Skip navigation


Pendahuluan

Usus besar adalah bagian dari sistim pencernaan (digestive system) dimana materi yang dibuang (sampah) disimpan. Rektum (rectum) adalah ujung dari usus besar dekat dubur (anus). Bersama, mereka membentuk suatu pipa panjang yang berotot yang disebut usus besar. Tumor-tumor usus besar dan rektum adalah pertumbuhan-pertumbuhan yang datangnya dari dinding dalam dari usus besar. Tumor-tumor ramah dari usus besar disebut polip-polip (polyps). Tumor-tumor ganas dari usus besar disebut kanker-kanker. Polip-polip ramah tidak menyerang jaringan yang berdekatan dengannya atau menyebar ke bagian-bagian lain tubuh. Polip-polip ramah dapat diangkat dengan mudah sewaktu colonoscopy dan adalah bukan ancaman nyawa. Jika polip-polip ramah tidak diangkat dari usus besar, mereka dapat menjadi ganas (bersifat kanker) melalui waktu. Kebanyakan dari kanker-kanker usus besar dipercayai telah berkembang dari polip-polip.

Anatomi & Fisiologi

Usus besar atau kolon berbentuk tabung muscular berongga dengan panjang sekitar 1,5m (5 kaki) yang terbentang dari sekum hingga kalnalis ani. Diameter usus besar sudah pasti lebih besar daripada usus kecil, yaitu sekitar 6,5cm (2,5 inci), tetapi semakin dekat anus diameternya semakin kecil.

Usus besar dibagi menjadi sekum, kolon dan rectum. Pada sekum terdapat katup ileosaekal dan appendiks yang melekat pada ujung sekum. Sekum menempati sekitar dua atau tiga inci pertama dari usus besar. Katup ileosaekal mengendalikan aliran kimus dari ileum kedalam saekum dan mencegah terjadinya aliran balik bahan fekal dari usus besar kedalam usus halus. Kolon dibagi lagi menjadi kolon ascenden, kolon transversum dan kolon descenden serta sigmoid. Tempat kolon membentuk kelokan tajam pada abdomen kanan dan kiri atas berturut-turut disebut sebagai fleksura hepatica dan fleksura lienalis. Kolon sigmoid mulai setinggi Krista iliaka dan membentuk lekukan berbentuk huruf S. Lekukan bagian bawah membelok kekiri sewaktu kolon sigmoid bersatu dengan rectum, dan hal ini merupakan alas an anatomis mengapa memosisikan penderita kesisi kiri saat pemberian enema. Pada posisi ini, gaya gravitasi membantu mengalirkan air dari rectum ke fleksura sigmoid. Bagian utama usus besar yang terakhir disebut sebagai rectum dan membentang dai kolon sigmoid hingga anus (muara kebagian luar tubuh). Satu inci terakhir dari rectum disebut sebagai kanalis ani dan dilindungi oleh otot sfingter ani eksternus dan internus. Panjang rectum dan kanalis ani adalah sekitar 15 cm (5,9 inci).

Hampir seluruh usus besar memiliki empat lapisan morfologik seperti yang ditemukan pada bagian usus lain. Namun demikian, ada beberapa gambaran yang khas terdapat pada usus besar saja. Lapisan otot longitudinal usus besar tidak sempurna, tetapi berkumpul dalam tiga pita yang disebut dengan taenia koli,. Taenia bersatu pada sigmoid distal, sehingga rectum mempunyai satu lapisan otot longitudinal yang lengkap. Panjang taenia lebih pendek daripada usus, sehingga usus tertarik dan berkerut membentuk kantung kecil yang disebut dengan haustra. Apendices epiploika adalah kantong-kantong kecil peritoneum yang berisi lemak dan melekat disepanjang taenia. Lapisan mukosa usus besar jauh lebih tebal daripada lapisan mukosa usus halus dan tidak mengandung vili atau rugae. Kripte Lieberkulin (kelenjar intestinal) terletak lebih dalam dan mempunyai lebih banyak sel goblet dibandingkan dengan usus halus.

Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kiri dan belahan kanan berdasarkan pada suplai darah yang diterima. Arteri mesenterika superior memperdarahi bagian kanan (sekum, kolon ascenden, dan dua pertiga proksimal kolon transversum), dan arteria mesenterica inferior mendarahi belahan kiri (sepertiga distal kolon transversum, kolon descenden, kolon sigmoid, dan bagian proksimal rectum). Suplai darah tambahan ke rectum berasal dari arteri hemorrhoidalis media dan inferior yang dicabangkan dari arteri iliaka interna dan aorta abdominalis.

Aliran balik vena dari kolon dan rectum superior adalah melalui vena mesenterica superior, vena mesenterica inferior, dan vena hemorrhoidalis superior (bagian system portal yang mengalirkan darah ke hati). Vena hemorrhoidalis media dan inferior mengalirkan darah ke vena iliaka sehingga merupakan bagian sirkulasi sistemik. Terdapat anastomosis antara bena hemorrhoidalis superior, media dan inferior, sehingga tekanan portal yang meningkat dapat menyebabkan terjadinya aliran balik kedalam vena dan mengakibatkan hemorrhoid.

Persarafan usus besar dilakukan oleh system saraf otonom dengan perkecualian sfingter eksterna yang berada dalam pengendalian voluntary. Serabut parasimpatis berjalan melalui saraf vagus kebagian tengah kolon transversum, dan saraf pelvikus yang berasal dari daerah sacral menyuplai bagian distal. Serabut simpatis meninggalkan medulla spinalis melalui saraf splachnikus. Serabut saraf ini bersinap dalam ganglia seliaka dan aortikorenalis, kemudian serabut pasca ganglionik menuju kolon. Rangsangan simpatis menghambat sekresi dan kontraksi, serta merangsang sfingter rectum. Rangsangan parasimpatis mempunyai efek yang berlawanan.

Usus besar memiliki berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan proses akhir isi usus. Fungsi usus besar yang paling penting adalah absorbs air dan elektrolit, yang sudah hamper selesai dalam kolon dekstra. Kolon sigmoid berfungsi sebagai reservoir yang menampung massa feses yang sudah terdehidrasi hingga berlangsungnya defekasi.

Kolon mengabsorbsi sekitar 800mL air perhari, bandingkan dnegan usus halus yang mengabsorbsi sekitar 8000ml. Namun demikian, kapasitas absorbs usus besar adalah sekitar 1500-2000 ml/hari. Bila jumlah ini dilampaui (misalnya akibat hantaran cairan yang berlebihan dari ileum) akan mengakibatkan diare, Berat akhir feses yang dikeluarkan perhari sekitar 200gr, dan 80 hingga 90% diantaranya adalah air, Sisanya terdiri dari residu makanan yang tidak terabsorbsi, bakteri, sel epitel yang terlepas, dan mineral yang tidak terabsorbsi.

Sejumlah kecil pencernaan dalam usus besar terutama disebabkan oleh bakteri dan bukan oleh kerja enzim. Usus besar menyeksresi mucus alkali yang tidak mengandung enzim. Mukus ini bekerja untuk melumas dan melindungi mukosa.

Bakteri usus besar menyintesis vitamin K dan beberapa vitamin B. Pembusukan oleh bakteri dari sisa protein menjadi asam amino dan zat yang lebih sederhana seperti peptide, indol, skatol, fenol dan asam lemak. Bila asam lemak dan HCl dinetralisasi oleh bikarbonat, akan dihasilkan karbondioksida, oembentukan berbagai gas seperti NH3, CO2, H2, H2S, dan CH4 membantu pembentukan gas (flatus) dalam kolon. Beberapa substansi ini dikeluarkan kedalam feses, sedangkan zat lain diabsorbsi dan diangkut ke hati untuk diubah menjadi senyawa yang kurang toksik dan dieksresikan melalui urine.

Fermentasi bakteri pada sisa karbohidrat juga melepaskan CO2, H2, dan CH4 yang berperan dalam pembentukan flatus dalam kolon. Dalam sehari secara normal dihasilkan 1000ml flatus. Kelebihan gas dapat terjadi pada aerofagia (menelan udara secara berlebihan) dan peningkatan gas dalam lumen usus (biasanya berkaitan dengan jenis makanan yang dimakan). Makanan yang mudah membentuk gas seperti kacang-kacangan mengandung banyak karbohidrat yang tidak dapat dicerna.

Pada umumnya usus besar bergerak secara lambat. Gerakan usus besar yang khas adalah pengadukan haustral, Kantung atau haustra meregang dari waktu ke waktu otot sirkular akan berkontraksi untuk menosongkannya. Gerakan ini tidak berprogresif, tetapi menyebabkan isi usus bergerak bolak balik dan meremas-remas sehingga member cukup waktu terjadinya absorbs. Terdapat dua jenis perilstatik propulsive : (1) kontraksi lambat dan tidak teratur, berasal dari segmen proksimal dan bergerak kedepan, menyumbat beberapa haustra, dan (2) perilstatik massa, merupakan kontraksi yang melibatkan segmen kolon. Gerakan perilstatik ini menggerakkan massa feses ke depan, akhirnya merangsang ddefekasi. Kejadian ini timbul dua sampai tiga kali sehari dan dirangsang oleh reflex gastrokolik setelah makan, terutama setelah makanan yang pertama kali dimakan pada hari itu.

Propulsi feses kedalam rectum menyebabkan terjadinya distensi dinding rectum dan merangsang reflex defekasi. Defekasi dikendalikan oleh sfingter ani eksterna dan interna. Sfingter interna dikendalikan oleh system saraf volunteer. Refleks defekasi terintegrasi pada medulla spinalis segmen sacral kedua dan keempat. Serabut parasimpatis mencapai rectum melalui saraf splachnikus panggul dan menyebabkan terjadinya kontraksi rectum dan relaksasi sfingter interna. Pada waktu rectum yang tergang kontraksi, otot levator ani berelaksasi sehingga menyebabkan sudut dan annulus anorektal menghilang. Otot sfinger interna dan eksterna berelaksasi pada waktu anus tertarik keatas melebih massa feses. Defekasi di percepat dengan tekanan intra abdomen yang meningkat akibat kontraksi volunteer otot dada dengan glottis yang tertutup, dan kontraksi otot abdomen secara terus menerus (maneuver atau peregangan valsava). Defekasi dapat dihambat oleh kontraksi voluntary otot sfingter eksterna dan levator ani. Dinding rectum secara bertahap menjadi relaks, dan keinginan defekasi menghilang.

Rektum dan ans merupakan lokasi sebagian penyakit yang sering ditemukan pada manusia. Penyebab umum konstipasi adalah kegagalan pengosongan rectum saat terjadi perilstatik massa. Bila defekasi tidak sempurna, rectum menjadi relaks dan keinginan defekasi menghilang. Air tetap terus diabsorbsi dari massa feses, sehingga feses menjadi keras, dan menyebabkan lebih sukarnya defekasi selanjutnya. Bila massa feses yang keras ini terkumpul disatu tempat dan tidak dapat dikeluarkan, maka disebut sebagai impaksi feses. Tekanan pada feses yang berlebihan menyebabkan timbulnya kongesti vena hemorrhoidalis interna dan eksterna, dan hal ini merupakan salah satu penyebab hemorrhoid (vena varikosa rectum). Inkontinensia feses dapat disebabkan oleh kerusakan otot sfingter ani atau gangguan medulla spinalis. Daerah anorektal sering merupakan tempat terjadinya abses dan fistula. Kanker kolon dan rectum merupakan saluran gastrointestinal yang sering terjadi.
Neoplasma Usus Besar

Neoplasma kolon dan rectum dapat bersifat jinak atau ganas. Neoplasma jinak sejati (lipoma, tumor karsinoid, dan leiomioma) jarang terjadi pada kolon. Namun polip kolon sangat sering ditemukan dan merupakan peralihan antara neoplasma jinak dan ganas.
Polip Kolon

Polip kolon timbul dari dalam usus besar, yang dikenal sebagai kolon. Polip pada kalon merupakan hal yang sering terjadi, dan insidennya meningkat sebagaimana individu bertambah umurnya. Diperkirakan bahwa 50% orang diatas 60 tahun mempunyai polip yang tumbuh dan berkembang, dan mereka dapat menjadi kanker, dan lebih jauh lagi, kanker kolon merupakan penyebab dua kematian kanker di United States. Untuk itu, screening untuk polip kolon dan memindahkan mereka sebelum mejadi kanker dapat menjadi tanda untuk penurunan insidensi kanker kolon.
Polip merupakan neoplasma yang berasal dari permukaan mukosa dan meluas kearah luar. Terdapat tiga bentuk polip kolon : adenoma pedunkulata, adenoma vilosa dan poliposis familial. Polip yang dapat menjadi kanker disebut dengan polip adenomatous atau adenoma. Adenoma menyebabkan sekitar hampir 75% polip kolon. Ada beberapa subtype dari adenoma yang berbeda secara keseluruhan pada jalan sel polip berkumpul ketika mereka diperiksa di bawah mikroskop. Mereka adalah tubular, villous, atau tubule villous-adenoma. Adenoma villous inilah yang lebih sering menjadi kanker, dan tubular adenomas lebih sedikit.
Faktor lain yang berkontribusi terhadap perkembangan polip menjadi kanker adalah ukurannya. Semakin besar polip tumbuh; akan semakin lebih besar untuk menjadi kanker. Ketika polip mencapai ukuran dua sentimeter atau sekitar 1 inchi dalam ukurannya, resiko kanker melebihi 20%. Untuk itu, dinasihatkan untuk memindahkan polip pada setiap ukuran, terutama ketika mereka masih kecil, untuk mencegah pertumbuhannya dan perkembangannya menjadi kanker.
Adenoma pedunkulata (juga disebut sebagai polip adenomatosa atau adenoma polipoid) berbentuk seperti bola yang dilekatkan ke membrane mukosa oleh tangkai yang tipis. Polip jenis ini menyerang kedua jenis kelamin dan pada semua kelompok usia, walaupun fruekuensinya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya usia. Otopsi dan pemeriksaan sigmoidoskopi menunjukkan bahwa sekitar 9% populasi di atas 45 tahun terserang penyakit ini. Walaupun polip pedunkulata dapat terjadi pada setiap bagian kolon, namun lebih sering terletak pada 25-30 cm (10-12 inci) bagian distal. Polip pedunkulata dapat tunggal atau multiple; biasanya berdiameter 0,5-1 cm (0,2-0,4 inci), tetapi dapat pula berdiameter 4 atau 5 cm (1,6 hingga 2,0 inci). Secara histology, polip ini terdiri atas kelenjar yang berproliferasi. Hubungan antara polp adenomatosa dengan kanker kolon masih diperdebatkan, karena polip adenomatosa mempunyai pola penyebaran yang sama dalam kolon seperti kanker dan sering dikaitkan dengan kanker. Umumnya polip adenomatosa dianggap tidak berbahaya. Akan tetapi, bila polip multiple atau bila diameter kepala lebih besar dari 1 cm, maka kemungkinan ganas menjadi lebih besar.
Bentuk polip pedunkulata lain yang paling sering terjadi pada anak usia kurang dari 10 tahun adalah polip juvenilis. Polip juvenilis seringkali besar, vascular, dan mempunyai pedikel panjang; diduga berasal dari peradangan dan dapat muncul sebagai perdarahan atau prolapsus melalui anus. Polip juvenilis kadang-kadang dapat terjadi pada orang dewasa.
Adenoma vilosa (papiloma vilosa, adenoma sesil), berbeda dengan adenoma pedunkulata, merupakan suatu tumor sesil (tak bertangkai). Dengan mata telanjang permukaannya jelas berbentuk papilar dan tampak sebagai suatu massa nodular. Secara histologis, lesi terdiri atas tonjolan seperti jari (vilosa), biasanya soliter, dan terletak dalam kolon sigmoid atau rectum. Adenoma vilosa umumnya besar (lebih dari 5cm) dan fruekuensinya sekitar seperdelapan dari adenoma pedunkulata. Keganasan jauh lebih sering terjadi pada tumor ini (kemungkinan 25%) dibandingkan pada adenoma pedunkulata.
Poliposis familial merupakan gangguan yang jarang terjadi dan diturunkan secara genetic sebagai sifat dominan autosomal dan dicirikan dengan ratusan polip adenomatosa (baik pedunkulata maupun sesil) dalam jumlah yang sama. Polip tidak dijumpai sewaktu lahir, tetapi biasanya timbul sekitar saat pubertas. Kemungkinan timbulnya kanker meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan hampir 100% terjadi pada usia sekitar 40 tahun.
Gambaran Klinis

Sebagian besar polip adenomatosa bersifat asimptomatik dan ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan sigmoidoskopi, enema barium, atau otopsi. Bila polip menimbulkan gejala, umumnya berupa perdarahan yang nyata atau samar. Kadang-kadang, polip yang besar dapat menimbulkan intususepsi dan menyebabkan obstruksi usus. Diare dan secret mucus dapat dikaitkan dengan adenoma vilosa yang besar dan poliposis familial.
Guideline Screening
Mengetahui bahwa polip kolon dapat tumbuh dan kemudian menjadi kankerr serta mengetahui bagaimana seringnya mereka, petunjuk untuk screening telah dibuat oleh American Cancer Society untuk meminimalisir resiko kkanker kolon dengan mendeteksi dan memindahkan polipnya.
Dimulai pada usia 40, setiap orang harus mempunyai specimen untuk di uji darah samar (darah yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang) setiap tahunnya. Hal ini di rekomendasikan dikarenakan hal ini diketahui ketika polip menjadi besar mereka dapat berdarah kedalam intestinum ketika darah bercampur dengan feses. Maka, tanda peringatan awal untuk polip kolon dapat timbul dengan adanya darah samar pada feses.
Dimulai pada usia 50, setiap orang mempunyai sigmoidoskopy fleksibel setiap 3-5 tahun. Sigmoideskopi merupakan tabung dua dan satu setengah kaki atau inchi dalam diameter dengan terdapat lampu paa ujungnya yang dapat dimasukkan melalui anus untuk memeriksa kedalam kira-kira satu pertiga dari total panjang kolon.
Jika polip adenomatous terdeteksi dengan sigmoidoskopy, kemudian kolonoskipi penuh dengan tabung yang lebih panjnag harus digunakan untuk memeriksa seluruh panjang kolon. Selama kolonoskopi, setiap kalon dapat dipindahkan dan dikirim untuk dilakukan evaluasi melalui mikroskop untuk membedakan apakah ia merupakan polip adenomatous.
Banyak dokter di US merekomendasikan melakukan screening dengan kolonoskopi dibandingkan sogmoidoskopi yang fleksibel untuk subjek yang sehat dengan resiko pertengahan untuk timbulanya kanker. Kolonoskopi di rekomendasikan dimulai paa saat usia 50 tahhun dan setelah setiap 7-10 tahun jika tidak ada polip atau kanker yang ditemukan. Rasionalk untuk rekomendasi ini adalah : 1) pemeriksaan kolonoskopi seluruh kolon sementara sigmoidoskopy fleksibel hanya memeriksa rectum dan kolon yang menyambung pada rectum, 2 sekitar 50% polip kolon (dan kanker kolon) ditemukan di kolon atas (cekum, kolon ascenden, dan kolon transversum) dan, untuk itu, signoidoskopy akan tidak telihat dan dan 3) National Polip Study, studi keilmuan besar, menunjukkan bahwa kolonoskopi dengan pemindahan dari semua pilip mengurahingi kematian dari kolon kanker.
Kolonoskopi

KANKER kolon (usus besar) di Amerika serikat menempati urutan kedua terbanyak pada kanker organ dalam. Setiap tahun ditemukan 165.000 kasus baru, dan 30% merupakan kanker kolorektal (usus besar bagian yang lurus).
Setiap tahun terjadi 60.000 kematian karena kanker kolorektal. Risiko kanker ini meningkat secara drastis setelah usia empat puluh tahun keatas dan mencapai puncaknya pada usia 70 tahun. Median usia terbanyak kanker ini adalah usia 70 tahun.
Berbagai faktor yang dikaitkan dengan meningkatnya risiko kanker ini adalah faktor genetis (keluarga dengan riwayat kanker usus, polip usus, adanya polip usus tanpa riwayat keluarga), lingkungan, konsumsi daging, lemak/kolesterol, alkohol yang berlebihan, perokok, penyakit radang usus dan obesitas. Faktor risiko ini dapat dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium seperti Hb, lekosit, dan lain-lain serta pemeriksaan darah samar pada tinja.
Kolonoskopi, suatu alat yang digunakan untuk memeriksa organ di dalam badan secara visual. Caranya mengintip melalui alat tersebut, sehinga dapat dilihat sejelas-jelasnya setiap kelainan yang ada pada organ yang diperiksa. Alat tersebut bukan hanya sebagai sarana diagnostik saja, melainkan juga dimanfaatkan untuk terapi misalnya untuk mengambil polip.
Laporan penelitian dari Eropa dan Amerika Serikat menunjukkan lebih dari 95% kanker kolon berasal dari polip adematous yang tumbuh secara perlahan-lahan. Dengan kemajuan pesat dibidang kolonoskopi dan barium enema kontras ganda, maka polip kecil (ukuran lebih kecil 5 mm) telah dapat dideteksi. Sudah diketahui polip tertentu mempunyai risiko untuk menjadi ganas di kolon. Faktornya adalah jenis histologi dari polip tersebut (adenoma, vilosa), besarnya polip dan derajat displasinya.
Umpamanya polip adenomatosa dengan ukuran 1-2 cm mempunyai risiko keganasan sebanyak 10%, dan bila ukurannya lebih besar 2 cm, maka risikonya menjadi 46%. Sebaliknya pada papiloma vilosa bila ukuran polip 1-2 cm, risiko keganasan sebanyak 26% dan menjadi 60% bila ukurannya lebih besar 2 cm. Polip dengan ukuran kurang 5 mm belum banyak diketahui, menurut para peneliti luar negeri didapati 49,2% dan polip kecil ini termasuk neoplastik (polip), sehingga mempunyai risiko juga untuk menjadi sutu keganasan di kemudian hari.
Jenis polip ini dapat dideteksi dengan kolonoskopi dan bila ada indikasi dilakukan polipektomi. Bila belum dilakukan polipektomi atau bila ada kontraindikasi perlu dilakukan biopsi untuk menentukan sikap dalam penanggulangan selanjutnya. Bila polip masih kecil tentu belum menyebabkan keluhan dan gejala pada penderita. Pada papiloma vilosa bisa dikeluhkan penderita ketika buang air besar banyak mengeluarkan lendir, dan kadang-kadang bercampur darah.
Pada polip adenomatosa, bila sudah besar dapat mempunyai keluhan kejang perut bagian bawah dan tinja bercampur lendir serta darah. Pada suatu keganasan (karsinoma) keluhan tergantung pada besarnya, lamanya dan staging dari kanker tersebut. Badan dapat menjadi kurus, kejang perut bagian bawah, perubahan kebiasaan buang air besar, mencret dengan tinja berdarah campur lendir, atau sulit untuk buang air besar.
Pada karsinoma di daerah sekum (usus besar bagian pangkal) dan kolon asenden gejala stadium terakhirnya karena lumen kolon relatif besar, tetapi terjadi anemia karena perdarahan samar. Sebaliknya pada kanker di daerah rektosigmoid gejala obstruksi cepat terjadi mengingat lumen sigmoid (bagian usus besar yang berbentuk huruf S) tersebut sempit.
Pemeriksaan Kolonoskopi
Apabila endoskopist telah terbiasa melihat gambaran normal kolon tentu mudah menemukan kelainan di daerah kolon. Tetapi tidaklah selamanya demikian mudahnya memperoleh kesimpulan dari apa yang terlihat. Bila kolonoskop terlalu dekat ke lesi yang diperiksa maka tidak dapat dilihat dengan jelas, sedangkan bila kolonoskop terlalu jauh, kelainan kecil tidak terdeteksi.
Bila ditemukan kelainan yang tidak teratur, maka harus diusahakan melihat dari berbagai jarak. Perlu dibuat beberapa foto dan dibuat satu foto yang memperlihatkan keseluruhan lesi tersebut. Lesi yang terlihat tidak selamanya mudah diinterprestasi secara tepat. Hal ini tergantung/dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti, beratnya penyakit, derajatnya, medikasi, saat dilakukan pemeriksaan dan adanya kelainan ikutan yang lain.
Pada kolonoskopi kelainan yang dilihat dibagi berdasarkan gambaran makroskopik. Bila tidak ada penonjolan atau ulkus, maka pengamatan kolonoskopi ditujukan pada kelainan warna, bentuk permukaan dan gambaran pembuluh darahnya. Bila ditemukan kelainan yang merupakan penonjolan (polipoid) maka diperlukan pemeriksaan histologi. Bila ditemukan gambaran lesi depresif saja maka suatu neoplasma sudah hampir dapat disingkirkan karena lesi neoplastik di kolon selalu menonjol, namun begitu masih perlu biopsi untuk pastinya.
Kolonoskopi dengan polipektomi sebaiknya dilakukan di rumah sakit pada penderita dengan rawat inap. Tetapi di negara-negara maju dilakukan pada penderita rawat jalan saja. Norfleet RG memperoleh hasil pada 594 orang penderita rawat jalan ketika dilakukan kolonoskopi atau polipektomi tanpa ada kematian dan komplikasi yang terjadi sama saja seperti pada tindakan rawat inap.
Tindakan kolonoskopi dan polipektomi ini pada umumnya aman di tangan endoskopis berpengalaman dan hanya dengan komplikasi yang dapat diatasi segera. Juga kolonoskopi ini diperlukan untuk menentukan asal usul perdarahan di daerah kolon. Biasanya polip Adenoma ini mempunyai tangkai dan permukaan licin. Tetapi bila polip makin besar, permukaannya dapat tidak teratur lagi. Perlu dilakukan biopsi.
Tumor dengan ukuran 4 cm masih dapat dilakukan polipektomi dengan kolonoskopi. Multipel polip mempunyai kecenderungan keganasan. Secara kolonoskopi bisa suatu polip diduga masih tumor jinak, tetapi biopsi menunjukkan keganasan. Sehingga perlu dilakukan tindakan operasi. Pada inflamatory polip, bisa didapati polip kecil-kecil yang tidak sama ukurannya, dan didapatkan gambaran peradangan (kolitis ulseratif/radang usus, tbc, Crohn).
Polip vilosa biasanya berbentuk trapesium dan tidak bertangkai. Tumor terlihat terduduk di permukaan kolon, tanpa ada ulserasi atau depresi. Permukaannya mempunyai nodul yang tidak teratur dan sedikit hiperemis. Karena tumor ini mempunyai risiko tinggi menjadi tumor ganas perlu dilakukan tindakan operasi untuk reseksi segmental.
Pengobatan

Pengobatan polip kolon dipengaruhi oleh pertentangan mengenai kemungkinan keganasannya. Kemungkinan keganasan pada poliposis familial tidak diragukan lagi, sehingga diobati dengan proktokolektomi total dan ileostomi permanen atau reseksi sibtotal dengan ileorektal anastomosis. Bila rectum dipertahankan, maka perlu diperiksa secara periodic adanya kemungkinan kanker.
Cara pengobatan adenoma pedunkulata atau adenoma vilosa tidak jelas. Pada umumnya, polip yang berdiameter lebih dari 2cm, multiple, atau vilosa dianggap memiliki derajat keganasan yang tinggi dan sebaiknya diangkat. Polip pedunkulata tunggal berdiameter kurang dari 1 cm jarang menjadi ganas dan dapat diobservasi secara berkala.
Polip dapat dieksisi dari bawah melalui sigmodoskopi atau kolonoskopi. Lesi yang lebih besar dan adenoma vilosa diobati dengan lapartomi dan reseksi segmental.

Daftar Pustaka
1. Wolf, Bruce G. The ASCRS Textbook of Colon and Rectal Surgery. 2007
2. Pedoman Diagnosis Dan Terapi Ilmu Bedah. Fakultas Kedokteran Unair & RSUD dr Soetomo Surabaya. 1994
3. Price, S.A. dan Wilson. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed. 4. Jakarta ; Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1995.
4. Santoro,Michael. Colon Polyps. E- Medicine.net. 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: