Skip navigation


Abstrak

Kami bermaksud untuk membandingkan pencegahan dan efek terapetik ondansetron dengan metoclopramide, dalam insidensi mual dan muntah intraoperatif (IONV/Intra operatif Nausea & Vomiting) selama seksio cesarean (C-Section) dibawah anastesi spinal. Kami melakukan studi control placebo buta ganda, termasuk 150 ASA I-II pada wanita yang masuk dengan anastesia spinal untuk dijadwalkan C-Section. 4 mg ondansentron (n=49), 10 mg metoclopramid (n=48) atau saline (n=50), diberikan IV, tergantung pada kelompok terapi mereka. Kapanpun IONV timbul setelah kita terapi dengan droperidol, jika mereka tidak hilang secara komplet setelah lima menit. Mual dan muntah timbul pada 11,6% total kasus. Gejala ini tidak ada dalam 91,8% di kelompok ondansetron, 91,6% kelompok metoclopramide dan 60% kelompok placebo (P<0,001) untuk kedua kelompok ondansetron dan metoclopramide versus kelompok placebo, tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok yang ditangani secara aktif. Gejala emetic lebih sering setelah mengclamp korda umbilicus (25,9%) dan sebelum dilakukan itu (16,3%) (P<0,05).
Kesimpulan : Studi ini menunjukkan secara signifikan insidensi yang lebih rendah dari IONV dalam kelompok ondansetron dan metoclopramide dibandingkan dengan kelompok placebo, pada wanita yang membutuhkan C-Section dibawah anastesi spinal. Kelompok ondansetron tidak secara statistic berbeda dari kelompok metoclopramide.
Pendahuluan

Anastesia spinal menunjukkan untuk menjadi lebih mudah, cepat dan teknik yang aman untuk C-Section 1. Walaupun demikian, hal ini mempunyai efek samping minor, termasuk IONV pada leboh dari 66% kasus 2,3. Kontraksi diafragma kasar, timbul dalam emesis, adalah tidak nyaman untuk pasien dan dapat menyebabkan penonjolan viscera abdomen, menghasilkan pembedahan lebih sulit dan peningkatan resiko cedera viscera. Jika lambung pasien penuh, aspirasi merupakan resiko tambahan 4. Untuk itu, tampak lebih bijaksana untuk mencegah hal ini selama anastesi spinal pada C-Section.
Ondansetron telah dibuktikan efektif dan obat bertoleransi baik dalam pencegahan dan terapi mual dan muntah post operatif 5. Digunakan dalam prosedur pembedahan ditemani dengan mual dan muntah postoperative yang sering, tampak beralasan 6. Metoclopramide dan droperidol juga seringkali digunakan. Droperidol telah dibuktikan untuk efektif dalam dosis yang rendah, tetapi efek secatif dan hemodinamik membatasi penggunaannya.
Tujuan dari studi kami adalah untuk membandingkan pemberian intravena 4 m ondansetron terhadap 10 mg metoclorpamide atau placebo, diberikan setelah mengclamp korda umbilikusm sebagai pengukuran pencegahan dalam melawan IONV selama anastesi spinal untuk C-Section.
Material Dan Metode

Komite etik local menerima studi ini. Seratus dan limapuluh ASA I-II wanita parturient dijadwalkan untuk melakukan C-Section non emergensi dan tidak ada indikasi untuk anastesia local dimasukkan kedalam studi. Pasien dengan preeclampsia, hipertensi arterial, emesis post operatif, atau puasa untuk sedikitnya 6 jam disingkirkan.
Setiap pasien menerima 500 ml hydroxyethil selulosa sebelum pungsi dural. Anastesi terdiri dari 0,5% hiperabrik bupivacaine (12,5 mg) ditambah dengan 10 µg fentanyl, untuk mencapai tinggi dermatom T4-T5 atas bilateral dari insensibiltas. Oksigen 3L/menit melalui kateter nasal diberikan pada semua pasien. Hipotensi didefinisikan sebagai pengurangen lebih besar dari 20% dari dari tekanan dasar atau jika tekanan sistolik kurang dari 90 mmHg, dan diatasi dengan bolus intravena larutan ringer lactate dan efedrin dalam 10 mg setiap kenaikan. Kompressi aorta cava dihindari dengan menjaga pasien dalam posisi miring kekiri.
Segera setelah clamp kodra umbilikus setiap pasien menerima satu dari tiga obat studi intravena selama lebih dari 2 menit. Randomisasi dilakukan dengan rata-rata jumlah table acak, dalam cara buta ganda. Pasien dalam kelompok I menerima 4 mg ondansteron; mereka dikelompok II, 10 mg metoclopramid, dan mereka di kelompok III, salin normal (plaseboP dari obat antiemetic. Semua larutan obat dilarutkan hingga volume 10 ml dengan salin normal. Droperidol intravena, 0, 625 mg, digunakan jika IONV tidak menghilang secara sempurna setelah diberikan studi obat.
Demografi, obstetric, dan variable pembedahan direkam. Metode statistic termasuk analisis variasi untuk variable quantitative. Chi2 untuk variable kualitatif, dan test student untuk perbaikan data. Tingkat signifikan ditegakkan pada P<0,05.
Hasil

Dari sejumlah 147 pasien, 49 di kelompok ondansetron, 48 di kelompok metoclopramide, dan 50 pada kelompok plasevo (salin). 3 pasien dibutuhkan anastesi umum karena tidak adekuatnya blok spinal dan disingkrikan. Semua pasien yang tetap (n=144) mempunyai tingkat adekuat dari anastesia pembedahan (T5 hingga T3 tingkat sensorik). Kelompon tiga studi ini sama dengan sesuai terhadap variable obstetric dan maternal (table 1), dan management operative (table 2).
Tabel 1. Karakteristik obstetric dan maternal. Data diekspresikan sebagai mean +/- SD, kecuali untuk skor apgar, dimana diekspresikan sebagai kisaran median. Tidak ada perbedaan statistic diantara kelompok.
Kelompok I Ondansetron (n= 49) Kelompok II Metoclopramide (n= 48) Kelompok III Plasebo (n=50)
Umur (tahun) 30 +/- 5 29 +/- 5 27 +/- 8
Berat (Kg) 66 +/- 9 66 +/- 8 67,2 +/- 8
Tinggi (cm) 159 +/- 9 160 +/- 7 161 +/- 7
Umur Gestasional ( minggu) 39,1 +/- 1 38,8 +/- 1 39 +/- 2
Berat bayi (gram) 3280 +/- 54 3373 +/- 47 3310 +/- 50
pH vena bayi 7,3 +/- 0,1 7,26 +/- 0,1 7,29 +/- 0,2
Skor Apgar
Menit 1 9 (7-10) 9 (7-10) 9 (8-10)
Menit 5 10 (9-10) 10 (9-10) 10 (9-10)

Tabel 2. Management Operasi. Data diekspresikan dengan mean +/- SD, pengecualian untuk insisi dan ligasi tuba ddalam beberapa. Tidak ada perbedaan secara statistic diantara ketiga kelompok.
Kelompok I Ondansetron (n= 49) Kelompok II Metoclopramide (n= 48) Kelompok III Plasebo (n=50)
Waktu pembedahan (menit) 58 +/- 22 58 +/- 19 56,5 +/- 18
Hilang Darah (ml) 408 +/- 118 420 +/- 105 425 +/- 130
Kristaloid (ml) 1223 +/- 297 1275 +/- 201 1260 +/- 189
Insisi (n)
Midline Laparotomi 28 31 30
Pfannestiel 21 17 20
Tubal ligasi 8 12 10

Sebagaimana ditunjukkan dalam table 3, total 17 pasien (11,6%) menderita IONV. Terapi ondansetron dan metoclopramid mengalami secara signifikan sedikit episode IONV dibandingkan dengan pasien dengan terapi salin (placebo). Satu pasien di kelompok ondansetron, satu lainnya di kelompok metoclopramide (2% dari total), dan 15 pasien di kelompok placebo (30%) mengalami muntah (P<0,001 kelompok ondansetron dan metoclopramide versus kelompok placebo). IONV lebih sering dalam periode antara clam korda umbilicus pada saat akhir pembedahan (58,8%) dibandingkan sebelumnya dengan ini (41,2%) (P<0,05).
Tabel 3. Distribusi episode intraoperative nausea and vomiting (IONV). Data dalam jumlah dan persentasi. Tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok ondansetron dan metoclopramide.
Kelompok I Ondansetron (n= 49) Kelompok II Metoclopramide (n= 48) Kelompok III Plasebo (n=50)
Pre clamping cord
Tidak ada gejala (%) 46 (93,9) ** 44 (91,7) ** 33 (66)
Hanya mual (%) 2 (4,1)* 4 (8,3) 11 (22)
IONV (%) 1 (2) 0 (0) 6 (12)
Post clamping Cord
Tidak ada gejala (%) 45 (91,8)** 44 (92,7)** 20 (40)
Hanya mual (%) 4 (8,2)** 3 (6,3)** 21 (42)
IONV (%) 0 (0)** 1 (2)** 9 (18)
Droperidol Penyelamatan 1 (2) 1 (2) 4 (8)
40 dari 147 pasien (27,2%) mempunyai hipotensi selama pembedahan dan 11 dari mereka mengalami IONV, dibandingkan dengan 6 kasus (5,7%) pada kelompok normotensive (P<0,001). (Tabel 4)
Tabel 4. Insidensi dan variable terkait dengan anastesia spinal untuk section cesarean. Data diekspresikan sedalam jumlah dan persentase dimana mean +/-SD. *P<0,05 versus kelompok placebo.
Kelompok I Ondansetron (n= 49) Kelompok II Metoclopramide (n= 48) Kelompok III Plasebo (n=50)
Hipotensi (%) 12 (24,5) 15 (31,3) 13 (26)
Gejala Emetik
Tidak ada gejala (%) 8 (16,4) 11 (22,9) 2 (4)
Hanya Mual (%) 3 (6,1) 3 (6,3) 2 (4)
IONV (%) 1 (2)* 1 (2,1)* 9 (18)
Dosis efedrin (mg) 12 +/- 13 11 +/- 13 14 +/- 9

6 dari 17 pasien dengan IONV (35,3%) membutuhkan droperidol sebagai antiemetic penyelamatan. Jumlah rata-rata efedrin yang digunakan adalah sama antara ketiga kelompok.
Tidak ada efek samping ondansetron dan metoclorpramid yang diamati pada setiap studi pasien.
Diskusi

Blokade spinal dipertimbangkan jika prosedir pilihan untuk C-section mendesak di Negara seperti United States, dimana digunakan lebih dari 41% dari kasus di beberapa rumah sakit.8 Efek dari anastesia spinal pada wanita dari periode melahrikan mereka berbeda dari mereka yang diamati pada apsien non obstetric. Distribusi dari obat anastetik pada cerebrospinal fluid (CSF) kurang prediktif dari kelompok sebelumnya, tidak hanya karena peningkatan tekanan canalis spinamis 9, tetapi juga konsekuensi dari perubahan keseimbangan asam basa CSF dan isi protein 11. Lebih dari itu, efek samping, termasuk hipotensi, mual dan muntah, serta hipersensitivitas terhadap opiate intratechal lebih sering 12.
Gejala emesis intraoperatif selama pembedahan abdominal dibawah anastesi regional mempunyai asal multifaktorial dan factor seperti perubahan psikologis (ansietas), hipotensi arterial, hipoperfusi dari system saraf pusat, pergerakan visera, dan pemberian opiate serentak13 dapat memberikan pengaruh terhadap mereka. Sevagai tambahan, adanya predisposisi yang lebih tinggi IONV diantara pasien pada akhir kehamilannya, sebagai konsekuensi peningkatan tekanan intraabdominal dan perubahan hormone. Lussos et al mempercayai bahawa IONV setelah kelahiran terkait dengan manipulasi pembedahan uterus, viscera abdominal, dan peritoneum meskipun dalam keadaan blockade sensori motor yang adekuat 5. Untuk itu, terapi antiemetic dapat secara efektif diberikan kepada kelompok pasien yang dimasukkan untuk prosedur tertentu, tetapi tidak pada kelompok lain uang mengalami prosedur pembedahan berbeda atau teknik anastesi. 14
Pembedahan abdominal dan gangguan fisik dan manipulasi viscera abdominal yang masuk dapat menyebabkan pelepasan substansihormon termasuk 5-HT, dimana dpat menstimulasi reseptor 5-HT3 pada nervus vagus afferent, memicu reflex muntah terutama pada pasien yang sadar. 2. Kami memilih 4 mg ondansetron dalam studi kami karena telah dibuktikan bahwa sama efektifnya dengan dosis tinggi dalam mencegah dan menangani mual munah post operasi dan hal ini tidak menyebabkan efek samping. 15 Pearman et al 16 mendukung bahwa 8 mg ondansetron dapat menjadi lebih efektif daripada 4 mg pada wanita dengan resiko tinggi untuk mmperlihatkan gejala emesis. Bagaimanapun, kami menemukan bahwa 4 mg ondansteron bertoleransi baik dan tidak menghasilkan efek samping.
Pan et al baru baru ini melaporkan bahwa ondansetron sama efektifnya dengan droperidol dalam mencegah mual dan muntah intraoperatif selama C-Section dibawah anastesia epidural.Acupressure, sebuah variant non invasive akupuntur, emrupakan alternative tanpa adanya efek samping. 17 Telah ditemukan bahwa sama efektifnya dengan metoclopramide dalam konteks ini. Borgeat et al 18 melaporkan bahwa efek antiemetic langsung dosis subhipnotik propofol setelah gynaelogical minor, menunjukkan bahwa obat ini tidak mencegah komplikasi emesis pada C-Section elektif dari hipotensi arterial. Lainnya, seperti Carpenter et al 22 melaporkan bahwa hipotensi menimbulkan dua kali peningkaan resiko relative IONV. Dalam studi kami, kedua kondisi ini koeksis pada 11 pasien, 1 dari 12 pasien kelompok ondansetron (8,3%), 1 dari 15 kelompok pasien metoclopramide (6,7%), dan 9 dari 13 pasien di kelopok placebo (69,2%). (P<0,001)
Kami memberikan obat anti emetic setelah clamp korda umbilicus karena efek ondansetron dan metoclopramide pada fetus dan bayi baru lahir tidak diketahui. Kedua, ondansetron dan metoclopramide digunakan untuk hiperemesis gravidarum dan tidak ada efek samping fetus yang diamati. 23 Ondansteron sangat baik ditoleransi tanpa efek samping yang signifikan. Nyeri kepala ringan dan konstipasi dengan dosis yang lebih besar dari ondansetron merupakan hal yang paling sering dilaporkan. 2 Didalam studi kami, tidak ada efek samping ondansetron dan metoclopramide yang diamati, kemungkinan dikarenakan kami menggunakan dosis lebih kecul terhadap laporan sebelumnya dimana ada beberapa keterkaitan dengan efek samping. 2,4, 24
Faktor etiologis mual dan muntah intraoperatif selama anastesia spinal untuk C-section sangat banyak, bahwa studi prospektif yang lebih besar temapk terlihat dibutuhkan untuk menegakkan factor resiko penting, petunjuk pencegahan terbaik, dan efektivitas serta keamanan dari agent antiemetic baru.
Sesuai dengan pengetahuan kami, studi 2 obat yang tidak dibandingkan dalam konteks ini sebelumnya. Kami menunjukkan bahwa pemberian IV dari bolus 4 mg ondansetron atau 10 mg metoclopramide, segera setelah clamp korda umbilicus sama efektifnya dalam pencegahan gejala mual dan muntah intraoperatif pada parturien yang melakukan C-section dibawah anastesi spinal. MEtoclopramide, menjadi lebih lama dan murah dibandingkan dengan ondansetron sebaiknya juga dipertimbangkan sebagai pilihan pertama dalam konteks ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: