Skip navigation


Seborrheic Dermatitis
Seorang laki-laki berusia 35 tahun melaporkan rasa gatal, kemerahan dan luka pada kulit kepala, bulu mata, dan kanalis auditorius eksternal. Dia telah mencoba untuk menghentikannya dnegan menggunakan shampoo anti ketombe, dengan hanya penyembuhan sementara, dan dia semakin malu dnegan masalah ini. Pemeriksaan fisik menunjukkan kulit kepala yang berminyak dan mengelupas dan eritema dengan pengelupasan berwarna kuning pada nasolabial. Bagaimana kasus ini bisa diatasi?
Seborrhoic dermatitis merupakan kondisi kulit inflamasi,kronik dan berulang dengan predileksi di area yang kaua dnegan kelenjar sebaceous. Gangguan ini dikarakteristiki dengan pengelupasan dan pola eritema yang sulit dilihat, dengan variasi yang besar dalam perluasan dan karakteristik morfologi tergantung di area kulit mana yang terlibat. Pada keadaan akut, minyak melindungi permukaan yang lembab. Kulit kepala hamper terpengaruh; tempat lain yang sering (dalam fruekuensinya) adalah di wajah, dada dan area yang terlihat. Blepharokonjungtivitis dapat timbul dalam isolasi atau hal ini dapat dikaitkan dengan lesi kulit. Jarangkali, lesi yang termarginasi timbul pada genitalia eksernal laki-laki. Rasa gatal sedang dan biasanya terbatas pada kulit kepala dan meatus auditorius kanalis. Gangguan ini secara social amat memalukan, terutama dikarenakan pengelupasan kulit kepala, dimana menyebabkan kesusahan karena tidak bersihnya kulit kepala.
Seborrhoic dermatitis dipertimbangkan sebagai salah satu dari gangguan kulit tersering meskipun jumlah prevalensinya terbatas dengan kurangnya criteria validasi untuk diagnosis atau klasifikasi tingkat keparahan. Bentuk yang infantile, terutama lebih sering. Hal ini mempengaruhi sebaganyak 70% bayi baru lahir selama 2 bulan pertama kehidupan tetapi biasanya hilang pada usia 1 tahun. Survey pemeriksaan nutrisi dan kesehatan nasional tahun 1971-1974, dimana melibatkan sample usia 1 hingga 74 tahun pada populasi di United States, menunjukkan bahwa prevalensi dari seboorheic dermatitis, sebagaimana dinilai oleh dermatologist, keseluruhannya adalah 11,6% dan 2,8% (2,6% untuk pria dan 3,09% untuk wanita) diantara orang dengan kasus yang dipertimbangkan oleh pemeriksa menjadi signifikan secara klinis (dianjurkan untuk mengunjungi dokter). Pada sampel ini, prevalensi seborrhoeic dermatitis secara klinis signifikan merupakan ternedah diantara mereka usia lebih muda dari 12 tahun (<1%) dan merupakan tertinggi untuk mereka usia 35-44 tahun (4,1%).
Seborheic dermatitis, lebih sering dan lebih berat pada orang yang terinfeksi dengan HIV, terutama pada mereka yang CD4 nya dibawah 400/mm, dibandingkan dengan orang yang tidak terinfeksi, dan dapat kembali sempurna dengan terapi anti retroviral aktif yang tinggi. Kondisi kulit adalah jarang pada orang hitam afrika; ketika hal ini timbul dalam populasi ini, hal ini meningkatkan kewaspadaan untuk adanya infeksi HIV. Seboroic dermatitis telah dilaporkan untuk berkaitan dengan beberapa kondisi, termasuk neuroleptik yang disebabkan Parkinson, amyloidosis familial dengan polineuropathy, dan trisomi 21, tetapi keterkaitan ini masih sedikit didokumentasikan.
Table 1. Variasi Klinis terpilih dari Seborrheic Dermatitis.*
Variant

Varian Dewasa

Pityriasis capitis (dandruff)

Blepharitis

Pityriasiform seborrheic dermatitis

Flexural seborrheic dermatitis

Pitirosporum (malassezia) folliculitis

Erythroderma (exfoliative dermatitis)

Infantile variants
Scalp seborrheic dermatitis (cradle cap)

Leiner’s disease

Pityriasis amiantacea

HIV-related seborrheic dermatitis

Drug-related seborrheic-like dermatitis Penampakkan dan Komentar

Seborrheic dermatitis ringan kulit kepala dengan pengelupasan merupakan penampakkan yang paling prominent, ketombe, dimana tidak sepsifik untuk seborrheic dermatitis, merupakan penggunaan dasar untuk kondisi pengelupasan yang memproduksi pengelupasan yang jelas.

Pengelupasan dan eritema dari batas mata, dimana dapat dikaitkan dengan konjungtivitis, dermatitis seboroic merupakan penyebab yang tersering.

Bentuk jarang yang melibatkan siku dan tungkai, dengan erupsi eritema squamous yang umum.

Melibatkan setiap tubuh, terutama di area retroauricular, genitalia, dan dada, dengan intertriginous, terkadang lesi oozing.

Pruritus, papul folikular erythematous, terkadang pustule, seringkali di tempat yang kaya kelenjar sebaceous; dapat timbul sebagai komplikasi dari dermatitis seborroic, seringkali diamati pada host yang immunocompromised.

Kemerahan yang umum dan pengelupasan kulit dengan manifestasi sistemik; merupakan komplikasi yang jarang dari seborroic dermatitis diakibatkan terapi yang tidak cocok dari kondisi bentuk terlokalisir yang lebih dengan penggunaan irritant kontak; menyebabkan kegagalan kulit seperti takikardia dan ganggguan pada termoregulasi merupakan penampakkan yang sering.

Plak kuning kemerahan yang ditutupi rambut kulit kepala bayi; timbul setelah beberapa minggu usianya.

Entitas yang sulit dijelaskan yang merupakan bagian dari sindrom defisiensi imun primer yang tidak berkaitan dengan seborrhoic dermatitis.

Tipis, seperti asbestos yang menempel pada rambut kepala; dapat dikaitkan dengan psoriasis, dermatitis atopic atau tinea capitis.

Seringkali eksplosif, difus, dan inflamasi dibandingkan dengan orang sehat lainnya.

Sering pada pasien yang ditangani dengan erlotinib atau sorafenib; juga dilaporkan pada pasien yang di terapi dengan rekombinan interleukin-2, psoralen ditambah cahaya ultraviolet, dan isotretinoin; lebih efektif di terapi dengan terapi yang sama yang digunakan untuk seboroik dermatitis spontan.

Seboroic dermatitis juga telah dilaporkan dapat dipicu dengan stress, tetapi tidak ada data terkontrol yang tersedia. Pasien dengan dermatitis seboroic seringkali melaporkan ketelibatan lebih jauh setelah paparan cahaya matahari. Bagaimanapun, peningkatan prevalensi dari seboroic dermatitis telah dilaporkan diantara pemandu gunung yang mempunyai tingkat tinggi jangka panjang paparan pekerjaan terhadap radiasi sinar ultraviolet. Seberoic seperti dermatitis di wajah juga dapat timbul pada pasien yang ditangani untuk psoriasis dengan psoralen ditambah cahaya ultraviolet; tipe dermatitis ini dapat dicegah dengan memakai masker wajah selama radiasi.
Penyebab atau sebab dermatitis seboroic tidak sepenuhnya dimengerti. Disamping namanya, dermatitis seboroic tidak secara sering dikaitkan dengan sekresi yang berlebihan dari sebum, maupun kelenjar sebaceous yang primernya terlibat. Bagaimanapun, kelenjar sebaceous yang berfungsi dapat menjadi factor yang permissive karena dermatitis seboroic timbul lebih sering selama periode aktif dari produksi sebum (periode neonatal) dan diarea kulit dimana sebum di produksi. Predisposisi genetic belum jelas.
Jamur dari genus malassezia (sebelumnya dikenal dengan Pitirosporum ovale), dimana merupakan dependen lipid, menyebar di kulit, telah dipertimbangkan secara potensial pathogen, ketika mereka timbul dalam kulit yang terkena, dan agen anti jamur berguna untuk terapinya. Bagaimanapun, tidak adanya korelasi antara jumlah organism malassezia dan keadaan dan keparahan manifestasi klinis adalah membingungkan.proses inflamasi mungkin berperan, pada orang yang rentan, oleh metabolit jamur—dinamakan asam lemak—dilepaskan dari trigliserida sebaceous. Lapisan lemak dari malassezia dapat juga memodulasi produksi sitokin proinflamasi oleh keratinosit.
Strategi dan Bukti

Diagnosis dari seboroic dermatitis termasuk psoriasis, atopic dermatitis, dan pada anak, tinea capitis. Membedakan seboroic dermatitis dari psoriasis wajah awal dapat menjadi sangat sulit. Pemeriksaan mikroskopik langsung pada specimen dari kulit superficial disiapkan dengan potassium hidroksida dapat menjadi berguna untuk menyingkirkan tinea kapitis. Biopsi kulit jarangkali diperlukan untuk diagnosis, tetapi hal ini dapat berguna pada kasus dimana untuk menyingkirkan diagnosis lain seperti cutaneous lupus erytematosus.
Table 2. Differential Diagnosis of Seborrheic Dermatitis.
Diagnosis

Psoriasis

Tinea capitis

Atopic dermatitis

Contact dermatitis

Rosacea

Erythrasma

Kondisi Jarang

Langerhans’-cell Histiocytosis

Wiskott–Aldrich Syndrome

Lupus erythematosus

Dermatomyositis
Clinical Findings

Pengelupasan kulit kepala sering; kterlibatan fasial dapat menunjukkan dermatitis seborroik; bekas fleura eritematus demarkasi yang baik pada fleura menunjukkan psoriasis.

Infeksi, terutama dikaitkan dengan Trichophyton tonsurans, dapat timbul pada kulit kepala dalam absennya alopesia.

Pada bayi, lesi seringkai diamati pada wajah dan pengelupasan kulit kepala dapat timbu; kulit kepala kering dan rambut kering dapat timbul pada orang dewasa.

Eritema dan pengelupasan dapat timbul dan dapat berkomplikasi seboroik dermatitis sebagai reaksi terhadap agen topical yang digunakan untuk terapi (terutama pada kanal telinga atau area tersembunyi)

Tahap awal dari rosasea eritematelangiektasis adalah kemeahan rekuren yang mempengaruhi area fasial sentral.

Dikarakteristiki oleh pola eritema terbatas baik pada area yang tersembunyi.

Variant difus akut, penyakit Letterer–Siwe disease, dapat timbul pada anak usia kurang 1 tahun; paul kulit berwarna, sisikm dan crusta pada kulit kepala, area fleksura leher, ailla dan perineum sering.

Dermatitis yang melibatkan wajah, kulit kepala dan area fleksura timbul pada beberapa bulan pertama kehidupan; dermatitis eksofoliatif dapat timbul sewaktu-waktu.

Pada bayi, bentuk dari lupus cutaneous sub akut terutama mempengaruhi wajah (terutama kulit periorbita) dan kulit kepala dapat timbul; pada dewasa ruam kupu-kupu dari lupus kutaneous akut mempunyai distribusi malar bilateral yang sama dengan dermatitis seboroik.

Eritema ringan dan pengelupasan posterior kulit kepala dapat timbul Diagnostic Clues

Plak tampak untuk menjadi lebih tipis, dengan warna putih silver, dan lebih tersembunyi dan kurang pruritic dibandingkan dengan seboroik dermatitis; terutama melibatkan kuku, permukaan plantar, kuku, ekstensor, palmar dan area sacral; arthritis tampak pada sekitar 10% kasus; tidak biasa pada anak-anak.

Kebanyakan diamati pada anak di Negara berkembang; dapat timbul dengan kontak orang lain dengan kondisi ini; penemuan dengan pemeriksaan mikroskopik langsung dan kultur merupakan diagnostic.

Onset kemudian dibandingkan dermatitis seboroik, biasanya timbul setelahtiga bulan kehidupan; prurotus, iritabilitas, dan tidak bisa tidur merupakan hal yang paling sering, keterlibatan ekstensor dan fasial sering pada bayi, dimana lokalisasi di fleksura meningkat prevalensinya sesuai dengan usia, xerosis sering, dan seringkali ada riwayat personal atau keluarga dan dari atopic (astma atau rhinitis alergika)

Bentuk Polymorphous, termasuk erythema, edema, vesiculation, dan erosi pada fase akut dan eritema, likenifikasi, dan hyperkeratosis pada tahap kronis; test temple dapat berguna untuk mendukung diagnosis; dermatitis diaper irritant dilakukan untuk mendapatkan daerah yang kering dan sebaliknya terhadap seboroik dermatitis, tampak untuk membagi lapisan kulit

Deskuamasi atipikal, telangiektasis dan edema rekurent dapat dikaitkan, dapat timbul dengan seboroik dermatitis.

Caused by the saprophyte Corynebacterium minutissimum; lesions are stable and asymptomatic; with time, they are associated with fine wrinkling and the color fades from red to brown; bright coral-red fluorescence on illumination with a Wood’s lamp

Kondisi multisystem, penampakan termasuk lesi tilang osteolitik dan diabetes insipidus; disamping papul, keterlibatan kutan dikarakteristiki dengan pustule, vesikel, atau keduanya; lesinya tampak rapuh, petechie dan purpura sering, keterlibatan palmoplantar dan kuku dapat timbul.

Gangguan X-linked recessive, timbul kebanyakan pada anak laki-laki; trias dari dermatitis seperti atopi, tendensi perdarahan dikarenakan trombositopenia dan infeksi sinopulmonary rekurent seringkali diamati.

Biasanya plak eritematous annular pada kasus lupus kutaneous subakut; fotosensitivitas sering; dikaitkan dengan kondisi blok jantung congenital dengan atau tanpa kardiomiopati, penyakit hepatobilier, dan trombositopenia anti-Ro antibodies tampak pada anak dan biasanya ibunya; ruam kupu-kupu jarang mempengaruhi lipatan nasolabial dan seringkali fotodistribusi yang jelas; lesi kutaneous biasanya berdampingan dengan penampakan klinis lupus eitematous sistemik.

Poikiloderma dengan pruritus yang intens dan menunjukkan kehilangan rambut; tanda lainnya kutaneous (plaq yang termarginasi dengan baik pada siku dan lutut serta perubahan bentuk kuku) tampak, biasanya tanda secara klinis dan labolatorium merupakan tanda dari miopati inflamasi ekstensor proksimal.

Management

Agen topical digunakan pada kebanyakan kasus dari seboroic dermatitis. Ujicoba acak menyediakan bantuan untuk beberapa penggunaan agen ini, tidak kesemuanya tersedia di United States.
Agen Antifungal Topikal

Agen antifungal topical merupakan terapi utama untuk pengobatan seboroic dermatitis. Agen yang telah seluruhnya dipelajari termasuk ketokonazole, bifonazole, dan ciclopiroamine (juga dinamakan ciclopirox), dimana tersedia dalam formulasi yang berbeda seperti krim, gel, sabun, dan shampoo. Setidaknya ada sedikitnya 10 percobaan dari ketokonazole, beberapa terbatas pada terapi kulit kepala dan lainnya ditujukan untuk area multiple dari tubuh. Pada uji coba ganda yang besar, dimana melibatkan 1162 orang dengan seboroic dermatitis ringan hingga berat mempengaruhi wilayah yang multiple dari tubuh, terapi dianggap berhasil (pada dasar skor penilaian global) pada 4 minggu pada 56% pasien yang menerima busa ketokonazole sehari dua kali, dibandingkan dengan 42% yang menerima busa placebo (P<0,001). Hasil yang sama didapatkan dalam studi yang membandingkan obat dengan placebo dalam formulasi krim. Pada sebuah ujicoba yang membandingkan 2% ketokonazole pada formulasi gel, digunakan sehari sekali, dengan 459 subjek dengan penyakit sedang hingga berat di beberapa area tubuh yang berbeda, 25% kulit dari subjek diberikan terapi aktif dan 14% diberikan placebo yang dipertimbangkan hamper habis pada hari ke 28.
Penggunaan intermitten ketokonazole dapat menjaga remisi. Pada sebuah studi, 312 pasien dengan lesi kulit kepaladimana dermatitis pada awalnya dibersihkan dengan dua kali seminggu dengan shampoo yang mengandung 2% ketokonazole digunakan seteresnya pada 6 bulan ujicoba profilaksis palsebo yang terkontrol; angka kambuh adalah sebesar 47% diantara pasien yang menggunakan placebo, 31% diantara pasien mengggunakan shampoo ketokonazole sekali setiap minggu lainnya, dan 19% pasien menggunakan terapi aktif sekali seminggu.
Bifonazole juga menunjukkan untuk menjadi terapi yang efektif untuk seborrhoic dermatitis. Pada ujicoba acak terkontrol melibatkan 100 pasien, kulit 43% pasien yang menggunakan 1% bifonazole kriem sekali sehari, dibandingkan dengan 23% mereka yang menggunakan placebo. Menunjukkan hampir bersih pada 4 minggu sesuai skala peningkatan global. Shampoo bifonazole yang digunakan tiga kali dalam seminggu juga telah menunjukkan hasil secara signifikan lebih besar penyembuhan dibandingkan dengan placebo.
Pada ujicoba acak membandingkan shampoo ciclopriroxolamine, digunakan sekali atau dua kali seminggu, dengan placebo pada 949 pasien dengan lesi di kulit kepala, angka pembersihan lewat dari periode 4 minggu adalah 45% dan 58% dengan sekali seminggu dan terapi dua kali seminggu, secara respektif, dibandingkan dengan 32% placebo (P<0,001 untuk kedua perbandingan dengan placebo). Diantara 482 pasien dengan respon dimana yang secara random diberikan ciclopiroxolamine sebagai profilaksis setiap 2 minggu, atau place untuk 4 bulan, angka kekambuhan adalah 15%, 22%, dan 35%, secara respektif.
Data terbatas tersedia sebagai perbandingan agen antifungal tunggal. Pada ujicoba non inferior yang melibatkan 303 pasien dengan dermatitis seboroik fasial, penggunaan krim ciclopiroxolamine dua kali sehari selama 28 hari, diikuti dengan sekali sehari untuk 28 hari tambahan, menghasilkan angka yang signifikan remisinya dibandingkan dengan gel busa ketokonazole dua kali seminggu untuk pertama 28 hari dan kemudiansekali seminggu (57% vs 44% pada 56 hari analisis terapi yang intensif, P =0,03). Bagaimanapun, hasil ini sulit untuk diinterprestasikan dikarenakan fruekuensi yang lebih rendah dari pemakaian untuk ketokonazole dibandingkan denan ciclopiroxolamine. Toleransi local untuk kesemuanya adalah lebih baik dengan ciclopiroxolamine dibandingkan dengan ketokonazole. Tidak ada efek samping yang telah dilaporkan dengan agen anti jamur topical, meskipun sensitivitas kontak telah dilaporkan dengan penggunaan jangka panjang pada kasus yang jarang.
Kortikosteroid Topikal

Beberapa uji coba random telah secara langsing dibandingkan jangka pendek kortikosteroid topical—termasuk, untuk meningkatkan potensi, hidrokortisone, betamethasone dipropionate, clobetasol 17-butyrate, dan clobetasol dipropionate- dengan agen anti jamur topical. Ujicoba ini menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan atau perbedaan kecil untuk agen antifungal, tetapi mereka menjadi tidak lebih kuat, dengan ujicoba terbesar yang melibatkan hanya 72 orang. Satu ujicoba acak placebo terkontrol menunjukkan bahwa 0,05% lotion desonide lebih superior pada 81 pasien dengan lesi fascial dikaitkan dengan baik atopic atau seborrhoic dermatitis, tetapi angka respon diatnara pasien seboroic dermatitis tidak dilaporkan terpisah. Ada sebuah konsesnsus bahwa kortikosteroid topical berguna pada jangka pendek terutama unutk mengontrol eitema dan gatal. Data tidak tersedia untuk pertanyaan apakah kombinasi kortikosteroid dan agent antifungal topical menunjukkan keuntungan yang besar dibandingkan dengan terapi agen tunggal. Atrofi kulit dan hipertrichosis merupakan perhatian dengan penggunaan kortikosteroid jangka panjang
Persiapan selfida selenium

Pada ujicoba random yang melibatkan 246 pasien dengan ketombe sedang-berat, 2,5% shampoo selenium sulfide, 2% ketokonazole, dan placebo dibandingkan. Kesemua shampoo digunakan dua kali seminggu. Pengurangan pada skor ketombe pada minggu ke empat 67% dengan selenium sulfide. 73% dengan ketokonazole, dan 44% dengan placebo; pengurangan secara signifkan lebih besar dengan kedua shampoo dibandingkan dengan placebo. Gatal dan sensasi rasa terbakar lebih sering dengan shampoo sulfide dibandingkan dengan ketokonazole. Data ujicoba untuk penggunaan selenium sulfide pada area lain dibandingkan kulit kepala terbatas.
Garam Lithium Topical

Succinate lithium topical dan lithium glukonat merupakan agen alternative yang efektif pada area laindibandingkan dengan kulit kepala. Mekanisme aksinya kurang dimengerti. Dalam ujisilang, ujicoba placebo terkontrol dari lithium succinate yang melibatkan 4 minggu terapi dipisah 2 minggu untuk wash out, dua kali sehari minyak lithium dikaitkan secara signifikan dengan penurunan yang besar dalam eritema, pengelupasan, dan persentasi dari area kulit yang terlibat. Di uji kecil, ujicoba terkontrol untuk 12 pasien, lithium succinate secara signifikan lebih efektif dibandingkan dengan placebo untuk terapi lesi pasien dengan postif HIV. Dua kali sehari lithium glukonat menunjukkan untuk menjadi lebih efektif dibandingkan dengan placebo pada 8 minggu uji coba melibatkan 129 pasien dengan lesi fasial, dan menunjukkan untuk mejadi lebih superior terhadap 2% ketokonazole pada 8 minggu uji coba non inferior melibatkan 288 paisen dengan lesi fasial, pada studi kemudian, remisi komplit adalah 52% dengan penggunaan lithium glukonat dan 30% dengan penggunaan ketokonazole diaplikasikan dua kali seminggu. Iritasi kulit pada kebanyakan efek samping dikaitkan dengan salt lithium topical.
Inhibitor calciunerin Topical

Calcineurin inhibitor mencegah aktivasi T-cell dengan menurunkan regulasi aktivitas tipe 1 dan 2 sel T helper. Pada ujicoba acak terkontrol melibatkan 96 pasien dengan dermatitis seborrhoic fasial sedang hingga berat, perubahan rata-rata dari dasar hingga 4 minggu pada skor total target dengan dua kali sehari 1% pimecrolimus secara signifikan lebih besar dibandingkan dengan placebo pada per protocol analisis tetapi tidak untuk tujuan analisis terapi. Dua uji coba kecil acak tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara pimecrolimus dan kortikosteroid topical, tetapi uji coba ini mempunyai kekuatan statistic yang terbatas.
Terapi topical lain

Data terbatas tersedia untuk memberikan dukungan untuk penggunaan topical zinc pyrithione. Pada satu ujicoba, 1% zinc pyrithone lebih kurang efektif dibandingkan dengan 2% ketokonazole (keduaya digunakan dua kali seminggu) dalam mengurangi keparahan ketombe pada 4 minggu (67% peningkatan dalam skor keparahan vs 73% peningkatan, P<0,02). Data terbatas juga tersedia untuk gel metrondazole, dengan ujicoba besar gagal untuk menunjukkan perbedaan signifikan pada hasil akhir yang dibandingkan dengan placebo. Coal tar shampoo terkadang diajukan pada seborrhoic dermatitis, meskipun data yang mendukung penggunaannya terbatas. Pada satu ujicoba acak terkontrol, 4% shampoo coal tar, dibandingkan dengan placebo, menghasilkan pengurangan yang besar pada ketombe.
Angka respon yang tinggi telah dilaporkan pada banyak ujicoba dengan penggunaan palsebo sendiri. Bagaimanapun, hal ini tetap tidak meyakinkan baik angka ini dikarenakan respon placebo atau terhadapefek emollient placebo.
Phototerapi

Fototerapi B ultraviolet terkadang dipertimbangkan sebagai sebuah pilihan untuk perluasan seborhoic dermatitis, tetapi hal ini belum dipelajari pada uji coba terkontrol. Rasa terbakar dan gatal dapat timbul, dan dengan penggunaan terapi jangka panjang, efek karsinogenik pada kulit merupakan perhatian.
Terapi antifungal sistemik

Data pada efikasi agen antifungal sistemik untuk sebooic dermatitis terbatas. Pada ujicoba acak yang melibatkan 63 pasien dengan seborrhoic dermatitis sedang hingga berat, dosis perminggu tunggal 300mg fluconazole tidak lebih baik dibandingkan dengan placebo setelah dua minggu. Ppada uji acak, uji placebo acak terkontrol melibatkan 174 pasien oral terbinafine (pada dosis 250mg perhari sehari selama 4 minggu) tidak lebih baik dibandingkan dengan placebo pada pasien dengan lesi yang predominan melibatkan area yang terekspose kulit, seperti wajah, dimana perbedaan didapatkan pada pasien yang tidak terpapar, seperti kulit kepala, sternum, dan area interscapular; bagaimanapun, kesimpulan berdasarkan analisis sub kelompok masih merupakan problematic. Profil keamanan agen antifungal sistemik harus secara hati dipertimbangkan dalam rencana pengobatan untuk kondisi kronik seperti dermatitis seborrhoic.
Area yang masih tidak meyakinkan

Untuk meningkatkan kualitas bukti untuk terapi panduan seboroic dermatitis, criteria tervalidasi untuk diagnosis dan keparahan, secara klinis relevan pengukuran hasil akhir diperlukan. Kebanyakan uji coba terapi adalah jangka pendek dan terkontrol, dalam kasus agen topical, atau placebo terkontrol. Ada kebutuhan untuk mempelajari jangka panjang membandingkan strategi manajemen yang berbeda, termasuk terapi non farmakologik, seperti fototerapi dan intervensi sederhana untuk memindahkan pengelupasan, seperrti agent keratolitik. Ada beberapa data untuk membimbing pengobatan untuk bayi dengan penyakit ini. Hal yang sama juga untuk terapi pasien dengan HIV terkait seboroic dermatitis dan pasien yang tidak berespon terhadap terapi topical konvensional amatlah masih terbatas.
Guidelines

Kedokteran berbasis guidelines, dikembangkan The Finnish Medical Society Duodecim dan direvisi pada bulan April 2007, tersedia melalui National Guideline Clearinghouse (www.guideline.gov). Kedokteran berbasis petunjuk juga tersedia di Clinical Knowledge Summaries of the U.K. National Health System (cks.library.nhs.uk).
Recommendations

Pasien sebaiknya diedukasi tentang masa relaps kronik dari seboroic dermatitis dan sebaiknya mengerti bahwa terapi dapat tidak menghasilkan pembersihan kulit yang sempurna. Untuk pasien seperti yang disebutkan pada kasus, saya merekomendasikan terapi lesi kulit kepala dengan shampoo yang mengandung ketokonazole 2% dua kali seminggu selama 1 bulan, dengan tujuan mencapai remisi, diikuti dengan prenggunaan shampoo ini setiap minggu atau setiap minggu lainnya. Hal yang sama, lesi wajah harus dikontrol dengan penggunaan krim yang mengandung 2% ketokonazole dua kali sehari selama 4 minggu, kemudian dua kali seminggu atau kurang , tergantung pada respon pasien. Alternative yang beralsan meliputi shampoo yang mengandung selenium sulfide atau ciclopiroolamine untuk lesi kulit kepala, dan sabun atau gel ketokonazole, ciclopiroxolamine krim atau minyak yang mengandung garam lithium untuk lesi wajah, Pembuatan keputusan dimasukkan kedalam preferensi formulir pemberian terapi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: