuk atau bersin dan segera buang tisu tersebut. Jika tidak punya tisu, gunakan kerah baju (bukan telapak tangan). Masker bedah harus dipakai untuk mencegah penularan ke yang lain.
  8. 8. Berobat ke dokter jika sakit, terutama jika mengalami kesulitan bernapas, meracau, bingung, atau muntah hebat.
  9. 9. Hindari bepergian (travel) ketika sakit, terutama menggunakan pesawat udara. Jika Anda travel dari daerah yang mengalami wabah influenza, saat pulang Anda harus konsultasi ke dokter.
  10. 10. Perhatikan himbauan dari petugas kesehatan setempat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: