Skip navigation


Pendahuluan

Tidur adalah suatu proses fundamental yang dibutuhkan oleh manusia. Manusia dewasa memerlukan tidur rata-rata 6-8 jam/hari. Gangguan tidur lebih sering ditemukan pada pria, mulai dari sleep walking, sleep paralysis, insomnia, narkolepsi, sampai sleep apnea. Bentuk gangguan tidur yang paling sering ditemukan adalah sleep apnea (henti nafas pada waktu tidur), dan gejala yang paling sering timbul pada sleep apnea adalah mendengkur.1

Mendengkur (snoring) adalah suara bising yang disebabkan oleh aliran udara melalui sumbatan parsial saluran nafas pada bagian belakang hidung dan mulut yang terjadi saat tidur. Sumbatan terjadi akibat kegagalan otot-otot dilator saluran nafas atas melakukan stabilisasi jalan nafas pada saat tidur. Gangguan tidur dengan gelaja utamanya mendengkur adalah Obstructive Sleep Apnoea (OSA).2

Semua orang dapat mendengkur pada waktu-waktu tertentu, tetapi biasanya hilang dengan sendirinya. Pada pasien OSA, kondisi ini tidak dapat dikoreksi tanpa terbangun. OSA ditandai dengan kolaps berulang dari saluran nafas atas, baik komplet atau parsial selama tidur. Akibatnya aliran udara berkurang atau berhenti sehingga terjadi desaturasi oksigen dan penderita berkali-kali terbangun (arousal). Arousal dan desaturasi oksigen mengakibatkan penderita OSA sering mengalami kantuk yang berlebihan pada siang hari, kelelahan, iritabilitas, gangguan perhatian, dan konsentrasi.3

Mendengkur merupakan masalah sosial dan masalah kesehatan. Mendengkur merupakan masalah yang mengganggu pasangan tidur, menyebabkan terganggunya pergaulan, menurunnya produktivitas, peningkatan risiko kecelakaan lalu lintas4 dan peningkatan biaya kesehatan pada penderita OSA.5 Pendengkur berat lebih mudah menderita hipertensi, stroke dan penyakit jantung dibandingkan orang yang tidak mendengkur dengan umur dan berat badan yang sama.4,6

Fisiologi Tidur

Pengetahuan tentang fisiologi tidur diperlukan untuk dapat mengerti tentang sleep apnea dan mengevaluasi hasil terapi. Tidur normal dapat dibagi dalam 2 tahap:
1. Non Rapid Eye Movement (NREM)
2. Rapid Eye Movement (REM).7

Kedua status ini berbeda berdasarkan kumpulan parameter fisiologis. NREM ditandai oleh denyut jantung dan frekuensi pernafasan yang stabil dan lambat serta tekanan darah yang rendah. NREM adalah tahap tidur yang tenang. REM ditandai dengan gerakan mata yang cepat dan tiba-tiba, peningkatan aktivitas saraf otonom dan mimpi. Pada tidur REM terdapat fluktuasi luas dari tekanan darah, denyut nadi dan frekuensi nafas. Keadaan ini disertai dengan penurunan tonus otot dan peningkatan aktivitas otot involunter. REM disebut juga aktivitas otak yang tinggi dalam tubuh yang
lumpuh atau tidur paradoks.8

Pola tidur pada dewasa muda adalah konstan. Tidur dimulai pada NREM tingkat I, suatu tahap pendek yang hanya berlangsung beberapa menit. Ambang bangun pada tahap ini sangat rendah. Kemudian timbul tingkat II dengan tidur yang lebih dalam dari tingkat I. Tidur NREM tingkat I dan II adalah tidur yang dangkal (gelombang theta), tingkat III dan IV adalah tingkat yang lebih dalam atau tidur gelombang lambat (gelombang delta). Tingkat III diawali aktivitas voltase rendah gelombang lambat pada EEG. Tahap ini hanya berlangsung beberapa menit, kemudian masuk ke tingkat IV NREM yang berlangsung 20-40 menit. Tidur REM tidak berdiri sendiri, selalu disuperimposisikan pada tidur gelombang lambat.

Pada tidur yang normal, masa tidur REM berlangsung 5-20 menit, rata-rata timbul setiap 90 menit dengan periode pertama terjadi 80-100 menit setelah seseorang tertidur. Tidur REM menghasilkan pola EEG yang menyerupai tidur NREM tingkat I dengan gelombang beta, disertai mimpi aktif, tonus otot sangat rendah, frekuensi jantung dan nafas tidak teratur (ciri dalam keadaan mimpi), terjadi gerakan otot yang tidak teratur (pada mata menyebabkan gerakan bola mata yang cepat atau ‘rapid eye movement’), dan lebih sulit dibangunkan daripada tidur gelombang lambat.

Tidur NREM secara umum meliputi 80% dari seluruh waktu tidur, sedangkan tidur REM lebih kurang 20%. Menurut Hobson dan Mc. Carley tidur NREM dan REM merupakan siklus yang berlangsung selama periode tidur. Tidur NREM disebabkan menurunnya aktivitas neuron monoaminergik (noradrenergic dan serotonergik) yang aktif pada waktu bangun dan menekan aktivitas neuron kolinergik. Tidur REM disebabkan inaktivitas neuron monoaminergik sehingga memicu aktivitas neuron kolinergik (neuron retikuler pons).9
Patofisiologi Mendengkur dan Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Faring adalah struktur yang sangat lentur. Pada saat inspirasi, otot-otot dilator faring berkontraksi 50 mili-detik sebelum kontraksi otot pernafasan sehingga lumen faring tidak kolaps akibat tekanan intrafaring yang negative oleh karena kontraksi otot dinding dada dan diafragma. Pada waktu tidur aktivitas otot dilator faring relatif tertekan (relaksasi) sehingga ada kecenderungan lumen faring menyempit pada saat inspirasi. Mengapa hal ini terjadi hanya pada sebagian orang, terutama berhubungan dengan ukuran faring dan faktor-faktor yang mengurangi dimensi statik lumen sehingga menjadi lebih sempit atau menutup pada waktu tidur. Faktor yang paling berperan adalah:
• obesitas
• pembesaran tonsil
• posisi relatif rahang atas dan bawah.10-12

Suara mendengkur timbul akibat turbulensi aliran udara pada saluran nafas atas akibat sumbatan. Tempat terjadinya sumbatan biasanya di basis lidah atau palatum. Sumbatan terjadi akibat kegagalan otot-otot dilator saluran nafas atas menstabilkan jalan nafas pada waktu tidur di mana otot-otot faring berelaksasi, lidah dan palatum jatuh ke belakang sehingga terjadi obstruksi.2,12

Trauma pada jaringan di saluran nafas atas pada waktu mendengkur mengakibatkan kerusakan pada serat-serat otot dan serabut-serabut saraf perifer. Akibatnya kemampuan otot untuk menstabilkan saluran nafas terganggu dan meningkatkan kecenderungan saluran nafas untuk mengalami obstruksi. Obstruksi yang diperberat oleh edema karena vibrasi yang terjadi pada waktu mendengkur dapat berperan pada progresivitas mendengkur menjadi sleep apnea pada individu tertentu.2

Obstructive Sleep Apnoea (OSA) ditandai dengan kolaps berulang dari saluran nafas atas baik komplet atau parsial selama tidur. Akibatnya aliran udara pernafasan berkurang (hipopnea) atau terhenti (apnea) sehingga terjadi desaturasi oksigen (hipoksemia) dan penderita berkali-kali terjaga (arousal). Kadang-kadang penderita benar-benar terbangun pada saat apnea di mana mereka merasa tercekik. Lebih sering penderita tidak sampai terbangun tetapi terjadi partial arousal yang berulang, berakibat pada
berkurangnya tidur dalam atau tidur gelombang lambat. Keadaan ini menyebabkan penderita mengantuk pada siang hari, kurang perhatian, konsentrasi dan ingatan terganggu. Kombinasi hipoksemia dan partial arousal yang disertai dengan peningkatan aktivitas adrenergik menyebabkan takikardi dan hipertensi sistemik. Banyak penderita OSA tidak merasa mempunyai masalah dengan tidurnya dan datang ke dokter hanya karena teman tidur mengeluhkan suara mendengkur yang keras (fase preobstruktif) diselingi oleh keadaan senyap yang lamanya bervariasi (fase apnea obstruktif).3,12-14
EPIDEMIOLOGI

OSA pertama kali dipublikasikan pada tahun 1956 oleh Sidney Burwell, lebih dari 50 tahun yang lalu15 dan kepentingan klinisnya saat ini semakin dikenali. Prevalensi OSA di negara-negara maju diperkirakan mencapai 2- 4% pada pria dan 1-2% pada wanita.16-19 Pria lebih sering mengalami OSA dan seringkali (tetapi tidak harus) juga menderita obesitas.12 Prevalensi OSA pada pria 2-3 kali lebih tinggi dari wanita. Belum diketahui mengapa OSA lebih jarang ditemukan pada wanita. Prevalensi OSA lebih rendah lagi pada wanita sebelum masa menopause dan wanita menopause yang mendapat terapi hormonal.20

Prevalensi OSA pada anak-anak sekitar 3% dengan frekuensi tertinggi pada usia 2-5 tahun.21 Penyebab utama OSA pada anak-anak adalah hipertrofi tonsil dan adenoid, tetapi dapat juga akibat kelainan struktur kraniofasial seperti pada sindroma Pierre Robin dan Down.2 Frekuensi OSA mencapai puncaknya pada dekade 5 dan 6, dan menurun pada usia di atas 60-an. Tetapi secara umum frekuensi OSA meningkat secara progresif sesuai dengan penambahan usia.17

Pada penelitian kesehatan kardiovaskular di Amerika Serikat yang meliputi 5000 penduduk berusia 65 tahun atau lebih, 33% pria dan 19% wanita mendengkur. Prevalensi mendengkur menurun pada kelompok usia di atas 75 tahun.22 Linberg et al. mendapatkan hasil yang hampir sama, di mana prevalensi mendengkur pada pria memuncak pada kelompok usia 50-60 tahun dan selanjutnya menurun.23 Sementara peneliti lain menemukan pada usia di atas 60 tahun, prevalensi OSA mencapai 45-62%.24 Di Nantes, Perancis, hampir 60% penduduk yang berusia 60-70 tahun mendengkur.25 Kebanyakan penelitian epidemiologis dan klinis dilakukan pada populasi ras kulit putih di Eropa, Amerika Utara, dan Australia. Beberapa penelitian terakhir yang dilakukan pada ras bukan kulit putih menunjukkan prevalensi OSA yang tinggi di beberapa negara walaupun faktor yang berperan berbeda-beda. Pada orang-orang Cina dan yang berasal dari Timur Jauh, peran Body Mass Index (BMI) relatif kurang penting dan faktor yang lebih relevan untuk timbulnya OSA adalah struktur tulang kraniofasial.26,27 Begitu juga pada pria dari ras Polynesia di Selandia Baru, struktur tulang kraniofasial mempunyai peran utama dan kemungkinan juga berinteraksi dengan obesitas.28 Pada populasi kulit hitam di Amerika Serikat prevalensi OSA sama tingginya dengan pada ras kulit putih.17
GAMBARAN KLINIS

Gejala yang dapat ditemukan pada penderita OSA adalah mendengkur, mengantuk yang berlebihan pada siang hari, rasa tercekik pada waktu tidur, apnea, nokturia, sakit kepala pada pagi hari, penurunan libido sampai impotensi dan enuresis, mudah tersinggung, depresi, kelelahan yang luar biasa dan insomnia. Kebanyakan penderita mengeluhkan kantuk yang sangat mengganggu pada siang hari sehingga menimbulkan masalah pada pergaulan, pekerjaan dan meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas.4,6

Apnea pada orang dewasa didefinisikan sebagai tidak adanya aliran udara di hidung atau mulut selama 10 detik atau lebih. Hipopnea didefinisikan sebagai berkurangnya aliran udara sebesar 30% selama 10 detik atau lebih, dengan atau tanpa desaturasi.29 Gastaut et al. menyatakan ada 3 jenis apnea:
1. obstruktif, di mana aliran udara pernafasan terhenti tetapi gerakan dinding dada tetap ada,
2. sentral, di mana aliran udara pernafasan dan gerakan dinding dada terhenti,
3. campuran, merupakan kombinasi yang dimulai dengan tipe sentral diikuti dengan obstruksi.30

Kemudian diketahui apnea tipe campuran pada dasarnya adalah obstruktif di mana gerak pernafasan tidak terdeteksi pada awal terjadinya apnea. Penderita OSA seringkali juga menderita obesitas.12 Kesadaran tentang adanya hubungan antara OSA dan obesitas yang sangat tinggi dapat mengurangi kesadaran akan kemungkinan adanya OSA pada orang yang tidak gemuk (non-obese). Hanya sekitar 50% penderita yang didiagnosis OSA juga menderita obesitas.
DIAGNOSIS

Menurut ICSI (institute for Clinical System Improvement), diagnosis dari OSA dilakukan menurut algoritma berikut :

Penjelasan ALgoritma

1. Pasien datang dengan tanda dan gejala yang mendukung untuk OSA :
Point Kunci :
 Resiko untuk OSA berkaitan dengan obesitas (dimana BMI lebih besar atau sama dengan 30), lingkar leher yang besar, serta hipertensi, Kombinasi dari factor ini meningkatkan resiko OSA.
 OSA timbul lebih sering pada pasien yang telah didiagnosa dengan penyakit serebrovaskular atau penyakit arteri koroner, atau pada pasien yang dating dengan keluhan gangguan tidur.
 Prevalensi dari hipotiroidisme pada wanita dnegan OSA tidak lebih tinggi dibandingkan dnegan populasi umum. Screening seringkali tidak berguna.
2. Tanda dan Gejala yang mendukung OSA
Dalam mengevaluasi tidur sehari-hari, adalah penting untuk menyingkirkan perubahan tidur (misalnya insomnia dan hygiene tidur yang buruk)
* Tanda dan gejala berikut telah ditemukan dengan studi populasi menggunakan analisis regresi logistic untuk mendukung resiko yang signifikan untuk OSA. Makin banyak gejala yang dipunyai oleh pasien, makin berat gejala, dan makin besar probabilitas uji sehingga pasien akan mempunyai OSA sedang dan berat.:
 Bangun karena tersedak
 Hypertensi
 Mendengkur lebih sering
 Lingkar leher yang besar
 Jenis kelamin laki-laki atau wanita post menopause
 Obesitas
 Apnea atau tersedak yang dilaporkan oleh teman tidur
 Hipertensi resisten dan atau atrial fibrilasi
 Rasa kantuk disiang hari* terutama dengan gangguan saat menyetir
* rasa kantuk dapat diukur dengan menggunakan Epworth Sleepiness Scale. Tingginya skor berkaitan dengan tingkat rasa kantuk; bagaimanapun, skor yang rendah tidak menyingkirkan adanya rasa kantuk disiang hari.
3. Adanya gejala yang tidak khas atau komplikasi yang timbul ?
Point Kunci:
• Pasien harus dirujuk ke spesialis jika mereka mempunyai sleep apnea sentral atau kompleks, neurologis yang berat, penyakit kardiovaskular atau pulmoner, membutuhkan penjelasan khusus, atau masalah yang mengganggu PAP
Situasi berikut harus dirujuk untuk pasien yang dicurigai sleep apnea ke sleep spesialis atau spesialis yang cocok lainnya, dibandingkan dengan protocol sleep apnea syndrome obstruktif :
• Gagal jantung, baik stabil atau berat (NYHA Class I-IV)
• Sleep apnea sentral atau berat
• Penyakit pulmoner signifikan, termasuk:
– chronic obstructive pulmonary disease (COPD)berat
– hypoxemia
– Hyperkapnia
– Hypertension pulmoner
• Ketidakmampuan untuk mentoleransi uji atau terapi PAP (positive airway pressure)
• Tingkah laku yang berkaitan dengan tidur yang tidak biasa (parasomnias) atau kecurigaan yang kuat untuk gangguan tidur dibandingkan dengan OSA
• Penyakit neurologis tau neuromuscular, termasuk tetapi tidak terbatas untuk:
– Myopathies
– Amyotrophic lateral sclerosis (ALS)
– Degenerative neurologic disorder
• Pengemudi komersil, pilot atau lainnya yang termasuk departemen transportasi, Administrasi penerbangan federal atau department pertahanan harus dipertimbangkan untuk dirujuk ke Center gangguan tidur.
4. Rujuk ke Sleep Spesialis atau Spesialis yang Perlu
Pasien dengan keluhan terkait tidru yang signifikan yang tidak seperti OSA, atau mereka yang mempunyai atipikal atau situasi dengan komplikasi, atau mereka dengan gejala OSA tetapi tidak diuji diagnostic tidur harus dirujuk ke specialist gangguan tidur atau pusat tidur yang terakreditasi, Spesialis lain yang mungkin bias berperan dalam mengevaluasi pasien seperti ini termasuk neurologist, otolaryngologists, psychiatrists atau pulmonologists, tergantung dari gejala dan diagnosis yang dicurigai.

5. Study Tidur
Point Kunci :
 Pemilihan test diagnostic yang diperlukan harus dimasukkan kedalam kemungkinan pretest bahwa pasien mempunyai OSA, ketersediaan test diagnostic yang kredibel, dan ahli dalam menginterprestasi test ini.
 Polysomnography merupakan test standard untuk diagnosis OSA.
 Keuntungan dari menggunakan polysomnography untuk diagnosis adalah kemampuan untuk mengakkan diagnosis dan mendukung dari tekanan terapi CPAP yang efektif.
 Ketidaktersediaan portable monitoring (PM), dalam hubungannya dengan evaluasi tidur yang komphrehensive, merupakan pilihan untuk pasien dengan tingginya probabilitas pretest dari sleep apnea sedang hingga berat yang tidak mempunyai kondisi medis komorbid atau gangguan tidur lainnya.
 Penampilan, interprestasi dan follow up hanya bias divalidasi oleh sleep specialist (individu yang bersertifikasi atau mampu dalam sleep medicine)
6. Diagnosis OSA
Point Kunci :
• Diagnosis definisi OSA dipengaruhi oleh adanya gejala dan tanda dari penyakit ini.
Satu dari abnormalitas patofisiologi yang mendasari primer pada OSA adalah abnormalnya kolaps luminal dari jaringan saluran nafas atas selama tidur. Hasil ini meningkatkan resistensi saluran nafas atas lebih sering bermanifestasi sebagai aliran yang kurang, menyebabkan baik apnea atau hipopnea dan ketidakcocokan ventilasi. Bangun dari tidur seringkali merupakan satu-satunya cara untuk mengembalikan kebutuhan bentilasi. Kejadian berulang ini menghasilkan gangguan pengembalian kualitas yang terganggu. Gejala dan factor resiko yang terkait telah di tinjau dalam penjelasan 1 dan 2. Uji konvensional untuk OSA (seperti didiskusikan pada penjelasan 5) difokuskan pada deteksi aliran udara selama tidur, yang disebut baik apnea atau hipopnea. Definisi dari apnea dan hipopnea dan korelasinya dengan morbiditas dan mortalitas telah medapatkan pertimbangan perhatian dan baru-baru ini telah diringkaskan dengan sangat baik. Sebagaimana didefinisikan oleh American Academy of Sleep Medicine:
• Apnea adalah penurunan puncak thermal sensor aliran udara 90% atau lebih besar dari 10 detik atau lebih lama
• Hipopnea merupakan penurunan pada tekanan aliran udara nasal sensor 30% atau lebih besar dari 10 detik atau lebih lama dengan 4% atau lebih desaturasi O2
Atau
50% atau lebih penurunan tekanan nasal selama 10 detik atau lebih dengan baik 2% atau lebih desaturasi )2 pada saat (CMS Decision Memo for CPAP Therapy for OSA, 2008 [R])
Ada beberapa definsisi OSA oleh berbagai institusi, tetapi untuk tujuan praktis, kebanyakan menggunakan apa yang Centers for Medicare and Medicaid Services (CMS) pertimbangkan sebagai test positif untuk CPAP:
Test positif OSA ditegakkan jika baik dari criteria berikut ini dengan menggunakan apnea-hypopnea index (AHI) atau respiratory disturbance index (RDI) ditemukan:
 AHI atau RDI lebih besar dibandingkan atau sama dengan 15 kejadian per jam, atau
 AHI atau RDI lebih besar dibandingkan atau sama dengan 5 dan kurang dari atau sama dengan 14 kejadian perjam dengan gejala rasa kantuk yang berlebihan terdokumentasi, gangguan kognisi, gangguan mood, atau hipertensi, penyakit jantung iskemik, atau riwayat stroke.
 Jika AHI atau RDI dikalkulasikan didasari pada kurang dari 2 jam dari rekaman tidur yang berlanjut, jumlah total perekaman kejadian untuk menghitung AHI atau RDI selama uji tidur adalah sedikitnya jumlah kejadian yang dibutuhkan dalam periode 2 jam.
7. Pembagian derajat keparahan:
Key Points:
• Keparahan dari OSA dilakukan dari gejala, fruekuensi obstruksi dan derajat desaturasi.
Keparahan dari OSA dilakukan dengan rating paling berat dari tiga domain yang dipakai: derajat tidur, gangguan respirasi (AHI), dan abnormalitas pertukaran gas (saturasi oksigen rata-rata dan minimal). Hal berikut dapat dipakai sebagai panduan:
• Sleepiness:
– Ringan: Jelaskan rasa kantuk hanya pada saat diperlukan atau ketika sedikit perhatian yang dibutuhkan, dan dapat tidak timbul setiap hari. Rasa kantuk seperti ini menghasilkan hanya sedikit gangguan fusngsi social dan okupasional. Sebagai panduan, hasil dari Epworth Sleepiness Scale dapat kurang dari 12.
– Sedang: menjelaskan rasa kantuk setiap hari yang timbul minimal ketika aktif dan derajat sedang perhatian (mengemudi, menghadiri rapat atau menonton film). Sebagai panduan, hasil dari Epworth Sleepiness Scale dapat berkisar antara 13-17.
– Berat: menjelaskan rasa kantuk pada saat tugas aktif atau tugas yang membutuhkan perhatian yang signifikan. Sebagai contoh termasuk mengemmudi, pembicaraan, makan atau berjalan, dan biasanya rasa kantuk ini menghasilkan gangguan social dan okupasional yang besar. Sebagai panduan, hasil dari Epworth Sleepiness Scale berkisar 18-24.

• Abnormalitas pertukaran gas:
– Ringan: Saturasi oksigen rata-rata tetap lebih besar atau sama dengan 90% dan minimumnya tetap lebih besar atau sama dengan 80%.
– Sedang: Saturasi oksigen rata-rata tetap lebih besar atau sama dengan 90% dan minimumnya tetap lebih besar atau sama dengan 70%
– Berat: Saturasi oksigen rata-rata tetap kurang dari 90% atau saturasi oksigen minimum kurang dari 70%.
• Gangguan Respirasi:
– Ringan: AHI 5-15
– Sedang: AHI 16-30
– Berat: AHI greater than 30
Sesuai dengan keparahan OSA, tidak ada criteria yang sepenuhnya dapat diterima. Kriteria keparahan yang direkomendasikan oleh kelompok kami adalah sebuah opini yang didasarkan pada data yang tersedia. Kami telah melakukan derajat keparahan berdasarkan pada gangguan terburuk dari 3 domain yang ada: rasa kantuk, gangguan respirasi yang diukur dengan AHI, dan pertukaran gas yang diukur dengan saturasi oksigen.
8. Modifikasi Gaya Hidup
Hal berikut ini merupakan modifikasi gaya hidup yang dapat memainkan peranan penting dalam mengurangi keparahan gejala sleep apnea:
• Penurunan Berat Badan
• Mengurangi konsumsi alcohol, terutama sebelum waktu tidur.
• Posisi tubuh lateral selama tidur
• Hygiene tidur yang baik
Kesimpulan

Mendengkur dan Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan penyakit yang disebabkan kolaps dan obstruksi saluran nafas atas yang terjadi saat tidur. Gejala yang ditimbulkan oleh OSA adalah gejala nokturnal (mendengkur, apnea, rasa tercekik yang membuat penderita terbangun, gelisah) dan gejala diurnal (perasaan tidak segar, sakit kepala, kantuk yang berlebihan, kelelahan, iritabilitas, gangguan konsentrasi, dan penurunan daya ingat).

Untuk mengetahui letak sumbatan pada saluran nafas atas dilakukan pemeriksaan endoskopi serat optik pada hidung, nasofaring sampai hipofaring. Penting sekali untuk mengetahui tempat terjadinya sumbatan guna menentukan pilihan terapi bedah atau nonbedah yang tepat sesuai dengan derajat berat ringannya OSA yang diketahui melalui pemeriksaan baku emas polisomnografi.

Pengetahuan mengenai mendengkur dan OSA ini perlu disosialisasikan kepada dokter dan masyarakat awam karena terbukti merupakan penyebab terjadinya penurunan kualitas hidup, meningkatkan risiko terjadinya penyakit hipertensi, jantung koroner, stroke yang menyebabkan kematian mendadak.

Daftar Pustaka
1) Pang KP. Snoring–the Silent Killer. Medical Digest 2005.
2) Engleman HM, Douglas NJ. Sleepiness, cognitive function, and quality of life ini obstructive sleep apnoea/hypopnoea syndrome. Thorax 2004; 59: 618-22.
3) Kapur V, Blough DK, Sandblom RE et al. The medical cost of undiagnosed sleep apnea. Sleep 1999; 22: 749-55.
4) Dincer HE, O’Neill W. Deleterious effects of sleep-disordered breathing on the heart and vascular system. Respiration 2006; 73: 124-30.
5) Kotecha B, Shneerson JM. Treatment options for snoring and sleep apnoea. Journal of The Royal Society of Medicine 2003; 96: 343– 4.
6) Health Care Guideline: Diagnosis and Treatment of Obstructive Sleep Apnea. Institute for Clinical System Improvement. Sixth Edition, June 2008.
7) American Academy of Sleep Medicine Task Force. Sleep-related breathing disorders in adults: recom¬mendations for syndrome definition and measurement techniques in clinical research. The Report of an American Academy of Sleep Medicine Task Force. Sleep 1999;22:667-89. (Class R)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: